Pesanggrahan Ngeksiganda

  • Ngeksiganda

  • Papan Informasi Pesanggrahan Ngeksiganda

  • Kompleks Bangunan Pesanggrahan Ngeksiganda

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000046
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri NoPM.89/PW.007/MKP/2011

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kabupaten Sleman
Provinsi D.I Yogyakarta
Nama Pemilik Keraton Yogyakarta
Nama Pengelola Keraton Yogyakarta

Pesanggrahan Ngeksiganda yang terletak di Desa Hargobinangun, Kecamatan Pakem, Kabupaten Sleman, Daerah Istimewa Yogyakarta ini memiliki luas bangunan 1.104 m2 dan dibangun diatas lahan seluas 17.888 m2. Menurut sejarah, Pesanggrahan Ngeksiganda dahulu merupakan milik seorang Belanda. Pada sekitar tahun 1927, Sri Sultan Hamengku Buwana VIII membeli tanah dan bangunan beserta seluruh perabotannya. Setelah dimiliki oleh Sri Sultan HB VIII, Pesanggrahan Ngeksiganda difungsikan sebagai tempat peristirahatan raja dan keluarganya hingga pada masa pemerintahan Sri Sultan HB IX. Pada tahun 1948, Sri Sultan HB IX berkenan meminjamkan kompleks bangunan tersebut beserta Wisma Kaliurang untuk digunakan sebagai tempat perundingan Komisi Tiga Negara (KTN).

Perundingan Komisi Tiga Negara (KTN) diawali dengan adanya Agresi Militer Belanda I pada tanggal 21 Juli 1947. Penyerangan dilakukan oleh pihak Belanda dengan dalih membentuk pemerintahan federal sementara yang akan berkuasa di seluruh Indonesia sampai RIS terbentuk dan membentuk gendarmerie (pasukan keamanan) bersama yang juga akan masuk ke daerah RI. Adapun reaksi dari pihak Indonesia dalam menyikapi peristiwa ini adalah dengan menerapkan sistem pertahanan linier, yaitu mengadakan gerakan defensif (bertahan) secara total. Menyikapi kejadian tersebut, Dunia Internasional mengecam tindakan agresi Belanda tersebut dengan cara membentuk Komisi Tiga Negara yang diwakili oleh Dr. Frank Graham (pihak Amerika Serikat), Richard Kirby (pihak Australia), dan Paul van Zeeland (pihak Belgia).

Pembentukan Komisi Tiga Negara (KTN) oleh Dewan Keamanan Perserikatan Bangsa Bangsa (DK-PBB) pada tanggal 26 Agustus 1947 didahului oleh pembicaraan-pembicaraan tentang sengketa antara Pemerintah Republik Indonesia dengan Pemerintah Belanda. Masuknya masalah sengketa Indonesia-Belanda ke dalam agenda pembicaraan DK-PBB menjadi perdebatan yang menegangkan antar anggota DK-PBB. Negara tetangga Indonesia, Australia dan India, juga menyokong dan memperjuangkan masuknya masalah sengketa Indonesia-Belanda tersebut dengan berpegang kepada rasa kesetiakawanan diantara bangsa-bangsa berdasarkan persamaan hak dan nasib menentukan diri sendiri, mendapatkan kesempatan di dalam memecahkan persoalan internasional, serta menjadikan PBB sebagai pusat bagi keselarasan di antara bangsa-bangsa di dunia. Di samping itu, terdapat beberapa pasal yang diperhatikan dalam 14 poin dari Wilson dan Atlantic Charter yang meningkatkan DK-PBB akan hak memerintah dan mencari bentuk pemerintahan sendiri serta larangan menggunakan kekerasan oleh satu negara terhadap negara lain.

