Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta

  • Stasiun KA Tugu

  • Stasiun Tugu pada Tahun 1890

  • Stasiun Tugu pada Tahun 1930

  • Stasiun Tugu pada Tahun 1935

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000095
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri NoPM.25/PW.007/MKP/2007

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Yogyakarta
Provinsi D.I Yogyakarta
Nama Pemilik PT Kereta Api Indonesia (Persero)
Nama Pengelola PT Kereta Api Indonesia (Persero)

Stasiun Kereta Api Tugu Yogyakarta terletak di Jalan Pangeran Mangkubumi Nomor 1, Kelurahan Sosromenduran, Kecamatan Gedongtengen, Kota Yogyakarta. Stasiun tersebut dibangun diatas lahan seluas 96.112 m², dengan luas bangunan secara keseluruhan yaitu 74.128 m². Bangunan seluas tersebut terdiri dari beberapa gedung, salah satunya adalah bangunan induk Stasiun Tugu Yogyakarta yang memiliki luas bangunan 992,2 m². Keberadaan Stasiun Tugu Yogyakarta berkaitan erat dengan pembangunan kereta api di wilayah Vorstenlanden yang digawangi oleh perusahaan swasta Nederland Indische Spoorweg Maatschappij (NISM). Meski demikian, Stasiun Tugu dibangun oleh perusahaan kereta api milik pemerintah yaitu Staatspoorwegen (SS). Stasiun Tugu pertama kali dioperasikan untuk umum tanggal 12 Mei 1887 yang melayani jalur Yogyakarta-Cilacap.

Pada awalnya, NISM membangun jalur kereta api yang menghubungkan wilayah Semarang dan Yogyakarta melalui Surakarta. Pembangunan jalur tesebut bertujuan untuk memperlancar arus distribusi hasil perkebunan yang banyak terdapat di wilayah Vorstenlanden. Jalur ini bermula di Stasiun Tanggung Semarang dan berakhir di Stasiun Lempuyangan yang merupakan stasiun pertama yang dibangun oleh perusahaan swasta NISM di Kota Yogyakarta. Pembukaan dan peresmian stasiun tersebut berlangsung pada tanggal 2 Maret 1882. Sebelum Stasiun Tugu berdiri, Stasiun Lempuyangan merupakan stasiun terbesar di Yogyakarta. Ketika perusahaan kereta milik pemerintah mulai muncul di wilayah Vorstenlanden, Staats Spoorwegen (SS) kemudian membangun stasiun baru disebelah barat Stasiun Lempuyangan. Stasiun yang baru dibangun oleh SS itu kemudian diberi nama Stasiun Tugu dan mulai dibuka pada tahun 2 Mei 1887. Pemerintah kolonial menguasai segala hal yang berhubungan dengan kereta api hingga Maret 1942. Setelah Jepang datang, kekuasaan kereta api beralih dari tangan Belanda ke Jepang hingga bulan September 1945. Republik Indonesia dapat menguasai kereta api pada 28 September 1945 setelah Angkatan Muda Kereta Api merebut kekuasaan perkeretaapian dari tangan Jepang. Djawatan Kereta Api Repoeblik Indonesia (DKARI) kemudian dibentuk untuk mengurus segala hal yang berhubungan dengan kereta api di Indonesia.

Stasiun Tugu merupakan tempat kedatangan rombongan presiden yang hijrah dari Jakarta ke Yogyakarta dengan kereta api pada tanggal 4 Januari 1946. Perjalanan tersebut berkaitan dengan pemindahan kekuasaan Indonesia yang terjadi karena kondisi Jakarta yang tidak kondusif akibat kedatangan tentara Belanda yang membonceng Netherlands-Indies Civil Administration (NICA). Bangunan Induk Stasiun Tugu berupa bangunan memanjang timur-barat dengan 2 peron di sisi utara dan selatan. Bangunan ini terdiri dari ruang kepala, ruang tunggu eksekutif, kantin, rumah makan, kantor PPKA, dan wartel. Secara umum bangunan Stasiun Tugu merupakan struktur dinding tanpa atap dengan bagian atas yang datar (flat). Bangunan dinaungi oleh struktur baja yang menyangga atap dengan tiang-tiang yang terbuat dari baja. Pada peron sisi selatan dan utara terdapat 3 jenis tiang penyangga yang berbeda. Pada tiang lama Stasiun Tugu terdapat inskripsi J.L. Enthoven s’Hage 1886. Bangunan induk ini keseluruhan mempunyai jendela dan pintu berukuran besar. Bukaan/jendela mati pada bagian atas dibuat untuk memecahkan persoalan pencahayaan ruang dalam. Sisi timur merupakan pintu masuk berupa entrance hall dengan fasad bangunan bergaya art deco. Fasad atau bagian depan bangunan yang sekaligus digunakan sebagai pintu masuk utama stasiun menghadap ke arah Timur atau ke arah Jalan Mangkubumi yang merupakan poros kota Yogyakarta. Selain sebagai sebagai stasiun penumpang, Stasiun Yogyakarta hingga saat ini juga masih berfungsi sebagai tempat perawatan kereta. Fasilitas tersebut terletak di bagian barat stasiun dan sedikit terpisah dari bangunan utama dan peron penumpang.

Dari bagian depan bangunan dapat dikenali ciri arsitektur Indische Empire yang banyak dianut pada akhir abad ke 19 dan menjadi gaya arsitektur kolonial modern pada awal abad ke 20 di Hindia Belanda. Salah satu cirinya adalah susunan denah dan tampak bangunan yang simetris terkesan rapi namun sederhana. Dalam bangunan tesebut tidak terdapat bentuk-bentuk yang berlebihan yang merupakan pengaruh dari Neo Renaissance. Pengaruh awal arsitektur modern juga terlihat kuat dengan ornamentasi bergaya Art Deco, berupa komposisi garis-garis vertikal dan horizontal serta lubang-lubang dinding roster yang berguna untuk cross ventilation sebagai pemberi karakter bangunan. Pada kedua sisi terdapat bangunan terbuka dengan struktur baja beratap lebar yang memayungi area peron dan emplasemen. Bangunan terbuka dengan struktur baja yang menaungi emplasemen menunjukkan adanya penyesuaian terhadap iklim tropis setempat. Penambahan overstek dengan atap berbentuk busur untuk melayani pertumbuhan penumpang yang semakin meningkat jumlahnya. Salah satu keunikan stasiun ini adalah letak bangunan stasiun yang diapit oleh peron dan jalur kereta api. Komposisi demikian disebut dengan stasiun dua sisi, yaitu komposisi yang biasanya digunakan pada stasiun antara yang cukup besar. Peron utara dan bagian selatan stasiun dihubungkan oleh terowongan bawah tanah. Beberapa peninggalan fisik yang terdapat di Stasiun Tugu, selain bangunan induk, yaitu gudang muat tinggi sisi selatan, bangunan telekomunikasi, bangunan rumah sinyal, pusat reservasi tiket kereta api, gedung kantor kas, dipo induk kereta, dipo lokomotif, bengkel lokomotif, gedung resort listrik umum, bangunan resort jalan, jembatan, dan rel.