Candi Cetho

  • Situs Candi Cetho Tampak Depan Setelah Mengalami Pemugaran pada Tahun 1978

  • Arca-arca yang Berperawakan Manusia yang Terdapat di Situs Candi Cetho

NO REGNAS RNCB.20151218.04.000098
SK Penetapan

SK Menteri No243/M/2015

SK Menteri NoPM.24/PW.007/MKP/2007

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Karanganyar
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Tengah

Situs Candi Cetho terletak di Kelurahan Gumeng, Kecamatan Jenawi, Kabupaten Karanganyar, Provinsi Jawa Tengah. Candi ini dibangun diatas lahan seluas 6907,34 m2 dan terdiri dari struktur baru dan lama. Luas struktur lama yaitu 548,51 m2, struktur baru luasnya1159,59 m2, dan bangunan baru yang ada di situs memiliki luas 490,62 m2. Situs Candi Cetho dibangun sekitar tahun 1451-1470 pada akhir masa Kerajaan Majapahit, ketika pengaruh Hindu di Jawa mulai pudar dan unsur Indonesia asli dari tradisi prasejarah mulai hidup kembali. Ciri khas seni arca pada masa misalnya dibuat berukuran besar tetapi pahatannya lebih sederhana, contohnya adalah arca Bima yang ada di halaman pertama. Dari sisi arsitektur gaya bangunan masa itu menyerupai punden berundak yang berkembang di Gunung Penanggungan dan Gunung Arjuna, Jawa Timur. Nama Cetho, yang dalam bahasa Jawa berarti ‘jelas’, digunakan sebagai nama dusun tempat candi ini berada karena dari Dusun Cetho orang dapat dengan jelas melihat ke berbagai arah. Situs Candi Cetho mempunyai kaitan erat dengan Situs Candi Sukuh yang dibangun tahun 1439 M. Kedua candi ini juga letaknya relatif saling berdekatan. Pembangunan kedua candi diperkirakan berhubungan dengan ritual upacara ruwatan. Bernet Kempers dalam Ancient Indonesian Art berpendapat bahwa Situs Candi Cetho sejak awal didirikan merupakan situs suci yang berhubungan dengan penghormatan arwah-arwah leluhur yang pada paruh pertama abad XV diubah menjadi sebuah monumen yang mengandung unsur-unsur dari kebudayaan Hindu-Jawa dengan karakter lokal dan sarana pembebasan arwah leluhur dari semua ikatan duniawi.

Situs ini pertama kali dilaporkan oleh Van De Vlis pada tahun 1451-1470. Penemuan ini menarik perhatian sejumlah ahli purbakala karena unsur nilai kepurbakalaannya, misalnya W.F. Sutterheim, K.C. Crucq, N.j. Krom, A.J. Bernet Kempers, dan Riboet Dharmosoetopo. Pada tahun 1928 Dinas Purbakala mengadakan penelitian dalam rangka pemugaran, dari penelitian ini tidak diperoleh cukup bukti untuk merekonstruksi bangunan batu yang berada di puncak bukit. Berdasarkan penelitian Van De Vlis maupun A.J. Bernet Kempres, Situs Candi Cetho terdiri atas 14 teras. Namun kenyataanya dilapangan saat ini hanya terdiri dari 13 teras yang tersusun dari barat ke timur dengan pola susunan makin ke belakang makin tinggi dan dianggap paling suci. Masing-masing halaman teras dihubungkan oleh tangga yang seolah-olah membagi halaman teras menjadi dua bagian. Pada teras terakhir terdapat candi induk. Di sisi timur teras paling bawah terdapat gapura yang merupakan pintu gerbang Situs Candi Cetho. Di depan gapura terdapat arca batu yang oleh penduduk sekitar disebut Arca Nyai Gemang Arum.

Teras ke-1
Di sisi selatan teras pertama terdapat bangunan tanpa dinding yang berdiri diatas pondasi setinggi kurang lebih 2 m. Di dalam bangunan terdapat susunan batu yang tampaknya sering digunakan untuk meletakkan sesajian. Di ujung barat jalan setapak yang melintasi halaman teras pertama, terdapat gapura batu dengan tangga batu. Tangga menuju teras berikutnya ini diapit oleh sepasang arca Nyai Agni. Salah satu dari kedua arca ini masih terlihat utuh.

