Percandian Panataran

  • Candi Angka Tahun Kompleks Percandian Panataran

  • Gapura II yang Berjajar dan Sudah Rusak

  • Batur III Kompleks Percandian Panataran

  • Batur IV Kompleks Percandian Panataran

  • Batur V Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi Bangunan IV Kompleks Percandian Panataran

  • Candi Naga Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi Bangunan V Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi Bangunan VI Kompleks Percandian Panataran

  • Gapura III Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi Bangunan VII Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi VIII Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi Bangunan X Kompleks Percandian Panataran

  • Fondasi Bangunan XI Kompleks Percandian Panataran

  • Kaki Candi Perwara I Kompleks Percandian Panataran

  • Kaki Candi Perwara II Kompleks Percandian Panataran

  • Candi Induk Kompleks Percandian Panataran

  • Prasasti Palah yang Terdapat pada Kompleks Percandian Panataran

  • Kaki Perwara III Kompleks Percandian Panataran

  • Kaki Candi Perwara IV Kompleks Percandian Panataran

  • Altar yang Terdapat pada Kompleks Percandian Panataran

  • Kolam atau Petirtaan Kompleks Percandian Panataran

  • Susunan Percobaan Tubuh Candi Panataran

  • Teras Pendopo Candi Angka Tahun pada Tahun 1937

  • Candi Induk Panataran

  • Kompleks Percandian Panataran

  • Relief pada Kompleks Percandian Panataran

  • Relief pada Kompleks Percandian Panataran

  • Relief pada Dinding Kolam Suci Kompleks Percandian Panataran

NO REGNAS RNCB.20151218.04.000097
SK Penetapan

SK Menteri No243/M/2015

SK Menteri No177/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Blitar
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto

Percandian Panataran yang terletak di Dukuh Krajan, Kelurahan Penataran, Kecamatan Nglegok, Kabupaten Blitar, Jawa Timur, ini dibangun diatas lahan seluas 13.560 m2. Situs ini berada di sebelah barat daya lereng Gunung Kelud dan merupakan percandian yang istimewa karena didirikan di lahan yang dianggap sakral sejak zaman Kerajaan Kadiri (abad ke-12). Di dalam kompleks tersebut masih terdapat prasasti dari masa Kerajaan Kadiri, yaitu Prasasti Palah berangka tahun 1197 M yang dikeluarkan oleh Raja Srengga. Prasasti tersebut masih insitu (berada di tempat aslinya) dan berisi tentang hadiah sima untuk seorang mpu yang bernama Mpu Iswara Mapañji Jagwata. Anugerah tersebut diberikan kepada Sang mpu sebab ia telah berjasa karena melakukan puja setiap hari kepada Paduka Bhatara ri Palah. Percandian ini ditemukan oleh seorang Belanda bernama Dr. Horsfield. Hal ini seperti yang tertulis dalam buku The History of Java karya Sir Stamford Raffles. Pada tahun 1949 Jonathan Rigg melakukan penelitian terhadap Candi Panataran yang dituangkan dalam tulisannya yang berjudul “Tour from Soerabaia”. Beberapa peneliti lain yang juga mengkaji candi ini misalnya J. Crawfurd, seorang pembantu residen Yogyakarta, dan Van Meeteren Brouwer pada tahun 1828, F.W Junghun pada tahun 1884, dan N.W. Hoepermans yang pada tahun 1884 melakukan inventarisasi candi.

Menurut sumber lain yang berasal dari Kakawin Nagarakertagama, Kidung Margasmara, ditulis pada tahun 1458 Masehi, dan naskah Sunda Kuna Bhujangga Manik, ditulis sekitar tahun 1500-an Masehi, nama asli Candi Panataran adalah Palah atau Rabut Palah. Di dalam Kidung Margasmara juga tercantum kata Panataran yang bermakna halaman. Kemungkinan besar nama Panataran dipakai untuk menamai seluruh komplek candi yang berfungsi sebagai aktivitas agama, sedangkan Rabut Palah merupakan bangunan sucinya. Nama Palah juga dapat dilihat dalam Kakawin Nagarakertagama yang menjelaskan bahwa Raja Majapahit Hayam Wuruk berkeliling ke daerah-daerah kekuasaan Majapahit, termasuk singgah ke Palah. Menurut Ph. Soebroto, kompleks Percandian Panataran mulai dibangun pada masa Raja Airlangga. Saat itu Airlangga membangun sebuah bangunan suci untuk memperingati peristiwa penyerangan Haji Wurawari terhadap Raja Dharmawangsa Teguh yang terjadi pada tahun 1006 M. Penggambaran relief Ramayana dan Krsnayana pada Candi Panataran dimaksudkan sebagai legitimasi kedudukan Raja Airlangga sebagai raja yang memiliki kemampuan dalam menyelamatkan bumi dari kehancuran.

Proses pembangunan Candi Panataran dilanjutkan pada masa Kerajaan Majapahit. Penambahan bangunan di Percandian Panataran dimulai oleh Raja Jayanagara, raja kedua Majapahit, yang memerintah dari tahun 1309 M sampai 1328 M. Proses pembangunan dilanjutkan oleh Ratu Tribhuwanottunggadewi yang memerintah sejak tahun 1328 M hingga 1350 M. Selanjutnya pada masa Hayam Wuruk dan Suhita kemungkinan besar masih terjadi penambahan bangunan di kompleks candi tersebut. Dalam rentang tahun 1350 M hingga 1477 M masih terdapat kegiatan penyempurnaan terhadap Percandian Panataran. Secara keseluruhan proses pembangunan Kompleks Candi Panataran berlangsung kurang lebih selama 4 abad sehingga keberadaan Kompleks Panataran ini dimulai sejak masa Kerajaan Kadiri hingga zaman Majapahit. Secara umum candi peninggalan Kerajaan Kadiri dan Majapahit ini dalam kondisi baik, meskipun banyak bagian bangunan yang telah rumpang. Dewasa ini percandian Panataran telah menjadi objek wisata budaya yang dikunjungi oleh para wisatawan domestik maupun mancanegara.