Hotel Toegoe

  • HOTEL TOEGOE

  • Hotel Toegoe (1920)

NO REGNAS RNCB.20140115.02.000013
SK Penetapan

SK Menteri No013/M/2014

SK Menteri NoPM.25/PW.007/MKP/2007

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Yogyakarta
Provinsi D.I Yogyakarta
Nama Pemilik H. Probosutedjo
Nama Pengelola H. Probosutedjo

Hotel Toegoe dibangun pada awal abad XX ketika Yogyakarta dipimpin oleh Sultan Hamengku Buwono VII (1877-1921). Pada awalnya Hotel Toegoe bernama NV Grand Hotel de Djogdja lalu diubah menjadi NV Narba tanpa diketahui alasannya secara pasti. Bangunan yang hingga kini masih berdiri kokoh tersebut dalam surat kabar Mooi Jogjakarta diiklankan sebagai hotel terbaik sebagai tempat untuk beristirahat kala itu. Hotel dibangun diatas lahan seluas 6.320 m2 dengan luas bangunan 1.527,63 m2. Hotel Toegoe terdiri dari 1 (satu) bangunan induk yang diapit oleh dua bangunan lain yang lebih kecil di samping kanan kirinya. Bangunan utama memiliki luas 642,68 m2 dan terdiri dari 2 (dua) lantai. Lantai 1 (satu) memiliki ukuran panjang 31,8 m dan lebar 17,50 m. Sedangkan lantai 2 (dua) panjangnya 11,46 m, lebar 7,52 m, dengan tinggi seluruh bangunan yaitu 14,40 m. Sayap utara memiliki luas 553,65 m2 dengan rincian ukuran panjang 63, 42 m, lebar 8,73 m, tinggi bangunan depan 8,00 m, dan tinggi bangunan belakangnya yaitu 6,00 m. Sedangkan sayap selatan memiliki luas 331,30 m2 dengan ukuran panjang 41,31 m, lebar 8,02 m, tinggi bangunan depan 8,20 m, dan bangunan belakangnya memiliki ketinggian 6,90 m.

Bangunan bergaya kolonial ini beratap pelana dengan kemiringan tajam, berdenah persegi panjang yang menghadap ke barat, serta memiliki fasade yang sangat menonjol dan tinggi hingga menutupi atapnya. Fasade bangunan pengapit pada bagian atas memiliki ornamen berupa tiang-tiang pendek berjenjang yang tersusun simetris memuncak di bagian tengahnya. Sedangkan bangunan induk, meski memiliki bentuk fasade yang sama dengan bangunan pengapitnya, tetapi memiliki dua menara disisi kanan dan kiri pada bagian atapnya. Adanya kedua menara inilah yang membedakan bentuk fasade serta atap antara bangunan induk dan pengapitnya. Bangunan Hotel Toegoe mempunyai pintu dan jendela berukuran besar dengan plafon tinggi sehingga pencahayaan dan sirkulasi udara relatif baik. Jendela bagian atas (bouvenlicht) berbentuk lengkung dengan hiasan kaca patri warna-warni. Dinding bagian luar terlihat polos, namun dinding bagian dalam hall dihiasi panil-panil relief dengan motif bunga.

Hotel yang terletak di Jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 2, Yogyakarta, ini menjadi saksi bisu dalam perjuangan Indonesia untuk mencapai kedaulatan bangsa. Pada tahun 1949, Hotel Toegoe dipakai rapat antara Indonesia dengan Committee of Good Offices for Indonesia (Komisi Tiga Negara beranggotakan Australia, Belgia dan Amerika Serikat) untuk melakukan persiapan Konferensi Meja Bundar yang akan dilaksanakan pada tahun yang sama di Den Haag, Belanda. Pada tahun yang sama, Hotel Toegoe juga menjadi salah satu sasaran dalam peristiwa Serangan Umum 1 Maret 1949 karena dipakai sebagai markas tentara Belanda. Hotel yang terkesan terbengkalai tersebut kini dimiliki dan dikelola oleh H. Probosutedjo. Berdasarkan Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007 tentang Penetapan Situs dan Bangunan Tinggalan Sejarah dan Purbakala yang Berlokasi di Wilayah Provinsi Daerah Istimewa Yogyakarta sebagai Benda Cagar Budaya, Situs, atau Kawasan Cagar Budaya yang dilindungi Undang-Undang Republik Indonesia Nomor 5 Tahun 1992, Hotel Toegoe ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya seluas 2395 m2. Namun pada tahun 2004 terjadi pembongkaran bagian belakang bangunan induk dan bangunan di sisi selatan untuk bangunan baru sehingga luasnya menjadi 1.527,63 m2. Hal ini menyebabkan adanya permohonan revisi peraturan terkait luas area Hotel Toegoe yang tercantum dalam surat Direktur Pelestarian Cagar Budaya dan Permuseuman kepada Kepala Biro Hukum dan Organisasi Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan nomor 712/srt/Dir.PCBM/Bud/IV/2013 tgl 1 April 2013 perihal ralat Peraturan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Nomor PM.25/PW.007/MKP/2007.