Teras ke-2
Pada halaman teras ke-2 terdapat susunan batu yang terhampar di halaman, membentuk gambar seekor garuda terbang dengan sayap membentang. Di bagian punggung garuda terdapat susunan batu yang menggambarkan seekor kura-kura. Tepat di atas kepala garuda terdapat susunan batu berbentuk matahari bersinar, segitiga sama kaki dan Kalacakra (kelamin laki-laki). Di ujung masing-masing sayap garuda terdapat dua bentuk matahari lain. Garuda adalah burung kendaraan Wisnu yang yang melambangkan dunia atas, sedangkan kura-kura yang merupakan titisan Wisnu merupakan simbol dunia bawah. Kura-kura dianggap sebagai binatang sakti yang mampu menyelami samudera untuk mendapatkan air kehidupan (tirta amerta). Adanya kalacakra di halaman ini yang menyebabkan Situs Candi Cetho disebut sebagai candi 'lanang' (lelaki). Matahari bersinar 7 (tujuh) melambangkan Sang Surya yang diyakini sebagai sumber kekuatan kehidupan. Segitiga sama kaki melambangkan pedoman bagi dunia yang sedang tenggelam kedalam lautan kegelapan. Di tengah segi tiga sama kaki terdapat lingkaran yang memuat tiga ekor katak, masing-masing menghadap ke sudut yang berbeda. Dalam setiap segitiga terdapat lukisan seekor kadal. Pada garis berat yang membagi sisi timur terdapat bentuk belut bermahkota dengan gambar ketam di sisi selatan dan mimi (sejenis binatang laut) di sisi utara. Keseluruhan bentuk tersebut merupakan gambaran harapan akan kesuburan, baik kesuburan tanah maupun manusia. Segitiga dengan bentuk kelamin laki-laki di puncaknya melambangkan kesatuan wanita dan pria, dua makhluk yang berlawanan sifatnya namun tidak dapat dipisahkan satu sama lain sebagai perlambang jagad kecil (mikrokosmos) dalam diri manusia. Di sisi barat teras kedua, masing-masing di kiri dan kanan tangga menuju teras berikutnya, terlihat dua buah ruangan yang hanya tinggal fondasinya saja. Tangga menuju teras berikutnya merupakan susunan batu andesit yang susunannya tidak rapi. Di kiri dan kanan tangga terdapat reruntuhan batu yang tidak jelas bentuk aslinya.

Teras ke-3
Teras ke-3 berupa halaman yang tidak terlalu luas. Seperti yang terdapat di teras sebelumnya, di sisi barat teras ini juga terdapat sepasang ruangan yang mengapit jalan menuju tangga ke teras diatasnya. Di dalam ruangan terdapat susunan batu membentuk segi empat membujur dari utara ke selatan. Pada dinding susunan batu tampak relief bergambar manusia dan binatang. Relief tersebut merupakan cuplikan dari Kidung Sudamala. Relief ini merupakan salah satu bukti yang menguatkan dugaan bahwa Situs Candi Cetho dibangun untuk tujuan 'ruwatan'. Tangga menuju teras berikutnya terbuat dari batu andesit yang sangat rapi susunannya, dibuat bertingkat dengan jeda (landing) yang cukup lebar di setiap tingkat. Tebing di kiri dan kanan tangga disangga oleh turap batu bersusun. Tidak diperoleh informasi apakah tangga ini merupakan hasil pemugaran yang pernah dilakukan sebelumnya atau merupakan tangga yang asli.

Teras ke-4
Di sisi dalam (barat) teras ke-4 terdapat sepasang arca Bima yang menjaga sebuah tangga batu menuju teras ke-5.

Teras ke-5
Pada teras ke-5 terdapat sepasang bangunan beratap, yang disebut pendapa luar. Bangunan tanpa dinding tersebut mengapit jalan menuju tangga ke teras ke-6.

Teras ke-6
Pada sisi barat teras ke-6 terdapat sebuah arca Kalacakra dan sepasang arca Ganesha yang berada di depan kaki tangga menuju ke teras ke-7. Tangga menuju teras ke-7 ini dibuat bertingkat 3. Tebing di kiri dan kanan tangga diperkuat dengan turap batu. Di puncak tangga terdapat gapura yang merupakan pintu masuk ke teras ke-7.

Teras ke-7
Teras ke-7 merupakan sebuah halaman yang dikelilingi oleh dinding batu. Pada teras ini juga terdapat sepasang pendapa beratap tanpa dinding yang disebut Pendapa Dalam. Di sisi barat Pendapa Dalam terdapat tangga menuju ke teras berikutnya.

Teras ke-8
Pada teras ke-8 terdapat sebuah ruangan yang digunakan untuk sembahyang. Di depan pintu ruangan terdapat dua buah arca batu dengan tulisan Jawa yang menunjukkan tahun dibangunnya Situs Candi Cetho. Di sisi barat, tepatnya di belakang ruangan terdapat tangga menuju teras ke-9.

