Wisma Ranggam

  • Wisma Ranggam

  • Interior Dalam

  • Kamar Soekarno

  • Kamar Tamu

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000048
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri NoPM.13/PW.007/MKP/2010

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kabupaten Bangka Barat
Provinsi Kepulauan Bangka Belitung
Nama Pemilik Pemerintah Kabupaten Bangka Barat
Nama Pengelola Pemerintah Provinsi Bangka Belitung dan Pemerintah Kabupaten Bangka Barat

Wisma Ranggam terletak di Jalan Imam Bonjol, Kelurahan Sungai Daeng, Kecamatan Mentok, Kabupaten Bangka Barat, Provinsi Kepulauan Bangka Belitung. Bangunan yang dibangun diatas lahan seluas 9000 m2 ini memiliki luas bangunan 1500 m² (sesuai SK Menteri). Wisma Ranggam dahulu bernama Pesanggrahan Muntok yang dibangun sekitar tahun 1890 oleh perusahaan timah Belanda yang bernama Banka Tin Winning (BTW) sebagai tempat peristirahatan pegawai yang bekerja di BTW. Pada tahun 1897, wisma tersebut dipakai sebagai tempat pengasingan tokoh dari Pakualaman bernama Pangeran Hario Pakuningrat yang menentang Belanda. Pangeran Hario Pakuningrat sebenarnya ditugaskan Belanda untuk berperang melawan pasukan Aceh dalam Perang Aceh, namun ia justru berpihak kepada pasukan Aceh untuk melawan Belanda. Akhirnya ia ditangkap dan diasingkan ke Muntok. Belanda juga melarangnya untuk berhubungan dengan masyarakat Muntok. Pangeran Hario Pakuningrat akhirnya wafat pada tanggal 18 Agustus 1897 setelah 7 bulan dalam pengasingan dan dimakamkan di daerah Kebun Nanas, Muntok.

Bangunan Wisma Ranggam telah beberapa kali mengalami perubahan dan fungsi. Pada awalnya bangunan yang dirikan tidak permanen ini dibangun dengan menggunakan kayu. Selanjutnya pada tahun 1924 Wisma Ranggam direnovasi oleh seorang arsitek bernama Antwerp J. Lokollo yang berasal dari Ambon dengan tidak merubah bentuk dan ukurannya. Tiga tahun berikutnya, tepatnya pada 1927, bangunan wisma direnovasi lagi dengan melakukan penambahan pada bagian sayap. Pada tahun 1930 oleh arsitek yang sama, BTW membangun kolam renang untuk pegawai dan keluarganya. Selain digunakan untuk mengasingkan Pangeran Hario Pakuningrat, Pesanggrahan Muntok juga digunakan sebagai tempat pengasingan para pemimpin Kemerdekaan Indonesia, misalnya Bung Karno. Ia dibawa ke Muntok dan ditempatkan di Pesanggrahan Muntok bersama dengan H. Agus Salim, Menteri Luar Negeri kala itu, pada tanggal 6 Februari 1949. Tokoh-tokoh lain yang kemudian juga diasingkan ke Pesanggrahan Muntok adalah Mr. Moch. Roem dan Ali Sastroamidjojo. Keempat tokoh pejuang kemerdekaan Indonesia tersebut ditempatkan di kamar yang berbeda-beda, dengan rincian kamar 12 ditempati oleh Ir. Soekarno, kamar 11 adalah kamar H. Agus Salim, kamar 12-A ditempati oleh Mr. Moch. Roem, dan kamar 1 adalah tempat Mr. Ali Sastroamidjojo. Pada saat itu urusan pemerintahan Indonesia diserahkan kepada Sri Sultan Hamengkubuwono IX.

