Borobudur

  • BOROBUDUR

NO REGNAS RNCB.20150710.05.000029
SK Penetapan

SK Menteri No286/M/2014

SK Menteri No173/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Magelang
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Konservasi Borobudur, PT Taman WIsata Candi Borobudur, Pemkab Magelang

Satuan Ruang Geografis Borobudur terbentang seluas 8.123 Ha yang meliputi 2 provinsi, yaitu Jawa Tengah dan Yogyakarta. Kabupaten di kedua provinsi tersebut yang termasuk ke dalam kawasan ini adalah Kabupaten Magelang yang terletak di Provinsi Jawa Tengah serta Kabupaten Kulon Progo yang termasuk wilayah Provinsi Yogyakarta. Satuan Ruang Geografis Borobudur merupakan peninggalan kebudayaan Masa Hindu-Buddha di Indonesia, khususnya pada zaman Kerajaan Mataram Kuno yang berlangsung dari Abad VIII-X. Secara umum, tinggalan arkeologis pada kawasan ini dapat dikelompokkan menjadi benda cagar budaya, struktur candi, bangunan candi, bangunan kolonial, lokasi atau situs cagar budaya. Selain Candi Borobudur, beberapa tinggalan yang ditemukan di dalam kawasan tersebut yaitu Candi Pawon, Candi Mendut, Candi Ngawen, Candi Samberan, Yoni Brongsongan, dan lainnya. Pada tahun 1914 penelitian menyeluruh mengenai Candi Borobudur dan situs lain yang terdapat di sekitarnya baru dilakukan dan hasilnya dilaporkan dalam buku Rapporten van den Oudheidkundige Dienst in Nederlandsch Indie (ROD). Dalam laporan itu disebutkan bahwa ada beberapa Candi Hindu dan Buddha di sekitar Candi Borobudur.

Pembangunan Candi Borobudur diduga didirikan secara bertahap oleh tenaga kerja sukarela yang bergotong royong demi kebaktian ajaran agama pada masa pemerintahan Dinasti Sailendra. Candi Borobudur dinilai sebagai puncak perkembangan agama Buddha di wilayah tersebut. Hal ini dapat dilihat dari pahatan relief, susunan patung maupun arca Buddha yang menunjukkan agama tersebut telah mencapai taraf kompleks sebagai wahana besar (mahayana) yang banyak dianut oleh masyarakat. Tafsiran lain menyebutkan bahwa Candi Borobudur bukanlah semata-mata berlatar agama Buddha, tetapi dipengaruhi pula oleh konsep pemujaan leluhur yang diwujudkan dalam bentuk bangunan berteras sebagaimana bentuk punden berundak. Berbagai persepsi “sejarah” itu telah mencetuskan keragaman fungsi Borobudur, mulai dari fungsinya sebagai monumen untuk memuliakan leluhur para pendiri kerajaan Syailendra, sebagai gambaran gunung kosmis, sebagai mandala, sebagai tuntutan mencapai ke-buddha-an (dasa bodhisatwabhumi), dan sebagai stupa besar.

Hingga saat ini belum diketahui pasti alasan mengapa candi-candi di Satuan Ruang Geografis Borobudur ditinggalkan. Dugaan sementara yang dikemukakan sejumlah ahli adalah bencana meletusnya Gunung Merapi pada tahun 1006. Namun berdasarkan hasil penelitian geologi, vulkanologi, dan arkeologi, pendapat itu belum dapat membuktikan perihal letusan tersebut. Meski ada pendapat bahwa Candi Borobudur telah ditinggalkan, namun temuan berupa keramik dan mata uang yang berasal dari abad XV M masih ditemukan di area tersebut. Selain itu, Slamet Muljana dalam salah satu bukunya mengemukakan bahwa Nagarakertagama yang ditulis oleh Kawi Prapanca masih menyebutkan daerah bernama ‘Budur’ sebagai salah satu tempat agama Buddha Bajradara yang telah berprasasti. Dengan demikian, kemungkinan besar Candi Borobudur masih digunakan hingga abad XV meski sudah tidak banyak lagi pemeluknya. Pada abad XVIII, baru dapat dipastikan bahwa candi tersebut sudah tidak digunakan lagi. Beberapa naskah Jawa, misalnya Serat Centhini, menyebutkan bahwa lokasi candi ini merupakan tempat yang dapat membawa kematian atau kesialan. Hal ini berarti bahwa Borobudur sudah ditinggalkan sebagai tempat suci agama Buddha. Hingga pertengahan abad XIX, kepedulian terhadap Candi Borobudur umumnya berasal dari kalangan amatir. Perhatian terhadap candi tersebut baru terlihat ketika Sir Thomas Stanford Raffles menjabat sebagai Letnan Gubernur Inggris di Hindia Belanda. Pada tahun 1814 ia memerintahkan pembersihan kembali Candi Borobudur yang saat itu telah tertutup tanah, semak belukar, dan pepohonan.

