Candi Jago

  • Candi Jago

  • Kisah Kunjarakarna di relief Candi Jago

  • Fragmen Relief Tantri Kamandaka Candi Jago

  • Kepala Kala Candi Jago

  • Relief di Teras II

  • Relief di Teras II

  • Relief di Teras II

  • Relief di Candi Jago, Tantri Kamandaka (bawah), Kunjarakarna (tengah), dan Arjunawiwaha (atas)

  • Relief di Teras Ketiga yang Memuat Cerita Parthayajna

  • Relief di Teras Kedua yang Memuat Cerita Kunjarkarna

  • Bagian Penampil Teras I Candi Jago

  • Tangga Menuju Teras Kedua

  • Panil-Panil Relief Arjunawiwaha pada Dinding Penampil Teras ketiga Candi Jago

  • Arca Amoghapasa di Candi Jago

  • Candi Jago Tampak Barat Daya

  • Candi Jago Tampak Depan (barat)

  • Candi Jago Tampak Timur Laut

  • Halaman Depan Candi Jago

  • Kala Di halaman Candi Jago

NO REGNAS RNCB.20160826.04.000445
SK Penetapan

SK Menteri No177/M/1998

SK Menteri No203/M/2016

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Malang
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur

Situs Cagar Budaya Candi Jago merupakan kepurbakalaan khas Majapahit berdenah empat persegi panjang dengan kaki candi berundak teras tiga dan badan candi tidak berada di pusatnya tetapi di bagian paling belakang dari teras tertinggi. Atap candi sudah tidak ada dan diduga berbentuk meru bertingkat seperti di Bali, karena pada dinding kaki Candi Jago ada relief candi dengan atap bentuk meru tumpang sembilan. Kemungkinan gambar relief itu merupakan bentuk Candi Jago. Keunikan konstruksi Candi Jago makin ke atas makin bergeser ke belakang. Setiap tingkat memiliki teras lebar di bagian depan, tetapi sempit di bagian belakang. Di tingkat ketiga tampak satu pintu besar dengan sebagian tembok batu mengelilingi ruangan. Tembok itu tidak lagi utuh. Salah satu ciri relief Candi Jago menunjukkan adanya horror vacuum, yaitu ketakutan akan ruang kosong.

Candi Jago dipenuhi dengan panel-panel relief yang dipahat rapi mulai dari kaki sampai ke dinding ruangan teratas. Hampir tidak terdapat bidang yang kosong, karena semua terisi dengan aneka ragam hiasan. Pembangunan Candi Jago berkaitan erat dengan wafatnya raja Wisnuwardhana. Sesuai dengan agama yang dianut oleh Raja Wisnuwardhana yaitu Syiwa Budhha Tantrayana, maka relief pada Candi Jago mengandung ajaran Hindu maupun Buddha. Prinsip toleransi kehidupan antarumat beragama Hindu dan Buddha sudah tercermin pada karya sastra yang berkembang pada abad XIII-XV. Prinsip tersebut dipertegas lagi dalam wujud relief dan seni arca Candi Jago. Ajaran Hindu dan Buddha tersebut tercermin pada relief naratif pada dinding-dinding teras, dengan urutan sebagai berikut:

1. Tingkat pertama berisi cerita dari Tantri Kamandaka yang berkaitan dengan cerita binatang
2. Tingkat kedua menunjukkan kisah Kunjarakarna
3. Tingkat ketiga menggambarkan Parthayajna menampilkan lima bersaudara Pandawa
4. Tingkat keempat menggambarkan cerita Arjunawiwaha
5. Tingkat kelima khusus untuk cerita Krisnayana, yang berfokus pada Krisna.

Candi Jago menurut kakawin Nagarakertagama, nama aslinya adalah Jajaghu. Candi ini didirikan pada masa Kerajaan Singhasari pada abad ke-13. Candi ini dihubungkan dengan tokoh Wisnuwardhana, salah seorang raja Singhasari. Candi ini beraliran agama Syiwa Buddha Tantrayana. Hal tersebut diketahui dari Arca Amoghapasa yang terdapat di pelataran halaman Candi Jagoyang merupakan dewa tertinggi dalam ajaran Buddha Tantrayana. Arca ini adalah perwujudan dari Wisnuwardhana yang wafat pada tahun 1268 M. Pada tahun 2015 dilakukan Studi Teknis Arkeologis oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur. Kaki candi masih relatif utuh, kerusakan terjadi di tubuh dan atap candi sehingga tubuh candi hanya tinggal sebagian di sisi utara dan atapnya tidak ada lagi, diperkirakan terbuat dari bahan yang mudah rusak. Sekeliling candi merupakan kawasan pemukiman yang padat sehingga dapat mengancam keberadaan candi.