Benteng Duurstede

  • Benteng Duurstede

NO REGNAS RNCB.20151221.02.000101
SK Penetapan

SK Menteri No246/M/2015

SK Menteri No013/M/1999

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kabupaten Maluku Tengah
Provinsi Maluku
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Ternate

Benteng Duurstede yang terletak di Pulau Saparua, Maluku Tengah, merupakan salah satu bangunan peninggalan sejarah zaman VOC. Bneteng Duurstede menempati lahan dengan luas 3970 m², luas benteng 3970 m², dan luas bangunan di dalam benteng 1.429 m². Sebagai benteng pertahanan, bangunan ini dibangun di puncak bukit karang setinggi 7 meter. Denahnya berbentuk oval dan menghadap ke timur. Tinggi tembok benteng rata-rata 5 m dengan ketebalan 1,25 m, dan terdapat celah-celah untuk menempatkan meriam. Di sisi barat dan timur terdapat pos pengintai (turret).

Di dalam benteng terdapat setidaknya 9 bangunan, 3 bangunan masih utuh, selebihnya tinggal pondasi. Di sisi selatan bangunan terdapat 5 meriam dan sebuah sumur di bagian depan luar benteng. Kekhasan Benteng Duurstede yaitu penanda perlawanan Pattimura terhadap penjajahan Belanda pada tahun 1817 dan satu-satunya desain benteng masa kolonial yang berdenah oval. Sejak abad XVI Maluku telah menjadi pusat perhatian negara-negara barat untuk menanamkan kekuasaan dan menguasai rempah-rempah. Saparua menjadi salah satu daerah utama penghasil cengkeh yang menjadi perhatian negara-negara barat. Pada tahun 1691, Gubernur Nicolas van Saghen mendirikan sebuah benteng di atas bukit karang yang berada di tepi laut. Benteng ini dibuat karena Fort Hollandia sudah dianggap tidak layak digunakan. Benteng tersebut diberi nama Duurstede yang berarti “kota mahal”. Benteng ini sangat penting dari segi keletakan untuk kepentingan militer.

Ketika Inggris mengambil alih kekuasaan Pulau Saparua pada tahun 1796, Benteng Duurstede ikut dikuasai oleh Inggris. Pada tahun 1803 benteng ini dikembalikan kepada Belanda, namun di tahun berikutnya terjadi peperangan kembali antara Inggris dan Belanda yang menyebabkan Benteng Duurstede jatuh kembali ke tangan Inggris pada tahun 1810. Pada tahun 1817 seluruh Maluku termasuk Saparua diserahkan kembali kepada Belanda melalui perjanjian. Pasukan lokal yang dipekerjakan oleh Inggris yang bertugas di Benteng Duurstede akan dipindahkan ke Batavia, termasuk Pahlawan Nasional Sersan Mayor Thomas Mattulesy Pattimura. Rencana pemindahan ini memicu gerakan perlawanan yang kemudian dipimpin oleh Sersan Mayor Thomas Mattulesy Pattimura pada tanggal 16 Mei 1817. Seluruh penghuni benteng tewas kecuali putra Residen yang bernama Jan Lubert van den Berg. Jatuhnya benteng Duurstede memicu perlawanan rakyat terhadap Belanda meluas hingga Pulau Haruku dan Pulau Hitu. Perlawanan ini akhirnya gagal dan menyebabkan Pattimura ditangkap.

Oleh karena itu, VOC memusatkan perhatiannya untuk merebut kembali benteng. Segala usaha telah dilakukan VOC di antaranya adalah mengirim bantuan tentara dan persenjataan perang, namun demikian setiap penyerangan tersebut selalu gagal. Situasi ini mendorong VOC bertindak lebih agresif, Gubernur van Middelkoop terpaksa meminta bantuan kepada Sultan Ternate dan Sultan Tidore.Bangunan Cagar Budaya Benteng Duurstede kurang terawat, sudah banyak kerusakan pada bagian bangunan. Bangunan-bangunan yang masih utuh tidak dimanfaatkan kecuali satu bangunan yang menempel pada dinding dekat pintu masuk sebagai ruang informasi. Meriam-meriam yang terdapat di dalamnya masih ada dan utuh. Sumur yang berada di luar benteng tidak lagi dimanfaatkan oleh masyarakat. Di luar benteng dibangun museum yang dikelola oleh Pemerintah Kabupaten Maluku Tengah.