Benteng Rotterdam

  • BENTENG ROTTERDAM

  • Keadaan Benteng Fort Rotterdam (2013)

NO REGNAS RNCB.20140117.04.000018
SK Penetapan

SK Menteri No025/M/2014

SK Menteri NoPM.59/PW.007/MKP/2010

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kota Makassar
Provinsi Sulawesi Selatan
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola BPCB Makassar

Benteng Rotterdam terletak di Jl. Ujung Pandang Nomor 1, Kelurahan Bulogading, Kecamatan Ujung Pandang, Kota Makasar, Sulawesi Selatan. Benteng dengan luas bangunan 11.805,85m2 tersebut dibangun diatas lahan seluas 12,41 ha. Lahan seluas tersebut kemudian dibagi lagi menjadi 2 (dua), yaitu lahan inti yang meliputi 3,10 ha serta lahan penyangga seluas 9,31 ha. Benteng Rotterdam memiliki 5 bastion dengan sejumlah bangunan dan struktur di dalam benteng, meliputi pintu gerbang, 16 bangunan bergaya kolonial, sumur kuno, parit keliling, dan tembok keliling. Kelima bastion tersebut yaitu Bastion Bone yang terletak di sebelah barat, Bastion Bacan yang terletak di sudut barat daya, disudut barat laut adalah Bastion Buton, Bastion Mandarsyah di sudut timur laut, dan Bastion Amboina yang terletak di sudut tenggara. Benteng yang dikelilingi oleh parit kecuali disisi barat tersebut memiliki ukuran berbeda-beda disetiap sisinya. Dinding bagian barat memiliki ukuran panjang 225 m, dinding utara panjangnya 164 m, dinding sebelah timur panjangnya 193,20 m, dan dinding sebelah selatannya memiliki ukuran panjang 155,35 m. Benteng Rotterdam memiliki tinggi 0-7 m dengan ketebalan dindingnya yaitu 2 m.

Benteng Rotterdam sebelumnya merupakan benteng peninggalan Kerajaan Gowa-Tallo yang bernama Benteng Jumpandang. Benteng tersebut dibangun pada tahun 1545 oleh Raja Gowa X yang bernama I Manrigau Daeng Bonto Karaeng Lakiung yang bergelar Karaeng Tunipalangga Ulaweng. Pada awalnya benteng yang dibuat dari campuran batu dan bata ini berbentuk segi empat seperti halnya benteng gaya Portugis. Pada abad XVII benteng ini kemudian dimanfaatkan serta dikembangkan oleh VOC hingga berbentuk seperti sekarang. Selain itu, pada tanggal 9 Agustus 1634, Raja Gowa XIV, I Mangerangi Daeng Manrabbia atau Sultan Alauddin, membuat tembok yang dibuat dari campuran batu padas hitam, batu karang, dan bata dengan bahan perekat yang dibuat dati kapur dan pasir. Batu padas hitam tersebut didatangkan dari daerah Gowa. Pada tahun berikutnya, dibangun lagi tembok kedua di dekat pintu gerbang. Benteng Rotterdam merupakan salah satu dari 15 benteng pengawal yang dibangun oleh Kerajaan Gowa-Tallo. Ke-15 benteng tersebut yaitu Benteng Tallo, Benteng Ana’ Tallo, Benteng Ujung Tanah, Benteng Pattunuang, Benteng Ujung Pandang, Benteng Mariso, Benteng Bontorannu, Benteng Barobboso, Benteng Kale Gowa, Benteng Ana’ Gowa, Benteng Garassi, Benteng Panakkukang, Benteng Galesong, Benteng Barombong, dan Benteng Sanrobone. Ke-15 benteng tersebut membentengi pesisir pantai kerajaan Gowa-Tallo dari utara hingga ke selatan dengan benteng utamanya yaitu Benteng Somba Opu. Kini hanya Benteng Rotterdam saja yang kondisinya relatif utuh jika dibandingkan benteng lainnya.

