Candi Badut

  • Candi Badut

  • Keseluruhan Candi Badut Sekitar Tahun 1941-1953

  • Keseluruhan Candi Badut Sekitar Tahun 1941-1953

  • Keseluruhan Candi Badut Sekitar Tahun 1941-1953

  • Keseluruhan Candi Badut Sekitar Tahun 1941-1953

  • Salah Satu Relung pada Badan Candi Badut Sekitar Tahun 1941-1953

  • Hiasan pada Bingkai Pintu Candi Badut Sekitar Tahun 1941-1953

  • Candi Badut dilihat dari Sisi Utara

  • Candi Badut Sisi Timur

  • Reruntuhan Candi di Depan Candi Badut

  • Lingga-Yoni dalam Bilik Candi

  • Candi Badut Tampak Depan (arah Barat)

NO REGNAS RNCB.20160826.04.000429
SK Penetapan

SK Menteri No203/M/2016

SK Menteri No177/M/1998

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Malang
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Jawa Timur

Situs Cagar Budaya Candi Badut dahulu merupakan kompleks percandian yang mempunyai pagar keliling. Letak candi induk tidak di pusat halaman candi, tetapi agak ke belakang. Denah bangunan berbentuk bujur sangkar dengan ukuran 11 x 11 m itu tidak diketahui tingginya. Bangunan induk Candi Badut menghadap ke barat dan terbuat dari batu andesit. Di depan candi induk terdapat tiga candi perwara yang diperkirakan bentuknya sama seperti candi induk. Candi perwara ini berjajar utara-selatan dan menghadap ke timur. Candi perwara yang ada di tengah berisi arca nandi, di selatan terdapat lingga-yoni dan di utara tidak diketahui isinya. Candi induk terbagi atas empat bagian, yaitu lapik, kaki, badan, dan atap. Lapik merupakan alas tempat kaki candi berdiri, bentuknya persegi panjang, dan berukuran panjang 18,9 m dan lebar 14,10 m. Kaki Candi berukuran panjang 10,76 m, lebar 10,72 m, dan tebal 1,3 m berdiri di permukaan lapik yang lebar. Kaki candi terdiri dari bingkai bawah dan badan kaki. Bingkai bawah dan atas berpelipit rata, sedangkan bingkai tengah polos. Badan candi berdenah hampir bujur sangkar dengan ukuran yang tersisa panjang 7,5 m dan lebar 7,4 m dengan tinggi 3,62 m. Di ketiga sisi di badan candi terdapat relung-relung berisi arca Durga (utara), sedangkan di timur dan selatan relung dalam keadaan kosong. Dalam bilik utama badan candi terdapat lingga-yoni. Di samping relung-relung terdapat bidang yang dihiasi pola bunga. Atap candi kondisinya sudah tidak sepenuhnya utuh. Berdasarkan rekonstruksi dalam OV 1929 atap tersebut diperkirakan bertingkat dua dengan kemuncak berbentuk ratna.

Keistimewaan Situs Cagar Budaya Candi Badut terdapat pada lapik yang berukuran tinggi 2 m tanpa hiasan sama sekali, termasuk tidak ada perbingkaian, sehingga seringkali diperkirakan kaki candi. Di sebelah barat terdapat tangga berbentuk ikal lemah. Keistimewaan lainnya adalah ragam hias pola kertas tempel yang menghias dinding candi, mirip dengan ragam hias kertas tempel yang antara lain ada di Candi Sewu dan Candi Mendut. Perbingkaian tubuh candi menunjukkan bingkai-bingkai Klasik Tua, yaitu bingkai rata, bingkai padma, dan bingkai setengah lingkaran. Tiga relung menghias tubuh candi, dua relung (selatan dan timur) telah kosong tanpa arca, hanya relung sisi utara yang berisi arca Durga Mahisasuramardini. Pintu masuk ke garbhag?ha dihias kala-makara dengan bentuk makara yang meruncing, kepala kala tanpa rahang bawah. Situs Cagar Budaya Candi Badut ditemukan pada tahun 1921 oleh Maureen Brecher, seorang kontrolir dari Kantor Pamong Praja di Malang. Pemugaran kemudian dilakukan pada tahun 1923 – 1926 oleh Dinas Purbakala di bawah pimpinan Dr. F.D.K Bosch dan B. de Haan. Situs ini merupakan peninggalan dari Kerajaan Kanjuruhan dan dibangun pada masa pemerintahan Gajayana. Jacques Dumarcay, seorang ahli bangunan kuno berpendapat jika candi ini pernah mengalami dua kali perubahan yaitu pada abad 9 dan abad 13. Candi Badut bernafaskan agama Hindu-Siwa. Purbatjaraka mengaitkan Candi Badut dengan Prasasti Dinoyo, karena tempat temuan prasasti batu tersebut di Dinoyo tidak jauh dari Candi Badut, maka diduga bahwa apa yang dimaksudkan dalam prasasti tersebut adalah Candi Badut.

Tentang nama Liswa seperti yang tertulis pada baris ke dua pada prasastinya merupakan nama lain dari Gajayana pada awalnya menimbulkan beberapa interpretasi dalam pembacaannya. Nama ini mula-mula dibaca oleh Dr. J.L.A. Brandes sebagai Limwa, kemudian Dr. F.D.K. Bosch membaca yang pertama kali dengan Liswa kemudian yang ke dua Limwa. Setelah dibaca lagi dengan seksama maka bacaan yang benar adalah Liswa yang berarti “anak kemidi, penari” dan bahasa jawanya dinamakan “badut” sehingga prasasti Dinoyo dapat dihubungkan dengan Candi Badut, sebab antara isi Prasasti Dinoyo dan Candi Badut sama-sama menunjukkan unsur Ciwaismenya yang amat menonjol. Menurut B. De Haan Candi Badut merupakan bangunan tertua di Jawa Timur karena arsitektur maupun seni arcanya memperlihatkan gaya Jawa Tengah. Pendapat ini didukung pula oleh Dr. R. Soekmono dalam disertasinya. Bangunan yang terdapat pada Situs Cagar Budaya Candi Badut sudah tidak utuh. Banyak bagian bangunan yang hilang dan belum dapat dikembalikan ke bentuk asalnya, seperti atap bangunan utama yang saat ini sudah tidak ada di tempatnya. Di bagian barat pelataran, yaitu di sisi kiri dan kanan halaman depan candi terdapat pondasi candi perwara yang masih belum dipugar. Masih banyak batu-batu di sekeliling pelataran candi yang belum dapat di kembalikan ke tempatnya semula, akan tetapi kondisinya terawat.