Muarajambi

  • MUARAJAMBI

NO REGNAS RNCB.20131230.05.000011
SK Penetapan

SK Menteri No259/M/2013

SK Menteri No045/M/2000

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Muaro Jambi
Provinsi Jambi
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola BPCB Jambi

Satuan Ruang Geografis Muarajambi memiliki luas 3.981 Ha yang tersebar di 2 kecamatan dan 8 desa. Area yang berada di Kecamatan Marosebo yaitu Desa Danaulamo, Muarojambi, dan Desa Baru. Sedangkan area yang terletak di Kecamatan Tamanrajo meliputi Desa Tebatpatah, Kemingkingdalam, Dusunmudo, Telukjambu, dan Desa Kemingkingluar. Satuan ruang geografis Muarajambi merupakan peninggalan dari Kerajaan Malayu Kuno dan Sriwijaya yang menjadi pusat peribadatan agama Buda terluas di Nusantara pada abad VII-XIII. Dalam sejarah regional, Kerajaan Malayu dan Sriwijaya diakui sebagai kerajaan yang berpengaruh sangat luas, tidak hanya di Nusantara tetapi juga di daratan Asia Tenggara seperti Malaysia dan Thailand. Kerajaan Malayu Kuno dan Sriwijaya juga berperan penting dalam percaturan politik-ekonomi internasional yaitu sebagai penghubung antara India dan Cina kala itu.

Lingkungan Satuan Ruang Geografis Muarajambi ditandai oleh rawa air tawar dan tanggul alam purba (natural levee) yang terbentuk pada masa plestosen. Pada awalnya, satuan ruang geografis ini pernah merupakan laut dangkal, hal inilah yang menyebabkan terbentuknya kawasan rawa yang sangat luas di Desa Muarajambi dan sekitarnya. Sungai Batanghari sebagai aliran sungai utama juga melintasi satuan ruang geografis ini. Temuan-temuan purbakala berada di atas tanggul alam purba, baik di sisi selatan maupun sisi utara dari Sungai Batanghari, menandakan bahwa pada masa lalu pemukiman kuno yang telah berlangsung sejak abad VIII sudah menempati kedua sisi tanggul alam ini. Hal ini dibuktikan dari ditemukannya sisa-sisa kegiatan manusia kuno di kedua sisi sungai, misalnya benda-benda keramik, arca batu, peralatan kehidupan sehari-hari, dan perhiasan yang berasal dari masa berbeda. Ditemukan pula sisa industri manik-manik, tembikar, dan sisa rumah tinggal.

Di satuan ruang geografis tersebut terdapat 82 reruntuhan bangunan kuno, di antaranya 11 kompleks candi yang telah dipugar yaitu Candi Kembar Batu, Candi Gumpung, Candi Tinggi I, Candi Tinggi II, Candi Astano, Candi Kotomahligai, Candi Kedaton, Candi Gedong I, Candi Gedong II, dan Telagorajo. Selain itu juga terdapat tinggalan lain berupa kanal-kanal kuno penanggulangan banjir musiman yang juga digunakan sebagai batas antara kawasan hunian dengan lingkungan sekitarnya. Ada pula tinggalan lain berupa menapo yaitu gundukan tanah berisi bata kuno dan parit-parit melingkar sebagai bekas lokasi bangunan.

Objek yang berupa artefak dan struktur (candi, kolam, menapo, dan sebagainya) di satuan ruang geografis ini relatif dalam kondisi baik dan terawat. Saat ini pengelolaan dilakukan oleh Kementerian Pendidikan dan Kebudayaan melalui Balai Pelestarian Cagar Budaya Jambi. Meski demikian, status konservasi satuan ruang geografis Muarajambi sebagai kawasan masih rentan terhadap perubahan lingkungan yang berlangsung cepat. Hal ini dikarenakan area Satuan Ruang Geografis Muarajambi banyak diantaranya yang dimanfaatkan sebagai daerah hunian, kebun rakyat, perkebunan kelapa sawit, pembudidayaan ikan, dan tempat penimbunan batu bara (stockpile). Penelitian masih terus dilakukan diarea ini karena masih banyak hal belum terungkap. Pada tahun 1975, Direktorat Sejarah dan Purbakala - Departemen Pendidikan dan Kebudayaan memulai penelitian dan pemugaran yang berlanjut hingga sekarang.