Makam Sunan Giri

  • Cungkup makam 1 (Pendapa Agung)

  • Cungkup makam 3 (Cungkup Makam Sunan Giri dan isteri)

  • Cungkup makam 4 (cungkup makam Pangeran Seda Ing Margi)

  • Cungkup makam 5 (cungkup makam kerabat Sunan Giri yang tidak dikenal namanya)

  • Makam-makam kuna yang tidak bercungkup di halaman III

  • Gapura Naga

NO REGNAS RNCB.20151221.04.000102
SK Penetapan

SK Menteri No247/M/2015

SK Menteri NoPM.56/PW.007/MKP/2010

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Gresik
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto dan Yayasan Sunan Giri.

Kompleks makam ini terdiri atas tiga halaman yang semakin ke belakang semakin meninggi. Situs Makam Sunan Giri menempatu lahan dengan luas 15.975 m2. Masing-masing halaman dibatasi oleh pagar dan gerbang berupa gapura. Di setiap halaman tersebut terdapat makam-makam. Pada masa lalu kompleks ini merupakan lokasi pesantren yang kemudian berkembang menjadi Kedaton Giri. Halaman I terletak di bagian paling bawah, terluas, dan terluar dari Kompleks Makam Sunan Giri. Pintu masuk Halaman I ditandai dengan gapura bentar berbahan bata. Pada bagian ambang bawah pintu gapura terdapat trap tangga dengan pipi tangga. Pada kedua pipi tangga tersebut terdapat arca naga berbahan batu gamping yang melambangkan naga loro warnaning pada atau berangka tahun 1428 S = 1506 M. Angka tahun ini diduga merupakan angka tahun pembangunan gapura bentar. Makam kuna yang terdapat pada halaman I berjumlah sekitar 56 makam dengan keletakan yang tidak beraturan. Di halaman ini terdapat dua cungkup dari kerabat Sunan Giri, cungkup sebelah kanan jalan adalah cungkup makam Panembahan Tamengrogo, sedangkan di sebelah kiri jalan adalah cungkup makam Panembahan Sonto Putro. Sebelah timur halaman I terdapat sebuah telaga yang berukuran diameter sekitar 20 meter.

Halaman II terletak di sebelah utara halaman I. Pintu masuk halaman II berbentuk gapura bentar berbahan batu gamping yang simetris dengan gapura naga. Pada halaman ini terdapat dua teras yaitu teras 1 dan teras 2. Teras 2 lebih tinggi daripada teras 1 dan pada masing-masing teras terdapat makam-makam kuna. Halaman III terletak di sebelah utara halaman II, merupakan halaman paling belakang dan paling tinggi di antara halaman yang lain. Halaman ini merupakan halaman inti di Kompleks Makam Sunan Giri yang dikelilingi dengan pagar. Pagar di sisi selatan dihiasi dengan batu karang dalam jajaran pilar. Ada dua gapura paduraksa di halaman III, yakni: Gapura ini terdapat di pagar selatan halaman III, tepat di sebelah utara gapura bentar halaman II. Gapura kori agung 1 merupakan pintu masuk halaman III dari arah selatan dan Gapura Kori Agung 2 gapura ini terdapat di sisi timur halaman III. Ukuran gapura kori agung 2 lebih kecil dibandingkan gapura kori agung 1. Pada Halaman III Kompleks Makam Sunan Giri terdapat lima makam bercungkup, baik yang berdinding ataupun tidak berdinding. Selain makam-makam dalam cungkup, di halaman terbuka pada halaman III ini terdapat beberapa makam kuna dengan pola yang tidak beraturan, berbahan batu putih.

Kondisi Situs Cagar Budaya Kompleks Makam Sunan Giri saat ini dalam keadaan terawat dan dimanfaatkan sebagai salah satu objek wisata religi di Jawa Timur. Nama kecil Sunan Giri adalah Raden Paku, putera Wali Lanang atau Syeh Maulana Ishak dari Blambangan. Sewaktu kecil dia dibuang oleh ibunya ke laut (Selat Bali) menggunakan peti kayu, kemudian dipungut sebagai anak angkat oleh Syahbandar di Gresik bernama Nyi Gede Pinatih, dan diberi nama Joko Samudro (Djajaningrat, 1963: 24). Pendapat lainnya yang menyatakan bahwa Sunan Giri juga merupakan keturunan Rasulullah SAW, yaitu melalui jalur keturunan Husain bin Ali. Dalam Hikayat Banjar, Pangeran Giri (alias Sunan Giri) merupakan cucu Putri Pasai dan Dipati Hangrok (alias Brawijaya VI). Perkawinan Putri Pasai dengan Dipati Hangrok melahirkan seorang putera. Putera ini yang tidak disebutkan namanya menikah dengan puteri Raja Bali, kemudian melahirkan Pangeran Giri. Raden Paku menikah dengan puteri Sunan Ampel bernama Dewi Murtasiah dan bermukim di Giri. Di Giri, beliau mendirikan pondok pesantren sebagai pusat pendidikan agama Islam dan juga merupakan pusat pemerintahan. Sunan Giri mendirikan kedaton di atas sebuah bukit yang kemudian dikenal dengan Giri Kedaton. Dalam babad Gresik disebutkan bahwa bangunan yang terdapat di Giri Kedaton tunda pitu (bertingkat tujuh), ditandai dengan sengkala yang menunjukkan angka tahun 1408 Saka atau 1486 M.

Pesantren Giri kemudian menjadi terkenal sebagai salah satu pusat penyebaran agama Islam di Jawa, bahkan pengaruhnya sampai ke Madura, Lombok, Kalimantan, Sulawesi, dan Maluku. Pengaruh Giri terus berkembang sampai menjadi kerajaan kecil yang disebut Giri Kedaton, yang menguasai Gresik dan sekitarnya selama beberapa generasi sampai akhirnya ditumbangkan oleh Sultan Agung. Pesantren Sunan Giri berperan penting dalam penyebaran agama Islam di wilayah Indonesia bagian timur. Beberapa tindakan pelestarian telah dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto diantaranya: pertama, Pemugaran cungkup makam Sunan Giri dilaksanakan dalam empat tahap, yaitu tahun 1988/1989 sampai dengan 1991/1992, dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian / Pemanfaatan Peninggalan Purbakala Jawa Timur. Kedua, pemugaran cungkup makam Panembahan Kawis Guwa di kompleks makam Sunan Prapen oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur tahun 1995. Ketiga, kegiatan registrasi dan inventaris terhadap benda cagar budaya dan situs di kawasan Giri dan wilayah Kabupaten Gresik lainnya telah dilakukan oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Trowulan tahun 2002.