Benteng Jumpandang rusak akibat serbuan VOC di bawah pimpinan Admiral Cornelis Janszoon Speelman pada tahun 1655-1669. Kala itu Kerajaan Gowa dibawah pemerintahan Sultan Hasanuddin. Akibat serangan ini, Kerajaan Gowa mengalami kekalahan dan pada tanggal 18 November 1667 Raja Gowa dipaksa untuk menandatangani Perjanjian Bongaya yang menyebabkan Benteng Jumpandang harus diserahkan kepada VOC. Setelah dikuasai oleh Belanda, Benteng Jumpandang kemudian diganti menjadi Fort Rotterdam, sesuai dengan nama kota kelahiran Speelman di Belanda. Speelman kemudian membangun kembali benteng yang sebagian hancur itu dengan gaya arsitektur Belanda. Sejak saat itu Benteng Rotterdam difungsikan sebagai markas komando pertahanan, kantor pusat perdagangan, kediaman pejabat tinggi, dan pusat pemerintahan. Salah satu peristiwa bersejarah penting terkait Benteng Rotterdam yaitu digunakan sebagai tempat untuk menawan Pangeran Diponegoro sejak tahun 1833 hingga ia wafat pada 8 Januari 1855. Ketika ditahan, Pangeran Diponegoro sempat menyusun catatan tentang budaya Jawa, misalnya mengenai wayang, mitos, sejarah, dan ilmu pengetahuan seperti yang diketahuinya pada masa itu. Selain itu, ketika Pangeran Diponegoro di Manado pada tahun 1830-1833, ia juga menyusun sebuah naskah yang kemudian dikenal dengan nama Babad Diponegoro. Pada tahun 2013, UNESCO menetapkan catatan tersebut sebagai Memory of The World.

Pada tahun 1937 Benteng Rotterdam diserahkan oleh Pemerintah Belanda kepada Yayasan Fort Rotterdam. Setahun berikutnya, yaitu tahun 1938, bekas kediaman Cornelis Speelman dijadikan Celebes Museum yang ditutup pada masa pendudukan Jepang. Pada tanggal 23 Mei 1940 bangunan ini didaftar sebagai monumen bersejarah dengan Nomor Registrasi 1010 sesuai Monumenten Staatsblad Tahun 1931. Ketika masa pendudukan Jepang (1942-1945), Benteng Rotterdam digunakan sebagai pusat penelitian ilmu pertanian dan bahasa. Pada tahun 1945-1949, Benteng Rotterdam kemudian beralih fungsi menjadi pusat kegiatan pertahanan Belanda dalam menghadapi pejuang-pejuang Republik Indonesia. Pada tahun 1950 benteng ini sempat menjadi tempat tinggal anggota TNI dan warga sipil sebelum akhirnya jatuh kembali ke tangan Belanda pada tahun yang sama dalam rangka pembentukan Negara Indonesia Timur. Benteng Rotterdam kemudian dijadikan Pusat Pertahanan Tentara Koninklijke Nederlandsch Indische Leger (KNIL) untuk menghadapiTentara Nasional Indonesia (TNI). Pada tahun 1970, Benteng Rotterdam dipugar oleh pemerintah dan difungsikan sebagai perkantoran. Salah satu gedung didalam kompleks difungsikan sebagai Museum Provinsi Sulawesi Selatan yang bernama Museum La Galigo. Pada tanggal 27 April 1977, kantor Lembaga Purbakala dan Peninggalan Nasional Wilayah IV juga ditempatkan di benteng ini. Saat ini Benteng Rotterdam dalam keadaan baik serta terawat dan ditetapkan sebagai Benda Cagar Budaya pada tanggal 22 Juni 2010 berdasarkan Keputusan Menteri Kebudayaan dan Pariwisata Republik Indonesia Nomor PM.59/PW.007/MKP/2010.