Rumah Pengasingan Mr. Iwa Koesoemasoemantri

  • Rumah Pengasingan 2013

  • Teras Depan Rumah

  • Gerbang Rumah Pengasingan

  • Rumah Pengasingan Mr. Iwa Koesoemasoemantri

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000052
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kabupaten Maluku Tengah
Provinsi Maluku
Nama Pemilik Yayasan Warisan Budaya Banda
Nama Pengelola Yayasan Warisan Budaya Banda

Rumah Pengasingan Mr. Iwa Koesoemasoemantri terletak di Jalan Sutan Syahrir, Kelurahan Dwi Warna, Kecamatan Banda, Kota Maluku Tengah, Provinsi Maluku. Bangunan satu lantai tersebut dibangun diatas lahan seluas 672.07 m2 dengan luas bangunannya yaitu 358 m2. Iwa Koesoemasoemantri lahir di Ciamis, Jawa Barat, pada tanggal 31 Mei 1899. Setelah menyelesaikan pendidikan dasar di sekolah yang dikelola oleh pemerintah kolonial Belanda, ia berangkat ke Bandung dan masuk ke Sekolah Pegawai Pemerintah Pribumi (Opleidingsschool Voor inlandse Ambtenaren, atau OSVIA ). Ia memutuskan keluar dari sekolah karena tidak mau mengadaptasi budaya Barat dalam menuntut ilmu di sekolah. Iwa kemudian pindah ke Batavia (sekarang Jakarta) untuk masuk ke sekolah hukum. Ketika tinggal di ibukota kolonial tersebut, ia bergabung dengan Jong Java, sebuah organisasi untuk pemuda Jawa.

Iwa lulus pada tahun 1921 dan melanjutkan studinya ke Universitas Leiden di Belanda. Di negara itu ia bergabung dengan Serikat Indonesia (Indonesische Vereeniging), sebuah kelompok nasionalis para intelektual Indonesia. Dia menekankan bahwa Indonesia harus bekerja sama, terlepas dari ras, keyakinan, atau kelas sosial, untuk memastikan kemerdekaan dari Belanda. Ia juga menyerukan tentang non-kerjasama dengan kekuatan-kekuatan kolonial. Pada tahun 1925 ia pindah ke Uni Soviet untuk menghabiskan setengah tahun belajar di Universitas Komunis kaum tertindas dari Timur di Moskow. Di Uni Soviet ia sempat menikah dengan seorang wanita Ukraina bernama Anna Ivanova. Dari perkawinannya tersebut, Iwa memiliki seorang putri bernama Sumira Dingli. Setelah kembali ke Hindia tahun 1927, Iwa bergabung dengan Partai Nasional Indonesia dan bekerja sebagai pengacara. Ia kemudian pindah ke Medan, Sumatera Utara, di mana ia mendirikan surat kabar Matahari Terbit, koran yang mengaspirasi hak-hak pekerja dan mengkritik perkebunan milik Belanda yang besar di daerah itu. Oleh karena tulisan-tulisannya dan mengikuti upaya untuk mengorganisir serikat dagang, pada 1929 Iwa ditangkap oleh Belanda dan menghabiskan satu tahun di penjara sebelum dibuang ke Banda Neira, Kepulauan Banda, untuk jangka waktu sepuluh tahun. Ketika diasingkan ke Banda, ia bertemu beberapa tokoh nasionalis terkemuka yang juga ada di pengasingan, misalnya Muhammad Hatta, Sutan Sjahrir, dan Tjipto Mangunkusumo. Bersama-sama mereka membangun sekolah di Banda Neira. Iwa kemudian kembali ke Batavia dan selama pendudukan Jepang (1942-1945) ia mengoperasikan sebuah firma hukum disana. Ia juga memberikan beberapa kuliah tentang penyebab nasionalis, di bawah pengawasan ketat pasukan Jepang. Secara umum Rumah Pengasingan Mr. Iwa Koesoemasoemantri terdiri atas rumah utama, paviliun kanan (paviliun timur) serta paviliun kiri (paviliun barat).

1. Rumah Utama
Atap rumah utama bertipe perisai tumpuk yang dibuat dari seng dengan lisplang berornamen dan kisi-kisi kayu di atap paling atas. Kuda-kuda bangunan ini berupa kayu balok dengan ukuran bervariasi. Pada kuda-kuda ini terdapat besi pengaku berbentuk ½ lingkaran. Dinding bangunan berupa bata yang plesteran. Lantai di serambi dan badan rumah merupakan tegel berwarna krem yang memiliki hiasan coklat dan hitam. Tegel ini berbentuk wajik dan heksagon dengan ukuran tegel 50x50 cm. Sementara lantai dapur berupa lantai terakota berbentuk persegi dengan ukuran 30x30 cm. Di serambi depan terdapat pagar kayu yang dicat hijau berbentuk pagar langkan. Tangga di bagian depan memiliki tegel bermotif floral berbentuk setengah lingkaran.

2. Paviliun Kanan (Paviliun Timur)
Sebagian besar unsur bangunan ini telah rusak parah yang tersisa adalah fasad depan berupa tembok bata plesteran yang berwarna kelabu.

3. Paviliun Kiri (Paviliun Barat)
Bangunan ini sudah hancur yang tersisa adalah bagian fasad depan saja berupa tembok bata plesteran. Pintu dan jendala yang tersisa hanya kusennya saja.

Kondisi bangunan tersebut saat ini kurang terlalu terawat karena banyak bagian bangunannya yang telah rusak. Paviliun kanan separuhnya sudah hancur, hanya menyisakan fasad depan saja dan separuhnya dijadikan tempat cuci/MCK. Sedangkan paviliun kiri sudah hancur seluruhnya tinggal fasad depan saja.