Rumah Pengasingan Bung Hatta

  • Rumah Pengasingan 2013

  • Ruang Tamu

  • Ruang Tamu2

  • Lemari Penyimpanan

  • Mesin Tik Bung Hatta

  • Tempat Tidur

  • Bangunan Sekolah

  • Tempat Mengajar anak-anak

  • Tempayan Air Minum di depan bangunan sekolah

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000050
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri NoPM.31/PW.007/MKP/2008

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kabupaten Maluku Tengah
Provinsi Maluku
Nama Pemilik Yayasan Warisan Budaya Banda
Nama Pengelola Yayasan Warisan Budaya Banda

Rumah Pengasingan Bung Hatta terletak di Jalan Hatta, Kelurahan Dwiwarna, Kecamatan Banda, Kabupaten Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Bangunan yang didirikan diatas lahan seluas 660 m² ini memiliki luas bangunan 441 m² dan berbatasan dengan Benteng Belgica disebelah utaranya. Bangunan Cagar Budaya ini berkaitan erat dengan peristiwa pengasingan tokoh perjuangan kemerdekaan Indonesia, yaitu Bung Hatta dan Sjahrir. Setelah dari pengasingan di Boven Digul, Bung Hatta dan Sjahrir dipindahkan ke Banda. Keduanya tiba di Banda pada tanggal 11 Februari 1936 dan untuk sementara tinggal di rumah Mr. Iwa Koesoemasoemantri. Seminggu kemudian mereka pindah ke tempat tinggal sendiri yang disewa dari seorang perkenier (tuan tanah). Rumah tersebut dalam keadaan kosong dan disewa seharga f.12,50 ($ 5,00) sebulan. Petugas yang diminta untuk melayani kebutuhan pokok kedua orang tersebut yaitu seorang sipir berkebangsaan Belanda. Rumah pengasingan itu berbatasan langsung dengan penjara yang terletak di bagian timur. Selain itu juga terletak di daerah strategis karena berdekatan dengan rumah sakit dan hanya berjarak beberapa menit dari rumah dan kantor kontrolir (Kompleks Istana Mini-Tim). Setelah tinggal bersama selama beberapa bulan, Sjahrir kemudian memutuskan untuk pindah ke rumah yang lain. Rumah pengasingan ini dibangun ulang karena hancur dibom oleh sekutu pada tahun 1944.

Rumah pengasingan Bung Hatta bergaya arstitektur kolonial yang terdiri dari beberapa bangunan, yaitu:
1. Rumah utama
Rumah utama memiliki selasar depan dengan luas ±29,25 m², ruang tamu ±36 m², tiga ruang tidur masing-masing berukuran luas ±22,5 m², ±19,8 m², dan ±19,8 m², ruang makan dengan luas ±17,6 m², dan selasar belakang dengan luas ±42,25 m². Atap rumah utama merupakan atap seng bertipe perisai dengan kuda-kuda dari kayu, sedangkan plafonnya berupa papan kayu yang ditahan oleh balok kayu. Lantai rumah utama menggunakan ubin terakota berwarna merah bata dengan ukuran yang bervariasi. Pada serambi depan terdapat pagar kayu dengan batang pagar berornamen. Selain itu juga terdapat tangga semen seperempat lingkaran dengan 3 anak tangga tanpa railing. Di bagian serambi belakang terdapat pagar tembok dan sebuah tangga lurus dari terakota dan semen tanpa railing.
2. Paviliun Samping (Paviliun Timur)
Atap bangunan bertipe perisai tumpuk yang terbuat dari seng dengan kuda-kuda kayu dan plafon bangunan berupa papan kayu yang ditahan balok. Lantai yang terdapat di salah satu ruangan depan terbuat dari terakota berwarna merah bata dengan ukuran bervariasi. Dua ruangan lain yang ada di depan lantainya dibuat dari batu alam berwarna abu-abu sedangkan dua ruangan lain yang ada di belakang lantainya terbuat dari semen polos berwarna abu-abu.
3. Paviliun Belakang (Paviliun Selatan/Sekolah Hatta)
Atap bangunan terbuat dari seng bertipe perisai dengan kuda-kuda kayu, plafond dari papan yang ditahan balok kayu, dan dinding bangunannya berupa tembok bata bercat putih. Lantai bangunan ini ditutupi oleh ubin terakota berwarna merah bata dengan ukuran bervariasi. Tangga pada bangunan paviliun belakang berupa tangga lurus dengan ubin terakota berwarna merah tua. Tangga ini mempunyai 3 anak tangga dan tanpa railing. Di paviliun belakang terdapat ruangan dengan deretan bangku dan papan tulis sebagai tempat Bung Hatta mengajar anak-anak Banda serta tempayan besar berisi air untuk minum.

Kondisi Rumah Pengasingan Mohammad Hatta saat ini kurang baik. Hal ini dikarenakan sebagian besar bangunannya terbuat dari kayu sehingga mengalami kerapuhan dan kerusakan di hampir semua bagian bangunan.