Hotel Majapahit

  • HOTEL MAJAPAHIT

  • Bagian dalam Hotel Majapahit

NO REGNAS RNCB.20140117.02.000014
SK Penetapan

SK Menteri No021/M/2014

SK Menteri NoPM.23/PW.007/MKP/2007

SK Walikota No188.45/251/402.1.04/1996

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Surabaya
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Central Cipta Murdaya (CCM), dengan alas Hak Guna Bangunan (HGB)
Nama Pengelola Central Cipta Murdaya (CCM)

Pada sekitar tahun 1900 keluarga Sarkies membeli sebuah rumah dengan lahan seluas 1.000 m2. Keluarga Sarkies merupakan keluarga pendiri Hotel Raffles di Singapura, Hotel Strand di Birma, dan hotel The Eastern & Oriental Hotel di Penang. Pembangunan Hotel Majapahit dimulai pada tahun 1910 dan diresmikan pada tanggal 1 Juli 1911. Bangunan hotel yang terletak Jalan Tunjungan Nomor 65 Surabaya ini dirancang oleh Regent Alfred John Bidwell dengan memadukan gaya Art Nouveau dan Art Deco. Pada tahun 1923 dan 1926 dilakukan perluasan bangunan sayap kanan serta kiri. Pada tahun 1936 didirikan bangunan lobi hotel bergaya Art Deco, untuk kepentingan toko, kantor, dan rumah makan. Kini, Hotel Majapahit berdiri diatas tanah seluas 6.377 m2 dengan luas bangunan mencapai 5.000 m2.

Hotel Majapahit terdiri dari bangunan induk (ballroom) yang terletak di tengah dan dikelilingi oleh bangunan lain berbentuk “U “. Bangunan induk tersebut juga dikelilingi taman (inner court) yang luas dan di bagian belakang sisi timur laut terdapat kolam renang. Selain itu, bangunan hotel juga memiliki koridor berbentuk lengkung (arch) yang berfungsi sebagai akses sirkulasi serta penepis air hujan dan sinar matahari langsung. Pada langit-langit dan samping atas bangunan induk terdapat komponen kaca berwarna sebagai jalan masuk sinar matahari (bovenlicht, kaca patri). Pada tahun 1942, ketika Surabaya diduduki oleh Jepang, hotel ini diganti namanya menjadi Yamato Hoteru atau Hotel Yamato. Tiga tahun kemudian, tepatnya pada tahun 1945 , hotel ini digunakan sebagai kamp tahanan sementara untuk wanita dan anak-anak Belanda. Salah satu kejadian bersejarah penting terkait Hotel Majapahit yaitu adanya peristiwa penyobekan bendera yang terjadi pada tanggal 19 September 1945. Pada hari itu terjadi insiden perobekan bendera warna biru pada bendera Kerajaan Belanda (Merah Putih Biru) di tiang bendera yang terdapat pada menara di sudut barat laut Hotel Yamato. Setelah bagian biru dirobek oleh beberapa pemuda Surabaya, maka menyisakan warna merah dan putih yang merupakan bendera Republik Indonesia. Pemicu peristiwa ini yaitu pihak Belanda mengibarkan Bendera Kerajaan Belanda (merah putih biru) secara sepihak. Setelah insiden itu, nama hotel kemudian dirubah menjadi Hotel Merdeka. Peristiwa penting ini diabadikan dengan dibangunnya monumen peristiwa perobekan bendera yang diletakkan di bagian barat laut bagian depan hotel.

Pada tahun 1946, Sarkies bersaudara kembali mengelola hotel dan mengubah namanya menjadi Lucas Martin Sarkies Hotel (LMS). Pada tahun 1969, perusahaan Mantrust HoldingCo. menjadi pemilik baru dan mengganti nama Hotel Merdeka menjadi Hotel Majapahit. Pada tahun 1993, Mandarin Oriental Groups yang bergabung dengan Sekar Groups kemudian membeli dan merenovasinya dengan dana senilai USD 35.000.000. Tiga tahun berikutnya, yaitu pada tahun 1996, dilakukan pemugaran restoran. Nama Hotel Majapahit kemudian diganti menjadi Mandarin Oriental Hotel Majapahit Surabaya sebagai hotel bintang lima dan mendapat penghargaan Architectural Preservation Award. Pada tahun 2006, PT. SEKMAN WISATA mengambil alih hotel dan mengubah namanya menjadi Hotel Majapahit. Pada tahun yang sama hotel ini menerima penghargaan 2006 Best ASEAN Culture Preservation Effort dari The ASEAN Tourism Association. Hotel Majapahit merupakan salah satu hotel tertua di Indonesia yang masih beroperasi hingga saat ini. Hotel yang kini dimiliki oleh Central Cipta Murdaya (CCM) ini merupakan hotel berbintang lima yang terawat dengan baik dan tetap mempertahankan keaslian bangunannya.