Gereja Sion Jakarta

  • Tampak depan pintu masuk Gereja Sion Jakarta saat ini

  • Litografi Gereja Sion (1883-1889)

  • Interior Gereja Sion (1881-1889)

  • Gereja Sion dipandang dari lokasi yang kini digunakan sebagai rel langsiran kereta api kota

NO REGNAS RNCB.19880227.02.000625
SK Penetapan

SK Menteri No0128/M/1988

SK Gubernur No475 tahun 1993

SK Menteri No193/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Barat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat
Nama Pengelola Gereja Protestan Indonesia Bagian Barat Jemaat Sion

Situs Cagar Budaya Gereja Sion Jakarta menghadap ke utara dikelilingi pagar tembok, tetapi pada sisi timur sudah dibongkar karena pelebaran jalan. Gereja ini terdiri atas bangunan induk dan bangunan tambahan. Bangunan induk berbentuk empat persegi panjang. Bangunan gereja ini mempunyai interior bergaya Baroqque dan pada dasarnya Gereja ini memiliki ciri arsitektur Romanesque, serta didirikan dengan menggunakan 10.000 tonggak kayu Ewout verhagen dari Belanda dengan arsitek H. Bruyn. Gaya arsitektur ini banyak dipengaruhi arsitektur Romawi kuno. Gereja Sion ini terbagi dalam ruang ibadat, balkon, mimbar, dan kantor gereja.
1. Ruang Ibadat
Ciri khas gaya Romanesque yang terlihat dalam bangunan Gereja Sion adalah busur lengkung di pintu masuk gereja. Busur lengkung sendiri adalah pertemuan antara dua pilar yang membentuk busur setengah lingkaran.
Seperti bangunan gaya Romanesque, gereja ini tampak sangat besar dan kokoh, dengan dinding yang sangat tebal dan padat untuk memperkuat struktur. Dinding Gereja Sion sendiri menggunakan bahan dasar dari batu bata tebal. Tujuannya untuk mengurangi hawa panas di dalam ruangan. Gereja Sion terdiri atas dua bangunan yang saling berdekatan atau menyatu, yaitu bangunan utama (ruang ibadah) dan bangunan konsistori.
Ukuran bangunan induk dengan panjang 32,2 m, lebar 24,4 m, dan tinggi 20,15 m. Ukuran bangunan tambahan dengan panjang 16,6 m, lebar 6,6 m, dan tinggi 9,2 m. Bangunan tambahan mempunyai pintu berukuran lebar 2,6 m , tinggi m dan jendela sebanyak 7 jendela. Lantai ubin berukuran 0,5 x 0,5 m, terbuat dari tegel berwarna merah.
Atap Gereja Sion berbentuk trapesium. Langit-langit gereja berbentuk setengah lingkaran yang berjumlah tiga, terpasang berderet dengan jarak yang rapat. Sementara itu atap bangunan konsistori (ruang mahkamah gerejawi) gereja berbentuk segi empat.
Terdapat dua pintu masuk Gereja Sion, di sebelah utara dan barat dengan ukuran lebar 2,6 m. Ambang pintu berbentuk setengah lingkaran dan tingginya 3,2 m. Daun pintu terbuat terbuat dari papan kayu setebal 5 cm. Pintu masuk di sebelah utara masih merupakan pintu asli, sedangkan pintu masuk sebelah barat merupakan pintu tambahan. Bagian dalam gereja dilengkapi dengan jendela kaca sebanyak 15 jendela yang berukuran lebar 2,6 m, tinggi 5 m, dan ambangnya berbentuk setengah lingkaran. Jendela ini terbuat dari panil-panil kaca patri sehingga siang hari tampak terang.
2. Balkon
Balkon Gereja Sion berbentuk segi empat dan diukir ornamen bergaya Baroque (Barok). Bahan yang digunakan untuk membuat balkon ini adalah kayu jati, yang kemudian dicat warna cokelat muda. Balkon gereja diselaraskan dengan bentuk ruang ibadat sehingga tidak menimbulkan kekacauan bentuk dan pandangan jemaat yang hadir. Bentuk asli balkon gereja sebenarnya dirancang untuk memanjang dari tembok sisi timur sampai ke sisi barat. Namun, saat orgel hendak dipasang, balkon asli tersebut dirancang ulang cukup untuk ditempati oleh alat musik itu saja.
