Arca Bhairawa Koleksi Museum Nasional

  • ARCA BHAIRAWA KOLEKSI MUSEUM NASIONAL

  • Bekas Penggunaan sebagai Pengasah Parang

  • Bekas Penggunaan sebagai Lesung

NO REGNAS RNCB.20140117.01.000017
SK Penetapan

SK Menteri No024/M/2014

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Benda
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Pusat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Museum Nasional

Arca yang berasal dari abad XIV ini ditemukan pada tahun 1935 di pinggir Sungai Batanghari yang berdekatan dengan Kompleks Percandian Padang Roco, Sungai Langsat, Sumatera Barat. Arca Bhairawa dibuat dari batu andesit tunggal dengan tinggi 441 cm dan memiliki lapik persegi berukuran 160 x 160 cm.

Arca Bhairawa berekspresi marah (ugra) ini merupakan contoh gaya seni arca Majapahit yang dibuat di Sumatera pada abad XIV. Rambut arca ditata tinggi seperti mahkota (jatamakuta), berkumis tebal, memiliki 2 (dua) taring pada rahang atas, menggunakan ikat kepala (jamang), di tengah rambut terdapat relief tokoh suci aksobhya, dan pada bagian belakang kepala terdapat lingkaran kedewaan (sirascakra). Arca digambarkan memakai kalung berukir di dada dan bertangan dua, tangan kanan memegang pisau sedangkan tangan kirinya memegang mangkuk. Kain bermotif tengkorak yang dipakai oleh arca panjangnya hingga lutut dengan ikat pinggang berhias kepala kala berjumbai genta. Arca Bhairawa berdiri di atas tubuh seorang manusia yang terbaring dengan kaki tertekuk ke bagian punggung. Lapik arca yang berbentuk persegi digambarkan berupa delapan tengkorak berjajar.

Arca ini menggambarkan Raja Adityawarman yang menganut aliran Tantrayana dalam wujudnya sebagai Bhairawa. Adityawarman adalah salah seorang pangeran dari Kerajaan Dharmasraya yang pernah mengabdi ke Majapahit sebagai wrddha-mantri. Setelah kembali ke Sumatera bagian barat, ia kemudian menjadi penguasa di sana pada abad XIV. Tokoh Adityawarman disebut dalam kitab Nagarakrtagama dan Prasasti Camundi berangka tahun 1343 yang ditemukan di Kompleks Candi Singasari.

Pada tahun 1935, Arca Bhairawa dipindahkan oleh pemerintah Hindia Belanda ke Benteng De Kock, Bukittinggi. Arca kemudian dipindahkan ke Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (sekarang menjadi Museum Nasional) di Batavia pada tahun 1937. Arca bernomor inventaris 6470 ini dalam keadaan baik dan terawat. Meski demikian, ada beberapa bagian yang telah mengalami kerusakan. Sejak pertama kali ditemukan, kondisi arca memang telah dalam keadaan rusak yaitu bagian wajah, kedua mata, hidung, pipi, bibir, dan dagu telah aus. Bagian bawah lutut arca cekung karena pernah digunakan untuk mengasah peralatan. Sisi dasar sebelah kiri arca berlubang karena pernah digunakan sebagai lesung. Sandaran arca hanya tinggal sebagian saja, yaitu sebelah kanan. Oleh sebab itulah dipasag tiang besi untuk menopang arca pada bagian belakangnya.