Bokor Emas Berelief Cerita Ramayana Koleksi Museum Nasional Nomor Inventaris 8965

  • BOKOR EMAS BERELIEF CERITA RAMAYANA KOLEKSI MUSEUM NASIONAL NOMOR INVENTARIS 8965

NO REGNAS RNCB.20131227.01.000005
SK Penetapan

SK Menteri No250/M/2013

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Benda
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Pusat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Museum Nasional, Direktorat Jenderal Kebudayaan, Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan.

Bokor emas 16 karat ini merupakan sebuah wadah berbentuk oval dengan dinding yang dihiasi dengan 8 (delapan) adegan cerita Ramayana. Relief dibuat dengan teknik tempa repousse, yaitu teknik menempa dari bagian belakang objek sehingga menghasilkan relief menonjol. Bokor ditemukan secara tidak sengaja pada tanggal 17 Oktober 1990 oleh penggali pasir di sawah milik ibu Cipto Suwarno yang berlokasi di Desa Wonoboyo, Kecamatan Jogonalan, Kabupaten Klaten, Provinsi Jawa Tengah. Ketika ditemukan, bokor tersebut tersimpan di dalam guci keramik asal Cina yang berasal dari Dinasti T`ang (abad IX). Selain bokor emas, ditemukan pula temuan lainnya, misalnya tutup wadah emas, gayung emas, nampan emas, gelang emas, dan lainnya dengan total jumlah emas seberat lebih dari 16 kilogram. Pada tanggal 30 April 1991 seluruh temuan asal situs Wonoboyo, termasuk bokor emas berelief Ramayana, diserahkan oleh Direktorat Jenderal Kebudayaan, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan kepada Museum Nasional untuk disimpan sebagai koleksi melalui Berita Acara Serah Terima Benda Cagar Budaya No : 093/F.11/F.91.

Bokor emas mempunyai dinding berlekuk empat dan setiap lekukannya terdapat relief cerita Ramayana, misalnya adegan Rama dan Sinta yang dibuang ke hutan. Bokor ini memiliki ukuran panjang 21 cm, lebar 14,4 cm, tinggi keseluruhan 9,4 cm, tinggi badan bagian dalam 6,3 cm, tinggi kaki 1,6 cm, berat 401,64 gr dengan ketebalan 0,2 cm. Kini bokor emas tersebut menjadi koleksi Museum Nasional dengan nomor inventaris 8965. Meski dalam keadaan yang relatif baik, namun ada beberapa kerusakan, misalnya tepian mulut bokor telah mengalami perenggangan, ada celah memanjang dibawah bokor yang tidak lagi menyatu dengan bokor, bagian dalamnya telah mengalami korosi, dan terdapat 3 lubang halus pada bokor.