Gedung Merdeka

  • Tampak Depan

  • Gedung Merdeka

  • Tahun 1900

  • Tahun 1904

  • Tahun 1905

  • Tahun 1920

  • Tahun 1920-1930

  • Tahun 1933

  • Tahun 1935

  • Tahun 1935_2

NO REGNAS RNCB.20151105.02.000049
SK Penetapan

SK Menteri No210/M/2015

SK Menteri No238/M/1999

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Bandung
Provinsi Jawa Barat
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Kementerian Luar Negeri dan Dinas kebudayaan dan Pariwisata Provinsi Jawa Barat

Gedung Merdeka terletak di Jalan Aisa Afrika Nomor 65, Keluraa Braga, Kecamatan SumurBABAg, Kota Bandung, Provinsi Jawa Barat. Gedung ini dibangun diatas lahan seluas 10.200 m2 dengan luas bangynannya yaitu 6.500 m2. Pada tahun 1879, orang Belanda di Bandung mendirikan sebuah perkumpulan bernama Societeit Concordia. Tempat berkumpulnya anggota Societeit Concordia ini pada awalnya dilakukan di sebuah toko yang dimiliki oleh warga keturunan Tionghoa. Toko ini kemudian dibeli dan diperluas bangunannya pada tahun 1895. Pada tahun 1921, bangunan ini direnovasi secara besar-besaran oleh arsitek Van Gallen Last dan C.P. Wolff Schoemaker dengan menggunakan gaya art deco yang fungsional dan lebih menonjolkan struktur. Pada saat itu gedung ini menjadi gedung pertemuan “super club” yang paling mewah, lengkap, eksklusif, dan modern yang bisa menampung hingga 1200 tamu.

Pada tahun 1940 dibangun gedung baru di sisi timur bangunan lama oleh arsitek Ir. A.F. Aalbers dan bentuknya bertahan hingga sekarang. Di masa pendudukan Jepang, gedung ini berubah fungsi menjadi pusat kebudayaan (Keimin Bunka Shidoso) dan tempat pertemuan dengan nama Dai Toa Kaikan. Setelah Jepang kalah oleh sekutu, gedung ini menjadi markas para pemuda Indonesia untuk menghadapi tentara Jepang yang tidak bersedia menyerahkan kekuasaannya. Setelah pemerintahan Indonesia mulai terbentuk (1946 – 1950) yang ditandai oleh adanya pemerintahan Haminte Bandung, Negara Pasundan, dan Recomba Jawa Barat, Gedung Concordia dipergunakan lagi sebagai gedung pertemuan umum. Di sini biasa diselenggarakan pertunjukan kesenian, pesta, dan pertemuan umum lainnya. Menjelang Konferensi Asia Afrika (KAA), Gedung Societeit Concordia berpindah tangan ke pemerintah Indonesia yang kemudian disiapkan dan direnovasi agar sesuai dengan kebutuhan penyelenggaraan KAA pada tahun 1955. Pada tanggal 7 April 1955 gedung ini kemudian diganti namanya menjadi Gedung Merdeka oleh Presiden Soekarno dan nama jalan diubah dari Jalan Raya Pos menjadi Jalan Asia Afrika. Penamaan Gedung Merdeka didorong oleh semangat perjuangan untuk mencapai kemerdekaan bagi bangsa-bangsa Asia Afrika yang masih terjajah.

Pada tahun 1955 Gedung Merdeka digunakan sebagai Gedung Konstituante. Ketika Konstituante dibubarkan melalui Dekrit Presiden 5 Juli 1959 gedung ini dijadikan tempat kegiatan Dewan Perancang Nasional (Depernas) yang kemudian menjadi Badan Perancangan Pembangunan Nasional (Bappenas). Pada tahun 1960-1971 gedung tersebut digunakan sebagai gedung MPRS dan pada tahun 1965 di gedung tersebut berlangsung Konferensi Islam Afrika Asia. Setelah meletus pemberontakan G30S pada tahun 1965, Gedung Merdeka dikuasai oleh instansi militer dan sebagian dari gedung tersebut dijadikan tempat tahanan politik. Pada 1966, pemeliharaan gedung diserahkan dari pemerintah pusat ke Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat, yang selanjutnya diserahkan lagi pelaksanaannya kepada Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Tahun 1968, MPRS mengubah surat keputusannya dengan ketentuan bahwa yang diserahkan adalah bangunan induk gedung, sedangkan bangunan-bangunan lainnya yang terletak di bagian belakang masih tetap menjadi tanggung jawab MPRS. Pada tahun 1968, 1970, 1979 Gedung Merdeka direnovasi oleh Pemerintah. Tahun 1969, pengelolaan gedung kembali diserahkan kepada Pemerintah Daerah Tingkat I Jawa Barat dari pengelola sebelumnya, yaitu Pemerintah Daerah Tingkat II Kotamadya Bandung. Pada tahun 1974 gedung ini digunakan sebagai tempat pertemuan Gerakan Non Blok (GNB). Selain peristiwa-peristiwa penting tersebut, gedung ini juga pernah digunakan sebagai tempat pertemuan-pertemuan nasional maupun internasional seperti Konferensi Wartawan Asia Afrika dan Konferensi World Health Organization (WHO). Pada tahun 2015 dilaksanakan peringatan 60 tahun Konferensi Asia Afrika.

Gedung Merdeka berdenah persegi panjang dan menghadap ke selatan, yaitu ke jalan Asia Afrika. Denah bangunan Gedung Merdeka mengalami perubahan bentuk. Ketika pertama kali dibangun semua sudut siku-siku (1921). Setelah gedung mengalami kerusakan akibat perang kemerdekaam, dilakukan perbaikan pada bagian bangunan sayap timur, tepatnya di sudut jalan Braga-Jalan Asia Afrika oleh Arsitek Aalbers pada tahun 1940. Bentuk melengkung pada sudut ini disesuaikan dengan bentuk ruangan-ruangan di sisi selatan dan timur yang juga membulat. Gedung Merdeka berukuran panjang 72,50 m dan lebar 53,50 m, sedangkan ketinggian bangunan terbagi atas tiga ukuran yang berbeda. Jika dilihat tampak muka, gedung ini seperti sebuah bangunan yang tinggi dengan dua bangunan sayap di bagian barat dan timurnya. Gedung ini terdiri atas tiga bangunan, yaitu bangunan pertama merupakan bangunan sayap barat yang merupakan bangunan bertingkat dua, bangunan utama, serta bangunan sayap timur. Gedung ini memiliki perpaduan gaya arsitektur neo-renaissance dan nieuwe bouwen.

Ketiga bagian bangunan ini menghadap ke jalan Asia Afrika, tetapi bangunan sayap barat memiliki sebuah pintu yang menghadap ke jalan Cikapundung Timur dan bangunan sayap timur juga memiliki pintu yang menghadap ke jalan Braga. Hingga saat ini gaya arsitektur lama Gedung Merdeka masih terjaga. Sejak 24 April 1980, Gedung Merdeka dijadikan Museum Konferensi Asia Afrika. Di samping itu, Gedung Merdeka juga dipakai sebagai Sekretariat Pusat Penelitian serta Pengkajian Masalah Asia Afrika dan Negara-negara Berkembang yang berada dibawah naungan Departemen Luar Negeri RI. Kegiatannya meliputi seminar, diskusi serta fasilitas perpustakaan. Pemeliharaan fisik Gedung Merdeka dilaksanakan oleh Pemerintahan Daerah Provinsi Jawa Barat, sedangkan Museum Konferensi Asia Afrika dikelola oleh Kementerian Luar Negeri.