Lawang Sewu

  • LAWANG SEWU

  • Gedung A

  • Gedung B

  • Gedung C

NO REGNAS RNCB.20150713.02.000030
SK Penetapan

SK Menteri No344/M/2014

SK Menteri NoPM.57/PW.007/MKP/2010

SK Walikota No646/50/1992

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Semarang
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola PT. Kereta Api Indonesia Persero

Pada tahun 1864, jalur kereta api pertama di Indonesia dibangun yang menghubungkan stasiun Samarang NIS dan stasiun Tanggung dan selesai dibangun tahun 1867. Pada tahun 1873, jalur kereta api lainnya dibangun untuk menghubungkan Semarang-Solo-Yogyakarta oleh NIS, termasuk Kedungjati-Ambarawa sepanjang 206 km. Tujuan awal pembangunan jalur itu adalah untuk mengangkut hasil perkebunan dan pertanian dari daerah kekuasaan keraton Solo dan Yogyakarta (Voorstenlanden) ke pelabuhan Semarang, menggantikan angkutan tradisional pedati. Dengan semakin berkembangnya perusahaan NIS serta bertambahnya jumlah pegawai, akhirnya diputuskan untuk membangun kantor administrasi baru di Semarang. Lokasi yang dipilih adalah di ujung Jalan Pemuda Semarang (d/h Bodjongweg). Perencanaan pembangunan kantor dipercayakan kepada Prof. Jacob F. Klinkhamer dan B.J. Ouendag di Amsterdam. Lawang Sewu dibangun pada masa pemerintahan kolonial Belanda, mulai dari 27 Februari 1904 hingga 1 Juli 1907. Bangunan ini didirikan diatas lahan seluas 14.216 m2 untuk Kantor Pusat Perusahan Kereta Api Swasta (Het Hoofdkantoor van de Nederlansch Indische Spoorweg Maatscappij-NIS) dan merupakan bukti awal sejarah perkembangan perkeretaapian di Indonesia.

Bangunan Lawang Sewu terdiri atas beberapa gedung, yaitu:
1. Gedung A
Gedung A adalah bangunan utama kantor NIS. Gedung berlantai tiga dengan konfigurasi massa “L” ini bagian depannya tampak berbentuk seperti layang-layang dengan pintu masuk utama terletak pada sudut pertemuan kedua sayap. Pintu masuk utama dilindungi oleh kanopi dan ditopang oleh konstruksi tiga busur. Atapnya merupakan balkon luas yang terhubung langsung dengan bangsal utama. Vestibula pada lantai dasar dirancang sangat menarik dengan pintu kaca patri, lantai, dan dinding marmer. Ruang tersebut merupakan pengantar ke ruang di dalamnya tempat tangga utama berada, dengan hamparan jendela besar berkaca patri dari J. L. Schouten di Delft. Lantai ruang kantor dan selasar dilapisi ubin berukuran 16X16 m2. Selasar gedung yang terdapat di bagian tengah dan luar berfungsi untuk menghubungkan berbagai ruangan. Konstruksi lantai berbentuk rollag lengkung dan setiap jarak 2,00 m ditopang oleh profil baja melintang. Gedung A yang memiliki luas 5.473,28 m² saat ini dimanfaatkan sebagai tempat pameran dan menjadi objek wisata.
2. Gedung B
Gedung B merupakan perluasan dari gedung A, terdiri dari dua lantai utama dan satu lantai ruang atap. Gedung B berbeda dengan gedung A karena sudah menggunakan sistem struktur beton bertulang. Gaya bangunan pada gedung ini lebih sederhana dan menandai gaya pada jamannya (dekade ke-2 abad XX). Gedung B yang memiliki luas 4.145,21 m² secara umum dalam kondisi baik dan saat ini sedang dalam proses pemeliharaan dan perbaikan.
3. Gedung C
Gedung C terdiri dari 2 lantai, lantai 1 dahulu berfungsi sebagai tempat mencetak tiket dan jadwal kereta api NIS. Bangunan memiliki ukuran panjang 17 m, lebar 10 m, tinggi 11 m, dan luas 342 m². Dinding menghadap ke barat. Gedung C saat ini dalam kondisi terawat baik dan difungsikan sebagai ruang pameran di lantai 1 (satu) sedangkan lantai 2 (dua) untuk sementara digunakan sebagai kantor Divisi Heritage dan Arsitektur PT Kereta Api Indonesia (Persero). Di sisi tenggara terdapat bangunan tambahan yang digunakan untuk ruang audio-visual.
4. Gedung D
Gedung D merupakan bangunan satu lantai yang beratap limas dengan ukuran panjang 15,8 m, lebar 6,25 meter, dan luas 197 m². Terdapat 6 tiang, dua di antaranya menyatu dengan tembok. Jarak antar tiang yaitu 3,16 m. Hal menarik dari tiang tersebut adalah kepala tiangnya berbentuk zigurat terbalik dan diantara tiang terdapat tembok dan jendela. Gedung D terawat baik dan saat ini sedang dalam proses pemeliharaan dan perbaikan.
5. Gedung E
Gedung satu lantai ini memiliki luas 135 m², beratap pelana dengan penutup genteng, dan pintu serta jendela yang memiliki jalusi kayu. Gedung E terawat baik dan saat ini sedang dalam proses pemeliharaan dan perbaikan.
6. Rumah Pompa.
Denah rumah pompa berbentuk oktagon (segi delapan). Masing-masing segi memiliki 2 jendela, kecuali bagian pintu yang terletak di sisi timur. Bentuk atap mengerucut mengikuti bidangnya dengan kemuncak berbentuk bola. Rumah Pompa saat ini terawat baik.

Kompleks Lawang Sewu yang luas tersebut dibangun secara bertahap. Bangunan pertama yang didirikan adalah rumah penjaga (gedung D/concierge) dan percetakan (gedung C) yang dulunya digunakan sebagai bangunan direksi. Gedung utama (gedung A) masih harus menunggu perbaikan tanah dan diganti dengan lapisan pasir vulkanis. Pada tanggal 1 Juli 1907 gedung A, gedung C, gedung D, dan gedung G selesai dibangun. Pada tahun 1916 gedung B dibangun dengan menggunakan konstruksi beton bertulang dan selesai pada 1918. Lawang Sewu menjadi saksi dalam peristiwa pertempuran 5 hari di Semarang yang berlangsung dari tanggal 14-19 Oktober 1945. Gedung tersebut menjadi rebutan antara AMKA (Angkatan Muda Kereta Api) dengan tentara Jepang sebelum tentara sekutu datang. Pada tahun 1942-1945 Lawang Sewu diambil alih oleh Jepang dan digunakan sebagai Kantor Riyuku Sokyoku (Jawatan Transportasi Jepang). Pada tahun yang sama, Lawang Sewu juga menjadi Kantor DKARI (Djawatan Kereta Api Republik Indonesia). Setahun berikutnya, yaitu tahun 1946, Lawang Sewu digunakan sebagai markas tentara Belanda sehingga kegiatan perkantoran DKARI harus pindah ke bekas de Zustermaatschappijen. Setelah pengakuan kedaulatan RI pada tahun 1949, Lawang Sewu digunakan sebagai markas Kodam IV Diponegoro. Tahun 1994 Lawang Sewu diserahkan kembali kepada kereta api melalui Perusahaan Umum Kereta Api (PERUMKA) yang kemudian statusnya berubah menjadi PT Kereta Api Indonesia (Persero).