Pesanggrahan Muntok juga menjadi tempat cikal perundingan antara Indonesia dan Belanda yang disebut Perundingan Roem-Royen yang berlangsung di Hotel des Indes. Perundingan tersebut dihadiri Komisi Tiga Negara (KTN) yang terdiri atas wakil dari Australia, Belgia, dan Amerika. Pertemuan dihadiri pula oleh wakil dari Perserikatan Bangsa-Bangsa (PBB) dan Bijen Konvoor Federal overly (BFO). Anggota KTN yang hadir adalah Merle Cochram, Koetts, TK. Critcly, G. Mc. Kahin, Merremans, dan Prof. Lyle. Perundingan menghasilkan antara lain kesepakatan bahwa pada tanggal 6 Juli 1949 semua pemimpin Indonesia dibebaskan dan kembali ke Yogyakarta. Pada tahun 1976 terjadi penggantian nama bangunan dari Pesanggrahan Muntok menjadi Wisma Ranggam di bawah penguasaan PT. Timah. Wisma Ranggam terdiri atas bangunan utama yang diapit dua bangunan lain di kiri dan kanannya. Ruangan utama memiliki ukuran panjang 32 meter dan lebar 15,6 meter. Ruangan Utama memiliki ruangan yang diteruskan ke belakang sebagai ekor berukuran dengan panjang 6,5 meter dan lebar 5 meter yang difungsikan sebagai gudang serta teras belakang. Bangunan di sayap kiri dan kanan masing-masing memiliki ukuran panjang 14 meter dan lebar 8 meter. Bangunan sayap terdiri dari enam ruangan. Atap bangunan induk berbentuk limas sedangkan pada bangunan sayap berupa atap pelana.

Bangunan pelengkap wisma terdapat di belakang sisi barat, merupakan bangunan yang masih terhubungan dengan bangunan induk dan difungsikan sebagai dapur, gudang, serta toilet. Termasuk di dalamnya adalah menara air, sumur, dan rumah mesin. Bangunan ini berukuran 3 x 22,50 meter, sedangkan ruangan yang terletak di ujung berukurun 3,50 x 4,85 meter. Bangunan memiliki delapan ruang yang terdiri dari 1 kamar tidur, dapur, gudang, 2 kamar mandi, 2 WC, serta 1 kamar cuci. Bangunan pelengkap di sebelah kanan berdenah L, berukuran 22,30 x 11,40 dan 11,40 x 3,20 m, serta memiliki beberapa kamar yang digunakan untuk kamar mandi dan WC. Bangunan pelengkap di sebelah kiri juga berbentuk (L) dengan ukuran 11,70 x 6,45 meter dan 27,26 x 6,20 meter serta memiliki beberapa kamar yang antara lain digunakan untuk dapur dan gudang. Pada bagian depan terdapat deretan kamar-kamar di sisi kiri dan kanan. Sedangkan dibagian utara (belakang) bangunan induk terdapat bangunan penunjang antara lain dapur, gudang, dan kamar mandi. Di halaman depan terdapat enam buah tugu berbentuk obelisk. Tugu yang paling tinggi berada di bagian tengah, dikelilingi oleh tugu-tugu lain lebih yang lebih kecil ukurannya. Keenamnya membentuk konfigurasi pentagon. Tugu ini diresmikan oleh Bung Hatta untuk mengenang tokoh-tokoh kemerdekaan yang diasingkan di Muntok. Struktur tugu berbentuk segi enam dan dibuat dari batu bata dengan perekat semen. Tugu tersebut mempunyai tinggi 17 meter dan di bagian dasarnya terdapat trap tangga yang terdiri dari 8 anak tangga yang dibuat dari koral batu kali. Di sekelilingnya terdapat pagar pengaman dari plat besi setinggi 90 cm.

Wisma Ranggam telah beberapa kali mengalami perbaikan-perbaikan untuk menjaga kelestariannya. Pada tahun 1976 dan 1982 ada penambahan ruangan, pada tahun 1998 Kanwil Depdikbud Sumatera Selatan melakukan pemugaran dengan menambahkan bangunan untuk mencegah kerusakan lebih lanjut. Tahun 2002-2004 pemugaran juga dilakukan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jambi dan pada tahun 2007 dilakukan pemintakatan. Pemugaran bagian atap dilakukan oleh Kementerian Perumahan Rakyat pada tahun 2013. Saat ini Wisma Ranggam dimanfaatkan sebagai tempat pendidikan dan pelatihan, kunjungan wisata sejarah, serta penginapan.