Gereja Katedral Jakarta

  • Gereja Katedral Jakarta

NO REGNAS RNCB.20151218.04.000064
SK Penetapan

SK Menteri No243/M/2015

SK Gubernur No475 Tahun 1993

SK Menteri No237/M/1999

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Pusat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Paroki Gereja Katedral
Nama Pengelola Paroki Gereja Katedral

Situs Cagar Budaya Gereja Katedral Jakarta memiliki nama resmi De Kerk van Onze Lieve Vrouwe ten Hemelopneming atau Gereja Santa Perawan Maria Diangkat ke Surga. Gereja ini menempati lahan dengan luas 12021 m² dan luas bangunan 1679 m². Gedung gereja ini dibangun dengan gaya arsitektur neo-gotik dari Eropa yang merupakan gaya yang lazim digunakan untuk membangun gedung gereja beberapa abad yang lalu. Gedung gereja yang ramping dan monumental dilengkapi daun pintu yang menjulang tinggi dan banyak jendela. Jendela-jendela tersebut dihiasi dengan lukisan yang menjelaskan tentang peristiwa jalan salib yang pernah dialami oleh Yesus Kristus. Tepat di bawah lukisan tersebut, di bagian kanan dan kiri gereja terdapat empat bilik yang digunakan sebagai tempat untuk pengakuan dosa. Sementara di bagian depan terdapat altar suci pemberian dari Komisaris Jenderal Du Bus ge Gisignies.

Ruangan-ruangan ini memiliki pintu kaca-timah yang bergaya Art & Craft seperti juga terlihat pada dinding-dindingnya. Kaca-kaca timah yang ada pada jendela kaca bulat atau rose maupun pada jendela-jendela lainnya lebih bermotif keagamaan. Kaca-kaca ini memberi efek indah pada interior gereja. Denah geraja berbentuk salib dengan menghadap ke barat. Satu-satunya gereja bergaya gotik di Jakarta ini bisa dilihat dari ciri khas kerangka struktur plafon gotik yang terkenal dengan sebutan vaulted rib yang membentuk ruang-ruang prismatik. Di sini dapat kita lihat prinsip arsitektur gotik dalam menyalurkan gaya beban dari atas ke bawah dengan struktur yang jelas. Sekaligus memberi irama yang dinamis pada ruangan-ruangan di gereja. Selain itu, pada railing tangga, engsel, dan kunci gereja ini bergaya Art & Craft yang berkualitas tinggi.

Situs Cagar Budaya Gereja Katedral yang ada pada saat ini bukan merupakan gedung gereja yang asli. Gereja yang asli diresmikan pada Februari 1810 namun pada 27 Juli 1826 gedung gereja terbakar bersama 180 rumah penduduk di sekitarnya. Kemudian pada tanggal 31 Mei 1890 gereja itu juga sempat roboh. Pada 1 November 1890 disepakati kerjasama antara pihak Monseigneur Claessens dengan pengusaha Leykam tentang pembelian tiga juta batu bata untuk keperluan gereja baru. Kesepakatan ini dilakukan karena melihat kerusakan gereja yang sangat parah sehingga para iman dan umat menginginkan adanya gereja baru. Pembelian batu bata tersebut dikirim tiap bulan sebanyak 70.000 bata. Pertengahan tahun 1891 mulai dilakukan peletakan batu pertama untuk pembangunan gereja baru. Orang yang ditunjuk untuk menjadi perencana dan arsitek pembangun gereja adalah Antonius Dijkmans. Setelah kurang lebih setahun pembangunan yang dimulai peletakan batu pertamanya oleh Provicaris Carolus Wenneker pembuatan gereja pun terhambat dikarenakan masalah biaya. Tahun 1894 masalah pembangunan gereja semakin rumit ketika Antonius Dijkmans harus pulang ke Belanda karena sakit pada tahun 1894.

Tahun 1898 dalam melanjutkan pembangunan gereja Uskup Monseignor Edmundus Sybradus Luypen SJ mengumpulkan berbagai bantuan dana di Belanda. Selain bantuan dari Belanda, dana juga terkumpul dari sumbangan umat gereja katolik tersebut. Pada tahun 1899 keberlanjutan pembangunan gereja dipimpin oleh insinyur M. J. Hulswit. Batu pertama diletakkan pada tanggal 16 Januari 1899 sebagai tanda dimulainya lagi pembangunan gereja. Pembangunan gereja baru pun akhirnya selesai pada tanggal 21 April 1901 dan diresmikan oleh Monseignor Edmundus Sybradus Luypen, SJ. Dengan demikian, keberlangsungan pembangunan gereja yang dimulai pada tahun 1891 sejatinya hanya berlangsung selama 3 tahun. Kurang lebih 7 tahun pembangunan gereja tertunda karena kehabisan dana.

Pada tahun 1988 bangunan gereja dicat dan dibersihkan dari lumut yang sering menempel di dinding. Selain itu juga terdapat perbaikan terhadap bagian bangunan yang mengalami kerusakan. Pada tahun yang sama Gedung pastoran dan gedung pertemuan juga ikut ditambahkan untuk menambah nilai kegunaan dari Gereja Katedral. Situs Cagar Budaya Gereja Katedral Jakarta kini masih berfungsi sebagaimana mestinya. Setiap harinya bangunan peribadatan ini dikunjungi oleh para umatnya. Gereja ini masih dalam keadaan cukup terawat dengan baik. Selain itu, gedung ini juga kini memiliki museum yang menyimpan rekaman sejarah persebaran ajaran Katolik di Jakarta.