Rumah Tjong A Fie

  • Pintu Gerbang Rumah Tjong A Fie

  • Bangunan utama rumah Tjong A Fie (tampak depan)

  • Plang Rumah Tjong A Fi

  • Model Ragam Hias bagian atap Tjong A Fie

  • Ragam Hias Rumah Tjong A Fie

  • Ragam Hias Rumah Tjong A Fie

  • Prasasti Rumah Tjong A Fie

  • Ruang Dansa Rumah Tjong A Fie

  • Ruang Piano Rumah Tjong A Fie

NO REGNAS RNCB.20151221.02.000081
SK Penetapan

SK Menteri No246/M/2015

SK Menteri NoPM.01/PW.007/MKP/2010

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Medan
Provinsi Sumatera Utara
Nama Pemilik Keluarga Tjong A Fie
Nama Pengelola Keluarga Tjong A Fie

Bangunan rumah Tjong A Fie terdiri atas bangunan utama dengan tambahan sayap di bagian kiri dan kanannya. Antara rumah utama dan bangunan sayap dihubungkan dengan ruang terbuka. Bangunan rumah ini menepati lahan dengan luas 2.200 m² dan luas bangunan 640 m². Pintu gerbang depan merupakan akses menuju halaman depan sebelum memasuki bangunan utama. Halaman depan ini ditanami berbagai tanaman hias dan bunga-bungaan. Lantai teras rumah merupakan tegel bermotif geometris berasal dari Italia. Porselen ini menghiasi hampir keseluruhan lantai satu, sedangkan lantai dua terbuat dari kayu. Plafon teras dibuat tinggi dengan pilar (tiang) beton yang menyambung hingga lantai dua. Plafon tersebut dihiasi dengan ornamen yang masih terjaga keasliannya. Gapura masuk beratap genteng dan pada puncak atap terdapat list yang terbuat dari beton dan ornamen suluran. Di sisi kiri dan kanan gapura terdapat arca singa.

Secara keseluruhan gaya bangunan merupakan kombinasi arsitektur Cina, Eropa, dan Melayu. Hal tersebut nampak dari bentuk jendela segi empat terbuat dari kayu yang di atasnya berbentuk lengkung dengan hiasan motif bunga yang sekaligus berfungsi sebagai ventilasi. Bangunan ini berlantai dua berdinding, lantainya tegel berhias geometris, dan tiangnya beton bertulang. Bangunan rumah utama lantai satu di bagian depan (sisi barat) adalah ruang tamu. Ruang tamu ini terbagi menjadi tiga bagian (ruangan). Ruangan I atau ruang tengah adalah ruang tamu utama berukuran paling luas. Di ruangan ini terdapat meja dan kursi kayu berukir dan dilapisi batu marmer yang sangat mewah, untuk menunjukkan tingkat sosial pemiliknya. Ruang tamunya diperuntukkan untuk tamu-tamu yang sifatnya lebih umum dan tidak mempunyai hubungan yang dekat dengan pemilik rumah. Bangunan utama terdiri dari 2 lantai dan 35 kamar. Bangunan rumah utama lantai satu di bagian belakang terbagi menjadi beberapa ruangan yang semuanya mempunyai akses ke halaman depan (melalui pintu utama) maupun ke ruangan terbuka di tengah rumah, artinya semua ruangan menghadap ke arah barat. ruangan-ruangan tersebut antara lain: ruang tidur tjong a fie, ruang altar keluarga, ruangan sisi selatan, ruang makan, ruang dapur, halaman belakang.

Lantai dua pada bangunan utama ini memiliki desain yang sama dengan lantai satu. Di lantai ini terdapat ruangan untuk berdansa, yang letaknya tepat di atas ruang tamu. Di ruangan ini tidak banyak terdapat perabotan, hanya sepasang kaca besar yang masing-masing diletakkan menempel dinding di sisi utara dan selatan. Berhadapan dengan ruang dansa adalah ruang pemujaan dewa. Bangunan Cagar Budaya Rumah Tjong A Fie merupakan rumah milik keluarga seorang saudagar berkebangsaan Tiongkok. Keluarga tersebut menguasai perkebunan berbagai tanaman komoditas, perdagangan, dan membangun pertokoan di sepanjang Jalan Kesawan (sekarang Jalan Ahmad Yani). Tjong A Fie telah membangkitkan perekonomian di kota Medan. Tjong A Fie adalah seorang filantropis yang membantu perkembangan ekonomi dan sosial antara lain membantu membangun Istana Maimun, Masjid Raya Medan, dan taman. Peranan Tjong A Fie tidak hanya di Indonesia saja. Beliau juga terkenal hingga ke Penang, Singapura, Hong Kong, Tiongkok, dan Amsterdam. Di Amsterdam Tjong A Fie menjadi salah satu penyumbang dana pembangunan gedung Koninklijk Instituut voor de Tropen. (cek)

Tjong Fung Nam yang lebih dikenal dengan nama Tjong A Fie dilahirkan tahun 1860 di Desa Sungkow, daerah Moyan atau Meixien dan berasal dari suku Khe atau Hakka. Pada tahun 1880, setelah berbulan-bulan berlayar ia tiba di Labuhan Deli. Empat bulan sebelum meninggal dunia, Tjong A Fie telah membuat surat wasiat di hadapan notaris Dirk Johan Facquin den Grave. Isinya adalah mewariskan seluruh kekayaannya di Sumatera maupun di luar Sumatera kepada Yayasan Toen Moek Tong yang harus didirikan di Medan dan Sungkow pada saat ia meninggal dunia. Bangunan Cagar Budaya Rumah Tjong A Fie dalam kondisi relatif baik dan terawat. Kini rumah tersebut menjadi museum dan objek wisata yang dibuka untuk umum.