Tahun 1849 Pemerintah Hindia Belanda menugaskan Wilsen untuk menggambar arsitektur dan relief candi ini secara akurat. Pemerintah kala itu juga menunjuk Brumund untuk menulis narasi tentang Candi Borobudur. Brumund mengundurkan diri dari proyek tersebut setelah karya Wilsen diterbitkan tanpa melibatkan narasi yang telah ia buat. Beberapa tahun kemudian, bahan lukisan Wilsen dan tulisan Brumund disusun kembali oleh C. Leemans menjadi monografi pertama tentang Candi Borobudur. Sejak itu, candi ini mendapat perhatian lebih luas, baik sebagai monumen Buddha maupun karya arsitektur yang artistik. Lebih dari dua dasawarsa candi ini tidak terawat. Vegetasi yang tumbuh dengan cepat serta hujan lebat menyebabkan longgarnya ikatan antar batu. Akibatnya tanah yang ada di balik dinding candi menggelembung. Pada tahun 1873 Van Kinsbergen, seorang fotografer handal, diundang untuk mendokumentasikan kembali Candi Borobudur. Guna keperluan tersebut, pekerjaan pembersihan harus dilakukan di atas candi sebelum menentukan titik pandang untuk pemotretan.

Melihat kondisi bangunan yang semakin rawan runtuh, pada tahun 1882 diajukan usulan kepada Pemerintah Hindia Belanda agar membongkar dan memindahkan Candi Borobudur ke museum. Usul tersebut tidak diterima dan sebagai gantinya pemerintah menunjuk Groeneveldt untuk menyelidiki seluruh situs dan menilai kondisi aktualnya. Setelah dilakukan pengamatan, Groeneveldt menyimpulkan bahwa tidak ada kekhawatiran terhadap kerusakan bangunannya. Pemerintah kemudian membuat rencana untuk mengambil langkah-langkah pencegahan kerusakan lebih lanjut. Pada tahun 1885 Candi Borobudur kembali menarik perhatian ketika I.W Ijzerman, ketua masyarakat arkeologi di Yogyakarta, menemukan kaki candi yang tersembunyi. Kaki candi paling bawah ini memuat serangkaian relief yang dikenal sebagai Karmawibhangga, yaitu contoh-contoh hukum karma. Tahun 1890-1891, Ijzerman yang dibantu Kasijan Chepas (fotografer pribumi pertama di Indonesia) merekam relief Karmawibhangga dalam foto. Setelah selesai didokumentasikan kaki candi tersebut ditutup kembali dengan batu-batu asli. Penemuan Ijzerman ini membuat Pemerintah Hindia Belanda lebih serius dalam menjaga Candi Borobudur. Untuk itu dibentuk Komisi Tiga pada tahun 1900 yang terdiri atas J.L.A. Brandes, seorang sejarawan seni ternama sebagai ketua, dengan anggotanya Ir. Th. Van Erp, seorang insinyur perwira militer, dan Van de Kamer, insinyur konstruksi dari Departemen Pekerjaan Umum.

