Monumen Pers Nasional

  • Gedung Pers

  • Pers,

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000044
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri NoPM.57/PW.007/MKP/2010

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Surakarta
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Kementerian Komunikasi dan Informatika

Bangunan Induk Monumen Pers Nasional terletak di Jalan Gajah Mada Nomor 59, Desa Timuran, Kecamatan Banjarsari, Kota Surakarta, Provinsi Jawa Tengah. Gedung yang memiliki luas 2.998 m2 ini dibangun diatas lahan seluas 2907,26 m2. Bangunan Induk Monumen Pers Nasional dibangun sekitar tahun 1918 atas perintah Mangkunegoro VII, Pangeran Surakarta, sebagai balai perkumpulan dan ruang pertemuan. Gedung ini dulunya bernama "Societeit Sasana Soeka" dan dirancang oleh Mas Aboekassan Atmodirono. Pada tahun 1933, Sarsito Mangunkusumo dan sejumlah insinyur lainnya bertemu di gedung ini dan merintis Solosche Radio Vereeniging, radio publik pertama yang dioperasikan pribumi Indonesia. Pada tahun 1937, diperkirakan Solosche Radio Vereeneging menyiarkan musik gamelan secara langsung dari Solo untuk mengiringi Gusti Nurul (Putri Mangkunegoro VII) yang membawakan tari Bedhaya Srimpi di Istana Kerajaan Belanda di Den Haag, tanggal 7 Januari 1937.

Tiga belas tahun kemudian, pada tanggal 9 Februari 1946, Persatuan Wartawan Indonesia (PWI) dibentuk di gedung ini. Saat pendudukan Jepang di Hindia Belanda, gedung ini dijadikan klinik perawatan tentara, kemudian menjadi kantor Palang Merah Indonesia pada masa Revolusi Nasional Indonesia. Pada tanggal 9 Februari 1956, dalam acara perayaan sepuluh tahun PWI, wartawan-wartawan ternama seperti Rosihan Anwar, B.M. Diah, dan S. Tahsin menyarankan pendirian yayasan yang akan menaungi Pers Nasional. Yayasan ini diresmikan tanggal 22 Mei 1956 dan sebagian besar koleksinya disumbangkan oleh Soedarjo Tjokrosisworo. Baru lima belas tahun kemudian yayasan ini berencana mendirikan fisik gedung. Rencana ini secara resmi diumumkan oleh Menteri Penerangan, Budiarjo, pada tanggal 9 Februari 1971. Nama "Monumen Pers Nasional" ditetapkan tahun 1973 dan lahannya disumbangkan ke pemerintah tahun 1977. Monumen Pers Nasional resmi dibuka tanggal 9 Februari 1978 oleh Presiden Soeharto. Dalam pidatonya, Presiden Soeharto memperingatkan pers akan bahaya kebebasan. Ia menyatakan, "menikmati kebebasan demi kebebasan itu sendiri adalah keistimewaan yang tak mampu kita dapatkan".

Monumen Pers Nasional Surakarta terdiri atas bangunan lama dan bangunan baru yang didirikan kemudian untuk mengikuti fungsi Monumen Pers sebagai Unit Pelaksana Teknis Eselon IIIa di bawah Kementerian Komunikasi dan Informatika. Sebagai kombinasi antara bangunan lama dan bangunan baru, bangunan tua yang didirikan tahun 1918 berada di tengah dengan denah persegi empat menghadap ke timur laut. Posisi bangunan lama ini sangat berdekatan dengan bangunan- bangunan baru yang mengelilinginya. Berikut beberapa ruangan yang terdapat di bangunan lama Monumen Pers Nasional Surakarta.

Ruang Utama
Ruang utama bangunan induk berukuran lebar 28 m dan panjang 27 m. Di dalam ruangan terdapat berbagai koleksi, antara lain majalah masa lampau, surat kabar se-Indonesia, patung-patung tokoh pendiri PWI (Persatuan Wartawan Indonesia) seperti Soetopo Wonoboyo, R. Bakrie Soeratmodja, Dr. Abdul Rivai, Dr. Danudirdja Setiabudi, R.M.Bintara, Djamaluddin Adinegoro, R.M.Soedaryo Tjokrosisworo, R.Darmosoegito, Djokomono R.M. Tirtohadisoerjo, dan Dr. GSSJ Ratulangie. Selain itu juga terdapat sebuah pemancar radio kuno yang terkenal dengan nama pemancar “radio kambing”. Penamaan ini dilatarbelakangi oleh peristiwa disembunyikannya pemancar ini oleh pejuang RRI dan TNI didalam kandang kambing untuk mengelabuhi tentara Belanda di Desa Balong, lereng Gunung Lawu pada saat terjadi Agresi Militer Belanda II tahun 1948-1949. Pemancar ini dipindahkan karena studio RRI Solo diserang oleh Tentara Belanda. Koleksi lainnya yaitu batu peresmian Monumen Pers Nasional yang ditandatangani oleh Presiden Soeharto.