Balkon Gereja Sion diperkecil pada tahun 1920, bersama dengan atap gedung. Balkon bergaya Baroque yang dipagari ini disanggah oleh enam tiang bulat gaya Ionique (Ionik). Dinding balkon juga dihiasi 130 pilar kecil yang berbentuk serupa. Pilar-pilar ini terbuat dari kayu jati dan berwarna cokelat tua.
3. Mimbar
Situs Cagar Budaya Gereja Sion Jakarta masih memiliki sejumlah perangkat benda-benda kuno, diantaranya mimbar bergaya Barok yang mirip dengan Katedral Gereja Katolik. Mimbar gereja ini berbentuk segi delapan.
Pada mulanya, saat diresmikan pada tanggal 23 Oktober 1695, mimbar asli Gereja Sion lebih sederhana bentuknya. Mimbar ini bergaya langgam Baroque dan diletakkan bersamaan dengan bangunan tambahan di bagian belakang. Bentuk dasar mimbar mirip cawan dan dibuat dari kayu jati bewarna cokelat tua dengan ukuran besar dan tinggi.
Mimbar antik ini dipersembahkan oleh H. Bruyn dengan tudung kanopi dan bertopang dua tiang bergaya Ionic. Sedangkan mimbarnya ditopang dengan enam sosok kepala malaikat bersayap dengan warna mirip kulit manusia, untuk mendekati aslinya. Mimbar ini maupun tangganya dihiasi dengan ukiran ornamen berbentuk sulur-sulur daun yang dicat warna emas.
Pada dinding kiri mimbar terdapat meja persembahan, meja bejana sakramen, dan dua bangku antik berbentuk setengah lingkaran dengan gaya baroque (bangku ini terletak di sebelah kiri dan kanan mimbar). Dua bangku antik lainnya yang lebih panjang berbentuk kotak, juga terletak di sebelah kiri dan kanan mimbar.
Di sisi kanan, menghadap altar, berderet kursi besar berukir buatan pertengahan abad ke-17 yang dibuat khusus bagi para petinggi VOC. Terdapat juga bangku pejabat pemerintah berbentu segi empat dan bangku untuk pengawas berbentuk setengah lingkaran.
4. Orgel
Pada balkon dalam gereja terdapat organ seruling (orgel) buatan tahun 1860 setinggi 2,5 meter dan dihiasi ornamen-ornamen berbentuk malaikat. Orgel ini di sumbangkan pada tahun 1782 oleh putri dari John Maurits Mohr, seorang pendeta Belanda-Jerman yang kaya raya. Untuk memainkan organ ini diperlukan sedikitnya dua orang. Seorang memainkan tuts dan seorang lagi memompa udara pembunyi organ ini. Orgel ini sekarang hanya digunakan sekali dalam sebulan dan tidak membutuhkan tenaga manusia lagi melainkan sudah menggunakan tenaga listrik.
5. Serambi
Serambi gereja ditopang oleh enam pilar berukir berwarna emas. Dalam serambi terdapat kursi khotbah berkaki tunggal, organ dari abad XVII yang merupakan hadiah dari putra seorang pendeta bangsa Portugis. Bangku-bangku dengan lukisan perak dibuat tahun 1695. Lantai bangunan ditutup oleh tegel sedangkan altarnya memakai tegel berwarna putih.
Pada halaman depan sebelah utara gereja terdapat lonceng dari bahan besi tuangan. Lonceng ini dibuat tahun 1675. Pada mulanya, lonceng itu digantung di sebuah menara yang terbuat dari kayu jati, namun karena tidak tahan terhadap terik matahari dan hujan, sekitar abad XVII menara tersebut hancur. Pada zaman Daendels, lonceng tersebut sempat digantung di tembok di sebelah kanan pintu gereja sekarang, sebelum kemudian berada di samping kiri hingga saat ini. Sedangkan di sebelah barat terdapat beberapa makam, diantaranya makam Gubernur Jenderal Henric Zwaardcroon (1728) dan Regel Titise (seorang ibu rumah tangga) dari golongan Mardijkers.

