Gedung Museum Nasional

  • Gedung A Museum Nasional

  • Gedung A Museum Nasional pada Tahun 1868

  • Gedung A Museum Nasional pada Tahun 2014

  • Gedung A Museum Nasional Tampak Dalam

  • Gedung A Museum Nasional tampak samping

  • Gedung A Museum Nasional tampak samping

  • Quoin pada Gedung A Museum Nasional

  • Base Gedung A Museum Nasional

  • Tangga Lobi Gedung A Museum Nasional

  • Jenis Pintu pada Gedung A Museum Nasional

  • Jendela pada Gedung A Museum Nasional

  • Kolom pada Gedung A Museum Nasional

  • Pilaster pada Gedung A Museum Nasional

  • Tympanum dan Pediment

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000036
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri No0128/M/1988

SK Gubernur No475 tahun 1993

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Pusat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Museum Nasional

Gedung A Museum Nasional terletak di Jalan Medan Merdeka Barat Nomor 12, Kelurahan Gambir, Kecamatan Gambir, Jakarta Pusat. Bangunan tersebut didirikan diatas lahan seluas 23.191 m2 dengan luas bangunannya yaitu 7.167 m2. Saat ini bangunan Museum Nasional sudah diperbesar agar dapat menampung koleksi yang jumlahnya semakin bertambah. Terbentuknya Museum Nasional hingga seperti saat ini setelah melalui sejarah panjang yang dimulai sejak abad 18 M. Pada tanggal 24 April 1778 berdiri sebuah perkumpulan bagi masyarakat Batavia pecinta seni dan ilmu pengetahuan yang disebut Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Lembaga ini memiliki semboyan ‘Ten Nutte an het Gemeen’ yang berarti untuk kepentingan masyarakat umum. Tujuan didirikannya lembaga ini sangat luas, yaitu memajukan penelitian dalam bidang seni dan ilmu pengetahuan, khususnya di bidang ilmu biologi, fisika, arkeologi, kesusasteraan, etnologi, sejarah, serta menerbitkan hasil-hasil penelitian. Salah satu pendirinya, JCM Radermacher, menghibahkan rumahnya yang terletak di Jalan Kalibesar. Selain itu, ia juga menyumbangkan beberapa koleksi buku, peralatan ilmu alam, alat-alat musik, dan obyek budaya penting lainnya. Hibah yang diberikan JCM Radermacher ini merupakan dasar dari didirikannya museum dan perpustakaan.

Selama masa pemerintahan Inggris di Jawa (1811-1816), Letnan Gubernur Sir Thomas Stamford Raffles menjadi Ketua Direktur perkumpulan ini. Raffles tertarik dengan semua cabang ilmu pengetahuan, khususnya bidang antropologi, sejarah, dan arkeologi. Semakin lama jumlah koleksi yang dimiliki oleh lembaga tersebut makin bertambah banyak sehingga rumah di Jalan Kalibesar tidak lagi dapat menampung semua koleksi. Raffles kemudian memerintahkan pembangunan gedung baru untuk digunakan sebagai museum dan ruang pertemuan untuk perkumpulan Literary Society yang dulu disebut sebagai Societeit de Harmonie. Gedung yang baru dibangun itu terletak di Jalan Majapahit Nomor 3 atau yang saat ini termasuk ke dalam kompleks gedung Sekretariat Negara di dekat Istana Kepresidenan. Namun karena koleksi yang terus bertambah, gedung Societeit de Harmonie pun tidak sanggup lagi menampungnya. Oleh sebab itu, pada tahun 1862 pemerintah Hindia-Belanda memutuskan untuk membangun sebuah gedung baru di Koningsplein West (sekarang Jalan Medan Merdeka Barat). Di area tersebut dibangun pula gedung Rechst Hogeschool atau Sekolah Tinggi Hukum yang dipakai sebagai markas Kenpetai pada masa pendudukan Jepang (sekarang Kementerian Pertahanan dan Keamanan).

Titik terang pembangunan gedung baru bagi perkumpulan ini muncul dari Gerard Hendrik Uhlenbeck, seorang anggota perkumpulan yang saat itu menjabat sebagai Menteri Negara-Negara Koloni. Uhlenbeck menulis catatan kepada pemerintah tentang perlunya pembangunan gedung baru pada 1 Maret 1862. Selain itu pada 19 April 1862 Uhlenbeck juga menulis surat kepada Raja Willem III yang menjelaskan masalah perlunya dibangun gedung baru. Di dalam suratnya ia menjelaskan perkumpulan ini menempati gedung yang sudah kumuh dan tidak mampu menampung koleksi perpustakaan dan koleksi Hindia-Belanda yang sangat berharga. Akhirnya, pada tanggal 22 April 1862 Raja Willem III mengabulkan permintaan Uhlenbeck. Berdasarkan surat Uhlenbeck kepada Gubernur Jenderal pada tanggal 24 April 1862 mengenai pembangunan gedung, dikeluarkanlah surat keputusan dari Gubernur Jenderal tertanggal 22 Juni 1862 yang menegaskan pendirian gedung dengan subsidi biaya sebesar f 175.000. Dewan Hindia Belanda kemudian berkoordinasi dengan Direktur Burgerlijke Openbare Werker (BOW), H. de Bruijn, mengenai rencana pembangunan gedung baru dan menyusun rencana kebutuhan ruang gedung baru.