Ruang II
Ruang ini terletak di sebelah timur ruangan pertama. Pada ruangan ini terdapat diorama yang menjelaskan tentang sejarah perkembangan pers dari masa ke masa. Pada diorama I terdapat informasi yang menjelaskan bahwa pemberitaan sudah ada sejak zaman Nabi. Diorama II menceritakan pers masa VOC dan jurnalistik pribumi awal dengan bahasa daerah pada tahun 1855. Diorama III menggambarkan pers masa Jepang. Diorama IV menggambarkan pers masa awal kemerdekaan yang menceritakan jurnalistik perlawanan untuk mengobarkan semangat pejuang. Diorama V menggambarkan pers masa liberal dan demokrasi terpimpin. Diorama VI menggambarkan pers era reformasi, yaitu mengenai adanya kebebasan pers. Selain diorama, juga terdapat koleksi mesin ketik salah satu perintis pers Indonesia, yaitu mesin ketik milik Bakrie Soeratmaadja, wartawan koran Sipatahoenan yang terbit di Bandung. Pada saat revolusi fisik, mesin ketik ini ikut “bergerilya”, sedangkan saat damai benda ini dipakai untuk menulis berita dan tulisan lain di Sipatahoenan. Ada pula koleksi berupa baju. Baju ini merupakan baju milik Hendro Subroto, wartawan senior TVRI yang bertugas meliput integrasi Timor-Timur ke Indonesia tahun 1975. Baju ini dipakai oleh Hendro Subroto ketika meliput serangan di Kabupaten Bobonaro pada bulan November 1975. Naasnya ketika sedang meliput kejadian tersebut, beliau tertembak di dada kanan atas dan peluru menyerempet di pipi kanannya. Di ruang ini juga terdapat majalah-majalah dari beberapa tahun silam yang masih terjaga dengan baik.

Gerbang
Gerbang Monumen Pers Nasional ditandai dengan hiasan empat kepala dan badan naga terlentang yang dinamakan Catur Manggala Kura, menandai Suryo Sengkala mlakuning sedya habangun nagara yang berarti tahun 1980, angka tahun selesainya pembangunan perluasan seluruh gedung. Di belakang naga atau teras diletakkan sebuah kenthongan besar yang dinamakan Kyai Swara Gugah. Kenthongan tersebut merupakan alat informasi dan komunikasi pada zaman dahulu.

Ruang Konservasi dan Reservasi
Ruangan Konservasi dan Reservasi dibagi menjadi dua, yaitu ruang pertama yang menyimpan surat kabar tahun 2000-an dan ruang yang menyimpan surat kabar dibawah tahun 2000. Di ruang penyimpanan surat kabar tahun 2000-an, kondisi surat kabar relatif baik. Pada ruang penyimpanan surat kabar bertahun sebelum 2000, surat kabar ditata berurutan dan berkelompok. Walaupun surat kabar-surat kabar ini sudah cukup tua, namun masih bisa dibaca dan dipegang.

Perpustakaan
Monumen Pers Nasional juga menyediakan sebuah perpustakaan dengan koleksi buku sejumlah 12.000 buku yang terdiri dari berbagai disiplin ilmu dengan titik berat bidang pers, komunikasi dan informasi. Keanggotaan perpustakaan ini juga terbuka bagi siapa saja. Bangunan Induk Monumen Pers Nasional dimanfaatkan sebagai “museum” dengan koleksi berupa arca-arca tokoh pers nasional pendiri PWI, foto-foto, diorama, dan benda-benda memorabilia yang kurang terawat. Museum ini sampai sekarang masih menjadi sumber informasi tentang sejarah pers Indonesia yang dikelola oleh Kementerian Komunikasi dan Informatika.