6. Makam
Di Eropa antara abad pertengah hingga pecahnya revolusi Perancis, merupakan hal yang lazim apabila umat kristiani yang meninggal dimakamkan di dalam altar gereja. Pemakaman di dalam dan di sekitar gereja berlangsung sampai akhir abad 18. Hanya orang-orang penting, misalnya pejabat-pejabat pemerintahan, dan orang-orang terpandang yang boleh dimakamkan di dalam gereja. Di dalam gereja pun orang dibedakan statusnya, misalnya untuk seseorang yang banyak jasanya atau perannya pada gereja semasa hidupnya maka ia dimakamkan dekat mimbar tempat pendeta berkhotbah.
Di Gereja Sion terdapat sebuah pemakaman bertembok, di mana batu-batu nisan besar khas zaman Belanda yang terbuat dari tembaga berhias khas Coromandel di selatan India. Salah satu makam yang terindah merupakan makam pasangan suami-istri mardijkers dari Bengali di dalam pemakaman tersebut, yaitu Ragel Tities (meninggal 1701) dan Titis Anthonijse (meninggal 1720). Yang menarik, pasangan Ragel Tities dan Titis Anthonijse bukan hanya memiliki batu nisan yang serupa dengan batu nisan miliki Gubernur Jenderal Hendrick Zwaardecroon (meninggal 1728), tetapi juga dimakamkan lebih dekat pintu gereja. Padahal, makam Zwaardecroon sendiri terletak jauh dari pintu gereja. Hal ini dikarenakan bahwa pasangan Mardijkers tersebut selama hidupnya banyak memberikan sumbangan kepada gereja. Di dalam gereja masih terdapat batu nisan dari dua orang yang mewakafkan tanahnya untuk pembangunan gereja ini, yaitu Carel Reniersz dan istrinya Judith Barra van Amstel.
Selain Mardijkers, ada banyak pegawai VOC dengan jabatan yang rendah dimakamkan di sekitar Gereja Sion. Pada awalnya seluruh kompleks gereja tersebut merupakan area pemakaman dan lahannya lebih luas daripada Gereja Sion sekarang. Akan tetapi pada akhir abad ke-18, dipengaruhi dari aliran Pencerahan (Aufklärung), masyarakat sudah mulai sadar tentang kesehatan. Pemakaman di dalam gereja dianggap kurang baik pengaruhnya bagi kesehatan jemaat. Pada tahun 1795, pemerintah Perancis mengeluarkan pengumuman pelarangan bagi umat kristiani memakamkan jenazah di dalam atau sekitar gereja. Jenazah harus dimakamkan di Tempat Pemakaman Umum (TPU). Pengumuman ini berlaku untuk seluruh Perancis dan wilayah jajahannya, termasuk Republik Bataaf yang menggantikan monarki Belanda. Hal ini berlaku pula di Jawa ketika Herman Willem Daendels memerintah sebagai Gubernur Jenderal (1808-1811).
Kini, di Gereja Sion hanya tersisa 11 makam kuno yang berada di pintu barat gereja. Kesebelas nisan makam ini dipasang secar mendatar. Makam-makam lainnya di Gereja Sion telah dipindahkan ke Museum Taman Prasasti yang dahulu disebut Kerkhof Laan.