Bangunan Cagar Budaya Pesanggrahan Ngeksiganda memiliki halaman yang cukup luas dan menghadap ke arah barat daya. Bangunan Cagar Budaya Pesanggrahan Ngeksiganda dimiliki dan dikelola oleh Keraton Yogyakarta. Bangunan tersebut hingga kini masih dalam kondisi relatif baik dan terawat. Masyarakat sering menyebut Pesanggrahan Ngeksida dengan sebutan villa karena terletak di kawasan tempat rekreasi. Kompleks Pesanggarahan terdiri dari beberapa bagian yaitu:

1. Bangunan Induk
Bangunan induk merupakan bangunan limasan dengan bentuk arsitektur lokal yang disesuaikan dengan kondisi daerah tropis. Bangunan induk terdiri dari bangunan utama, paviliun dan bangunan tambahan.

a. Bangunan Utama
Konstruksi atap dari kayu jati dengan penutup atap dari genteng. Plafon menggunakan plat logam tipis dengan variasi garis dan eternit. Dinding (sekat) dibuat dari bata dan papan kayu. Kusen untuk jendela, pintu, serta ventilasi juga dibuat dari kayu. Panil untuk jendela lapisan dalam dan ventilasi dari kaca memiliki tebal ± 2 mm, sedangkan jendela lapisan luar dan pintu terbuat dari kayu. Lantai bangunan menggunakan tegel berwarna abu-abu, coklat muda, merah tua, dan beberapa bagian memiliki variasi ornamen. Lantai bangunan memiliki ukuran 20 x 20 dan tebal 1 cm. Bangunan utama terdiri dari ruang tamu, ruang tidur, ruang keluarga, ruang duduk, ruang makan, dapur, dan teras. Selain itu, di bangunan utama juga terdapat cerobong asap seluas 1,5 m².

b. Paviliun
Paviliun berbentuk bangunan limasan dengan sedikit tambahan atap miring yang berfungsi sebagai penutup atap teras. Konstruksi atap menggunakan kayu dengan penutup dari genteng dan seng, plafon menggunnakan plat logam tipis dengan variasi tipis, kusen jendela, pintu dan ventilasi terbuat dari kayu jati. Lantai bangunan menggunakan tegel abu-abu dengan ukuran 20 x 20 dan tebal 1 cm. Bangunan paviliun terdiri dari ruang tidur 2 buah, teras, dan koridor.

c. Bangunan Tambahan
Bangunan tambahan ini berada di sebelah timur dari bangunan utama. Bangunan tambahan dibatasi oleh tembok pagar setebal 1 bata dari konstruksi bata berplester. Bangunan tambahan terdiri dari dapur, ruang servis, selasar, garasi, ruang tetirah dan kamar mandi/toilet. Sekat ruang (dinding) terbuat dari bahan konstruksi bata tebal ½ bata. Konstruksi atap dari kayu dengan penutup seng tanpa plafon. Lantai terbuat dari plesteran semen.

2. Bangunan Gedong Gongso
Bangunan Gedong Gongso berbentuk limasan dengan konstruksi atap terbuat dari bahan kayu, penutup atapnya dari genteng, list plank dari papan kayu yang menempel langsung pada usuk, dan plafon dari eternit. Dahulu, Gedong Gongso berfungsi sebagai tempat pertemuan atau konferensi yang terbatas bagi para delegasi KTN. Dalam pertemuan tersebut, seluruh peserta konferensi disuguhi tarian Jawa yang diiringi musik gamelan. Bangunan Gedong Gongso terdiri dari pintu, jendela, dan ventilasi dengan kusen yang sebagian besar terbuat dari kayu dengan panil kaca. Kondisi bangunan dan komponen-komponen Bangunan Gedong Gongso hampir sama dengan kondisi fisik pada bangunan utama. Bangunan ini terdiri dari ruang utama, teras belakang dan kamar mandi/toilet.

3. Bangunan Gedong Telpon
Bangunan ini berbentuk limasan dengan konstruksi bangunan dari kayu, list plank dari papan kayu menempel pada usuk serta beratap genting. Plafon dari plat logam tipis bergaris yaitu pada bagian seluruh operstek bangunan. Pada sebelah utara bangunan Gedong Telpon terdapat bangunan tambahan yang berfungsi untuk garasi.
Struktur dinding pada Gedong Telpon adalah plesteran batu bata. Pintu, jendela, dan ventilasi kuse terbuat dari kayu serta berpanil kaca dengan ukuran tebal 2 mm. Sedangkan struktur lantai berupa tegel bermotif dengan ukuran 20 x 20 cm. Dahulu bangunan ini berfungsi sebagai tempat alat-alat telpon sebagai sarana komunikasi dalam rangka bertukar informasi.

4. Bangunan Diesel
Bangunan rumah diesel berukuran 4 x 4,5 m, digunakan untuk tempat penyimpanan diesel. Kondisi fisik Bangunan Rumah Diesel masih baik.