Pada bulan Oktober 1862 direktur BOW mengalami kendala lain disamping kendala finansial dalam merealisasikan program pembangunan gedung di Rijswijk. Oleh karena itu, ia menyarankan untuk menyesuaikan permintaan program dan kompromi dengan situasi gedung yang lebih kecil. Selain itu, de Bruijn juga menyarankan untuk mencari lokasi alternatif di sisi Koningsplein yang sesuai dengan anggaran. Setelah melalui berbagai pertimbangan, sebidang tanah di sisi barat Koningplein akhirnya diputuskan oleh Gubernur Jenderal Sloet van de Beele untuk menjadi lokasi gedung baru.

Hingga tahun 1864, pembangunan gedung baru belum dapat dilaksanakan. Gubernur Jenderal kemudian menyerahkan pekerjaan pembangunan tersebut kepada Departemen Pekerjaan Umum. Tokoh yang membuat rancangan gedung baru yaitu de Raders, seorang arsitek yang bekerja di departemen tersebut. Rancangan yang telah dibuat oleh de Raders kemudian dikirimkan kepada perkumpulan, yang kemudian menanggapinya dengan beberapa poin, yaitu:
1. ruang besar lebih efektif untuk menyimpan koleksi dibandingkan dengan beberapa ruang kecil;
2. galeri terbuka dan vestibule lebih efektif daripada koridor di dalam;
3. lebih efektif apabila mengubah susunan pembagian ruangan, mengubah sambungan vestibule di ruang galeri dalam.

Tanggapan tersebut disertai gambar yang dibuat oleh H.D. Levyssohn Norman dan P. Van Swieten yang merupakan anggota Dewan Perkumpulan. Pada 22 Maret 1864, de Raders kemudian mengirimkan rancangan akhir gedung baru pada perkumpulan. Setelah beberapa kali pembahasan, akhirnya Gubernur Jenderal menyetujui rancangan tersebut yang dilanjutkan dengan pembangunan gedung. Pada tanggal 29 Oktober 1867 diadakan rapat Dewan Perkumpulan di gedung yang baru. Pada bulan November 1867 Gubernur Jenderal Meijer mengunjungi gedung baru tersebut. Dalam waktu singkat gedung yang baru dibangun itu tidak dapat mencukupi kebutuhan ruang yang ada. Usulan-usulan untuk memperluas gedung mulai dibahas pada tahun 1870. Setelah berbagai rencana penambahan, pada tahun 1913 ditambahkan ruangan di atas ruang arca untuk menyimpan koleksi berharga milik perkumpulan.

Pada tahun 1923 perkumpulan Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen memperoleh gelar "Koninklijk" karena jasanya dalam bidang ilmiah dan proyek pemerintah. Setelah itu nama perkumpulan ini diganti menjadi menjadi Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen. Pada tanggal 26 Januari 1950, Koninklijk Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen diubah lagi namanya menjadi Lembaga Kebudayaan Indonesia. Perubahan ini disesuaikan dengan kondisi waktu itu, sebagaimana tercermin dalam semboyan barunya, yaitu "memajukan ilmu-ilmu kebudayaan yang berfaedah untuk meningkatkan pengetahuan tentang kepulauan Indonesia dan negeri-negeri sekitarnya". Gedung A Museum Nasional merupakan karya arsitektur berlanggam Neo-Klasik yang memancarkan aura maskulin cukup kuat. Hal ini dapat dilihat dari pemakaian kolom doria pada portico di bagian samping bangunan dan pada bagian bangunan yang menghadap halaman. Portico dengan tympanum merupakan salah satu ciri arsitektur Neo-Klasik. Pada foto tahun 1862, tampak depan dan samping bangunan Gedung A sangat dipengaruhi oleh tampilan dari kuil-kuil klasik Yunani dan Romawi Kuno. Gaya arsitektur Neo-Klasik juga terlihat pada halaman yang dikelilingi oleh kolom doria. Bangunan dibuat simetris kiri dan kanan, sehingga terkesan ada satu garis imajiner yang membagi bangunan menjadi dua tepat pada bagian tengah yang menegaskan bahwa bangunan ini sangat dipengaruhi gaya bangunan kuil-kuil klasik Yunani dan Romawi.

Pada masa kolonial, bangunan ini dipergunakan sebagai tempat pengumpulan benda-benda hasil penelitian dan ilmu pengetahuan. Pembagian ruangnya disesuaikan dengan bidang ilmu seperti arkeologi, etnologi, dan sejarah. Selain itu juga didasarkan pada bahan atau material benda-benda yang dikumpulkan, seperti perunggu, tekstil, batu, dan emas. Di bagian tengah bangunan terdapat halaman terbuka yang saat ini digunakan sebagai tempat penyimpanan berbagai arca dari masa Hindu-Buddha. Mengingat pentingnya museum ini bagi bangsa Indonesia, maka pada tanggal 17 September 1962 Lembaga Kebudayaan Indonesia menyerahkan pengelolaan museum kepada pemerintah Indonesia yang kemudian menjadi Museum Pusat sebelum akhirnya dirubah lagi namanya menjadi Museum Nasional. Perpustakaan masih tetap berada di gedung ini hingga akhirnya dipindahkan ke gedung baru di Salemba pada akhir tahun 1980an. Selanjutnya, berdasarkan Keputusan Menteri Pendidikan dan Kebudayaan Nomor 092/0/1979 tanggal 28 Mei 1979, Museum Pusat ditingkatkan statusnya menjadi Museum Nasional. Secara umum bangunan ini berada dalam kondisi yang baik, namun di beberapa bagian terlihat kerusakan karena talang air yang tidak mampu menampung air hujan sehingga menyebabkan kebocoran dan kerusakan pada plafon.