Teras ke-9
Di kiri dan kanan sisi barat teras ke-9 terdapat ruangan yang menghadap ke timur. Kedua ruangan tersebut berfungsi sebagai tempat penyimpanan benda kuno. Di sisi timur, berseberangan dengan masing-masing ruang penyimpanan tersebut terdapat dua bangunan. Bangunan di sisi utara berisi arca Sabdapalon dan bangunan di sisi selatan berisi arca Nayagenggong. Keduanya merupakan tokoh punakawan (pengasuh sekaligus penasehat kerajaan) pada masa itu. Sisi barat teras ke-9 dibatasi oleh dinding batu yang berfungsi sebagai gapura masuk ke sebuah lorong tangga batu menuju ke sebuah ruangan di teras ke-10.

Teras ke-10
Pada teras ini terdapat sebuah ruangan yang masing-masing sisinya terdapat tiga buah bangunan kayu yang saling berhadapan. Dalam masing-masing bangunan terdapat sebuah arca. Salah satu di antara deretan arca yang terletak di deretan utara adalah arca Prabu Brawijaya. Di deretan selatan terdapat arca Kalacakra. Ujung barat deretan selatan merupakan tempat penyimpanan pusaka Empu Supa, seorang empu (pembuat senjata pusaka) yang terkenal dan dihormati pada masa hidupnya. Sisi barat teras kesepuluh dibatasi oleh dinding batu yang berfungsi sebagai gapura masuk ke sebuah lorong tangga batu menuju ke teras ke-11.

Teras ke-11
Pada teras ini, yaitu di puncak lorong terdapat sebuah dinding batu setinggi sekitar 1,60 meter yang menyekat tangga dengan ruang utama. Ruang utama berupa bangunan tanpa atap, dikelilingi dinding batu setinggi hampir 2 m, dengan luas sekitar 5 m². Ruang utama yang merupakan pesanggrahan Prabu Brawijaya ini letaknya lebih tinggi dari semua ruang lain, sehingga dari tempat ini dapat dilihat dengan jelas ruang-ruang di bawahnya.

Bentuk seni bangunan Situs Candi Cetho mempunyai kesamaan dengan Situs Candi Sukuh, yaitu dibangun berteras sehingga mengingatkan kita pada punden berundak masa prasejarah. Bentuk susunan bangunan semacam ini sangatlah spesifik dan tidak ditemukan pada kompleks candi lain di Jawa Tengah. Pada Situs Candi Cetho banyak dijumpai arca-arca yang mempunyai ciri-ciri masa prasejarah, misalnya arca digambarkan dalam bentuk sederhana, kedua tangan diletakkan di depan perut atau dada. Sikap arca semacam ini menurut para ahli mengingatkan pada patung-patung sederhana di daerah Bada, Sulawesi Tengah. Selain itu juga terdapat relief-relief yang menggambarkan adegan cerita Sudamala seperti yang ada di Situs Candi Sukuh dan relief-relief binatang seperti kadal, gajah, kura-kura, belut dan ketam. Sudamala merupakan cerita ruwat yang berkembang pada masa akhir Majapahit. Kata Sudamala dapat diartikan sebagai bersih dari noda. Jika dihubungkan dengan tema ceritanya, maka Sudamala, yang menjadi tokoh utama dalam cerita, merupakan orang yang membersihkan noda atau dengan kata lain orang yang meruwat.

Pada tahun 1975 – 1976 Situs Candi Cetho pemugaran yang dilakukan oleh Sudjono Hoemardhani, Inspektur Jenderal Pembangunan (Irjenbang), tidak sesuai dengan prinsip-prinsip pelestarian sehingga keaslian bentuknya tidak dapat dipertanggung-jawabkan secara ilmiah. Hal ini jelas memunculkan banyak kritikan meskipun konsep punden berundak masih dipertahankan, antara lain dengan menambahkan gapura-gapura baru di pintu masuk, bangunan dari kayu, arca-arca termasuk phallus, dan bangunan utama menyerupai piramida pada bagian puncak. Secara garis besar kondisi saat ini Situs Candi Cetho masih tetap terawat. Situs Candi Cetho sampai saat inipun tetap digunakan oleh penduduk sekitar yang memang merupakan penganut agama Hindu sebagai tempat pemujaan dan tempat pelangsungan upacara-upacara keagamaan, dengan menambahkan sebuah teras untuk menempatkan patung Dewi Saraswati bergaya seni arca Bali sebagai objek pemujaan di teras yang terakhir.