Pada tahun 1904, Brandes meninggal dunia dan setahun berikutnya Pemerintah Hindia Belanda sepakat untuk memberikan 48.000 gulden guna memugar Candi Borobudur. Masalah teknis pemugaran yang dilakukan sejak tahun 1907 hingga 1911 diserahkan sepenuhnya kepada Van Erp. Pada tahun 1929 Pemerintah Hindia Belanda kembali membentuk tim untuk mengidentifikasi sebab-sebab kerusakan Candi Borobudur, misalnya mengenai korosi (kualitas material bangunan asli candi), perembesan air, pertumbuhan jamur, pelapukan alam, kekuatan mekanik, dan tekanan. Kondisi krisis ekonomi global pada tahun 1930-an menyebabkan kajian tersebut tidak dapat ditindaklanjuti. Ketika masa Pendudukan Jepang (1943 – 1945), tentara dari Negeri Sakura tersebut membongkar bagian sudut tenggara kaki Candi Borobudur sehingga sebagian relief Karmawibhangga terbuka. Kerusakan yang ditimbulkan akibat pembongkaran itu menyebabkan kondisi candi tidak dapat dikembalikan secara lengkap seperti semula. Karena itu, sudut tenggara kaki candi hingga kini tidak ditutup kembali. Bagian batu penutupnya disusun tidak jauh dari sudut tenggara candi. Setelah Proklamasi Kemerdekaan Indonesia tahun 1945, tidak banyak upaya yang dilakukan oleh pemerintah. Namun, di tengah-tengah gejolak revolusi fisik tahun 1948, Pemerintah RI telah mengundang dua orang ahli purbakala dari India untuk menelaah masalah kerusakan yang dialami candi ini. Pada tahun 1955 Pemerintah Indonesia mengajukan permintaan kepada UNESCO agar lembaga tersebut membantu menangani masalah Candi Borobudur. Prof. Dr. P. Coremans, tenaga ahli yang didatangkan UNESCO yang merupakan kepala Laboratoire Central des Musees de Belgique, mendiagnosis bahwa Candi Borobudur menderita penyakit “kanker batu” yang jika dibiarkan akan menghancurkan batu-batunya secara perlahan tetapi pasti. Guna menyelesaikan masalah tersebut, Pemerintah Belgia menyediakan beasiswa bagi tenaga kerja Indonesia untuk belajar arkeologi kimia selama dua tahun. Pada tahun 1960, Borobudur dinyatakan dalam keadaan darurat dan UNESCO dilibatkan lebih aktif dalam upaya pelestarian ini. Pada tahun 1971 dilakukan upaya penyelamatan Candi Borobudur secara besar-besaran. Sejak ditandatangani persetujuan bantuan oleh UNESCO, candi ini menjadi objek berbagai kegiatan pemugaran mulai dari pengorganisasiannya, penyediaan sumber daya manusianya, pembongkaran candi, sampai ke pembangunan kembali.

Tanggal 23 Februari 1983, Candi Borobudur dinyatakan selesai dipugar dan pembukaannya dilakukan oleh Presiden Soeharto. Selain berhasil dipugar, berdasarkan perencanaan yang disusun oleh Japan International Cooperation Agency (JICA) kawasan di sekitar Candi Borobudur dibagi menjadi 5 zona pelestarian. Pada tahun 1991 Candi Borobudur bersama-sama dengan Candi Pawon dan Candi Mendut ditetapkan UNESCO sebagai Warisan Budaya Dunia yang diberi nama Borobudur Temple Compounds. Pada tahun 2008 kawasan Candi Borobudur dinyatakan sebagai Kawasan Strategis Nasional diikuti dengan peninjauan dan penataan kembali zonasi kawasan tersebut sehingga seperti sekarang. Satuan Ruang Geografis Borobudur saat ini, terutama peninggalan struktur Candi Borobudur, Candi Mendut, Candi Pawon, serta temuan lepas yang berada di dalam lingkungan ketiga candi tersebut, dalam keadaan kondisi baik dan terawat. Meski demikian, banyak temuan lain diluar area itu dalam kondisi tidak terawat dan dimiliki oleh masyarakat. Masalah besar yang dihadapi kawasan ini misalnya adalah meningkatnya jumlah wisatawan. Kawasan ini juga terdesak oleh perubahan tata guna lahan, yaitu dari sawah atau tanah produktif menjadi daerah pemukiman, yang merupakan ancaman terhadap ekosistem alami. Pertumbuhan bangunan dikarenakan beralihnya mata pencaharian penduduk dari pertanian ke sektor barang dan/atau jasa juga mempengaruhi kuantitas bangunan yang dapat mengancam keberadaan zonasi yang dimaksudkan untuk tujuan pelestarian. Selain itu, banyaknya menara Base Transceiver Station (BTS) yang dapat merusak integritas visual lansekap Satuan Ruang Geografis Borobudur juga ikut memperparah kondisi. Saat ini tercatat ada 17 menara BTS yang berada di zona III, IV, dan V. Hal-hal tersebut merupakan beberapa contoh masalah yang perlu tindak lanjut dari para pemangku kekuasaan demi terpeliharanya Satuan Ruang Geografis Borobudur yang baik.