Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi

  • Museum Naspro tampak depan

  • Museum Naspro tampak belakang

  • Foto zaman dulu

NO REGNAS RNCB.20131227.02.000008
SK Penetapan

SK Menteri No253/M/2013

SK Menteri No140/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Pusat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Museum Perumusan Naskah Proklamasi

Bangunan utama Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi didirikan pada tahun 1927 oleh Asuransi NILLMIJ dan dirancang oleh J.F.L Blankenberg, seorang arsitek berkebangsaan Belanda. Ketika Perang Pasifik berlangsung, bangunan disewakan kepada Kerajaan Inggris sebagai rumah resmi Konsul Jenderal Kerajaan Inggris di Hindia Belanda hingga Jepang menduduki Indonesia dan mengambil alih bangunan tersebut untuk kemudian digunakan sebagai kediaman Laksamana Muda Tadashi Maeda, Kepala Kantor Penghubung Angkatan Laut Jepang. Gedung dibangun dengan gaya arsitektur Nieuw Bouwen dengan luas bangunan 1.138, 10 m2 dan luas lahan 3.914 m2.

Pada bulan November 1945 – Oktober 1946, gedung ini dijadikan sebagai Markas Tentara Inggris. Pada tanggal 7-14 Oktober 1946 terjadi perundingan antara pemerintah Indonesia dengan pemerintah Belanda dalam rangka mempertahankan dan memperjuangkan kemerdekaan Bangsa Indonesia. Dalam perundingan tersebut, pemerintah Inggris sebagai penengah mengirimkan Lord Killearn sebagai wakilnya, sedangkan pemerintah Belanda mengirimkan Prof. Schermerhorn, dan Indonesia diwakili oleh Sutan Sjahrir.

Setelah Indonesia merdeka, gedung dipakai sebagai kediaman Duta Besar Inggris dari tahun 1961-1981. Gedung ini pada tanggal 28 Desember 1981, digunakan oleh Departemen Pendidikan dan Kebudayaan. Setahun berikutnya, yaitu tahun 1982, digunakan sebagai perkantoran Perpustakaan Nasional. Pada tahun 1984, Menteri Pendidikan dan Kebudayaan kala itu, Prof. Nugroho Notosusanto, menyarankan agar gedung berikut semua bangunan dan halaman di sekitarnya digunakan sebagai museum untuk memperingati proses berdirinya Negara Indonesia. Baru pada tanggal 24 November 1992, Departemen Pendidikan dan Kebudayaan menetapkan kompleks bangunan tersebut sebagai Museum Perumusan Naskah Proklamasi.

Bangunan utama terdiri dari dua lantai dengan atap berbentuk piramid terpancung. Lantai bawah memiliki 4 (empat) ruang utama yaitu ruang pertemuan, ruang perumusan naskah proklamasi, ruang pengesahan naskah proklamasi, serta ruang pengetikkan dan penandatanganan naskah proklamasi. Sedangkan dilantai dua terdiri dari 5 (lima) ruang utama, yaitu ruang kamar tidur Laksamana Muda Tadashi Maeda, ruang kerja pribadi, kamar tidur sekretaris, ruang perkantoran staf rumah tangga dan tempat istirahat, serta kamar tidur pembantu wanita.

Pada tanggal 16 Juni 1998, berdasarkan Ketetapan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan RI Nomor 40/M/1998, gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya. Bangunan yang terletak di Jalan Imam Bonjol Nomor 1, Jakarta Pusat, tersebut dalam keadaan terpelihara dengan baik. Sejak diserahkan untuk dijadikan monumen sejarah Indonesia tahun 1980, bangunan utama Gedung Museum Perumusan Naskah Proklamasi tidak mengalami renovasi sama sekali dan hanya dilakukan perawatan berupa pengecatan serta pembersihan bangunan secara berkala.