OBJEK BARU TERDAFTAR

Informasi

Objek ini baru saja terdaftar pada sistem dan masih dalam proses verifikasi dan kajian untuk menentukan apakah termasuk cagar budaya atau tidak.

  • Fasad Rumah F. Rahmah

  • Lantai dengan ubin teraso motif floral

  • Detil ornamen pada pintu tengah di Rumah F. Rahmah

Rumah F. Rahmah

  • Tanggal Daftar : 12 Januari 2017
  • Kategori : Bangunan
  • Kabupaten/Kota : Kabupaten Gresik
  • Provinsi : Jawa Timur
  • Nama Pemilik : F. Rahmah
  • Nama Pengelola : F. Rahmah
  • Status Objek : Rekomendasi Cagar Budaya, Menunggu Ditetapkan Oleh Penguasa Daerah (Dinas Daerah)

Rumah ini pertama kali dibangun pada tahun 1917. Kampung kemasan berawal dari keberadaan tanah lapang yang penuh dengan semak belukar. Di tengah lokasi tersebut terdapat sungai kecil yang melintas dan bermuara di laut yang berfungsi sebagai pembuangan air kotor dari rumah penduduk di Gresik. Pada tahun 1850 ada orang Tionghoa yang bernama Bak Lie Ong, seorang pengrajin emas, yang membangun rumah di dekat sungai kecil tersebut untuk membuang limbah emas agar langsung mengalir ke laut.
Pengaruh keberadaan pengrajin emas tersebut, kemudian daerah itu disebut Kampung Kemasan. Istilah Kemasan merujuk pada pengrajin emas. Pada tahun 1855, ada seorang saudagar kaya membangun rumah di sekitar rumah Bak Lie-Ong. Daerah tersebut saat itu sudah strategis karena dekat dengan pelabuhan, pusat pemerintahan, dan pasar. Saudagar yang pertama kali membangun rumah tersebut adalah H. Oemar Bin Ahmad, yang semula rumahnya berada di Pejarangan (belakang rumah Gajah Mungkur sekarang). H. Oemar Bin Ahmadadalah pengusaha penyamakan kulit binatang yang melayani ekspor ke berbagai daerah di luar Gresik. Rumah pertama yang dibangun oleh H.Omar Bin Ahmad berada di depan sebuah langgar, yang sekarang beralih fungsi sebagai masjid.
Tahun 1858, H.Oemar Bin Ahmad membangun beberapa rumah untuk anak-anaknya. Pada tahun 1862 dibangun 4 rumah lagi, setelah anak-anak sudah dewasa, usaha ini dialihkan kepada ke-5 dari 7 anaknya. Kemudian anak-anaknya mengembangkan usahanya hingga besar dan mampu membangun pabrik penyamakan kulit. Usaha kulit itu berkembang sekitar tahun 1890-an hingga 1916, sehingga membuat keluarga H. Oemar Bin Ahmad menjadi pengusaha pribumi yang bisa bersaing dengan pengusaha kelas atas etnis Cina dan Arab pada masa kolonial. Rumah F. Rahmah merupakan salah satu rumah yang dibangun oleh keluarga H.Oemar Bin Ahmad.
Bangunan rumah F. Rahmah dipengaruhi gaya arsitektur Cina dan kolonial. Gaya arsitektur Cina ditampakkan pada penempatan pintu yang sejajar menurut fengshui. Gaya kolonial nampak pada penempatan bagian pilaster pintu yang diapit dua jendela.Gaya kolonial juga nampak pada penggunaan bahan bangunan bata merah yang berspesi pasir laut.