Pasar Johar Semarang

  • Pasar Johar Semarang

NO REGNAS RNCB.20100108.02.000305
SK Penetapan

SK Menteri NoPM.03/PW.007/MKP/2010

SK Walikota No646/50/1992

Peringkat Cagar Budaya
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Semarang
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Pemerintah Kota Semarang
Nama Pengelola Dinas Pasar Kota Semarang

Pendirian Pasar Johar di Gemeente ( Kotapraja ) Semarang pada dasarnya merupakan salah satu cara dari pemerintah kota untuk memenuhi ketentuan Wes Houdende Decentralitatie in Nedderlandsch Indie ( desentralisasi )yang dikeluarkan parlemen Belanda pada 23 juli 1903.Undang-Undang ini ditetapkan setelah perdebatan yang cukup panjang di parlemen Belanda sejak tahun 1880. Inti Undang-Undang desentralisasi ini adalah pemberian kewenangan pada tiap daerah untuk mengatur dirinya sendiri. Hal ini terjadi karena Regeringsreglement 1854 mengisyaratkan kepemimpinan mutlak untuk daerah koloni berada di tangan raja yang diwakili oleh gubernur jendral.

Penetapan decentralitie wet 1903 tidak mudah begitu saja untuk dilaksanakan. Undang-undang ini menuntut tiap daerah untuk memenuhi terlebih dahulu npersyaratan-persyaratan yang ada.Salah satunya adalah penyusunan dan pengelolaan anggaran secara rasional yang berasal dari keuangan daerah itu sendiri ( Wignjosoebroto,2004;vi,15). Lebih lanjut Wignjosoebroto (2004:41-42) mengungkapkan pelaksanaan Decentralitatie wet 1903 juga memperhatikan kritisi humanisme.Suara ini di parlemen Belanda sendiri berasal dari Anti Revolutionarie Partij dan Social Democratische Arbeid Partij serta tokoh-tokoh dari luar parlemen, yaitu Conrad Theodore van Deventer dan Pieter Broost-hooft. Kritisi inilah yang kemudian dikenal dengan garis politik etik. Walaupun lantang disuarakan tetapi tidak pernah ditetapkan secara resmi. Ini kritisi ini adalah peningkatan kesejahteraan ekonomi dan sosial masyarakat pribumi sesuai car barat yang dilakukan melalui pembimbingan pemerintah ( kebijakan voogdif ).

Latar belakang itulah yang mewarnai isi pidato H.E. B0issevain pada peresmian Pasar Johar 10 juni 1939 (lihat Local Belangen 26e jaargang 16 juli 1939, hal. 217).Boissevain menjelaskan perancangan pasar ini adalah wujud kepedulian terhadap lingkungan bina yang ideal dan pemenuhan kesejahteraan pedagang kecil Terkait lingkungan bina yang ideal, Boissevain m menjelaskan kehadiran Pasar Johar karya Karsten ini membuka kembali tata ruang tradisi jawa, yaitu aloon-aloon, dari ketidak aturan kegiatan pasar temporal. Boissevain juga mengungkap tertatanya ruang kawasan melalui kehadiran Pasar Johar akan menjadi model bagi kegiatan serupa di wilayah lain.

Terkait kepedulian terhadap kesejahteraan pedagang kecil (terutama masyarakat pribumi), sebagai tempat yang mewadai aktivitas pedagang tradisional ketimbang langgam estetika. Sisi utilitas yang dimaksud Boissevain antara lain tercerap pada :
- penggunaan material yang awet dengan sistem struktur yang m ampu memebentangi ruang yang lapang
- tata ruang dua lantai yang lapang sehingga :
* memudahkan pedagang memamerkan barang dagangannya,
* memudahkan pedagang berkomunikasi dan diorganisasi untuk menentukan satuan harga, dan
* memudahkan pemantauan kebersihan ruang perdagangan.
_ tritisan atap yang panjang sehingga mampu menanggulangi panas dan hujan. Pada bagian ini Boissevain menjelaskan kegunaannya untuk melindungi komoditas yang mudah busuk.

Terkait Pasar Johar yang menjadi proyek percontohan, Boissevain mengatakan adalah keinginan Gemeente Semarang untuk menaikkan taraf kesejahteraan pedagang kecil. Letak Pasar Johar yang berada di pusat kota merupakan kesempatan bagi pedagang kecil untuk ikut serta dalam kegiatan arus perdagangan utama.