Prasasti Tugu

  • Prasasti Tugu

NO REGNAS RNCB.20151009.01.000041
SK Penetapan

SK Menteri No185/M/2015

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Benda
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Pusat
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Museum Nasional

Prasasti Tugu merupakan prasasti terpanjang yang dikeluarkan oleh Purnnawarman, berisi keterangan mengenai penggalian Sungai Candrabaga oleh Rajadirajaguru dan penggalian Sungai Gomati sepanjang 6112 tombak atau 12 km oleh Purnnawarman pada tahun ke-22 masa pemerintahannya. Penggalian sungai tersebut merupakan gagasan untuk menghindari bencana alam berupa banjir yang sering terjadi pada masa pemerintahan Purnnawarman dan kekeringan yang terjadi pada musim kemarau. Pada tanggal 4 Maret 1879, Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen mengadakan rapat pimpinan yang membahas mengenai penemuan Prasasti Tugu. Dalam rapat tersebut J.A. van der Chijs mengusulkan agar batu prasasti tersebut dipindahkan ke museum.

Trasnkripsi prasasti ini pertama kali dikerjakan oleh H.Kern (1885, 1910, 1911) sedangkan pembahasan dan penafsiran prasasti tersebut antara lain dikemukakan oleh N.J. Krom (1926, 1931), F.D.K. Bosch (1951, 1961), R.M.Ng. Poerbatjaraka (1952), J. Noordyun dan H. Th. Verstappen (1972). Pada tahun 1911, prasasti ini dipindahkan ke Museum Bataviaasch Genootschap van Kunsten en Wetenschappen (kini Museum Nasional) atas usaha P. de Roo de la Faille. Pada tahun 1973, diadakan penggalian arkeologi di lokasi penemuan Prasasti Tugu. Dalam penggalian tersebut ditemukan sejumlah pecahan gerabah dari berbagai jenis, pola hias, dan ukuran yang mempunyai persamaan dengan gerabah Kompleks Buni.

Prasasti tugu dipahatkan pada batu andesit berbentuk bulat telur dengan tinggi 1 meter. Tulisan pada prasasti ini berjumlah 5 baris, beraksara Pallawa, berbahasa Sansekerta, berbentuk sloka dengan metrum anustubh. Meskipun tidak tercantum angka tahun, bentuk huruf Pallawa pada Prasasti Tugu menunjukkan bahwa diperkirakan berasal dari pertengahan abad V. Bentuk huruf ini mirip dengan yang terdapat pada Prasasti Cidanghiang. Selain pahatan tulisan, pada prasasti ini juga terdapat pahatan hiasan berbentuk tongkat dengan ujung menyerupai trisula. Gambar tongkat ini dipahat memanjang tegak lurus dan menjadi pembatas tiap baris tulisan pada prasasti. Prasasti Tugu ditemukan di Kampung Batutumbuh, Desa Tugu. Kini lokasi penemuan masuk ke dalam wilayah Kelurahan Tugu Selatan, Kecamatan Koja, Jakarta Utara. Ketika ditemukan prasasti ini terkubur di bawah tanah. Hanya bagian puncak prasasti yang terlihat di permukaan tanah setinggi sekitar 10 cm.

Alih aksara:
(1) || pura rajadhirajena guruna pinabahuna khata khyata? purim prapya
(2) candrabhagarnnavam yayau || prawarddhamana dvavinsad vatsara sri gunaujasa narendradhvajabhutena
(3) srimata purnnavarmmana || prarabhya phalgune mase khata krsnastasmi tithau caitra suklatrayodasyam dinais siddhaikavinsakaih
(4) °ayata sadsahasrena dhanusam sasatena ca dvavinsena nadi ramya gomati nirmalodaka || pitamahasya rajarser vvidaryya sibiravanim
(5) brahmanair ggosahasrena prayati kradaksina ||:||o||:||

Alih bahasa:
“Dulu (sungai yang bernama) Candrabhaga telah digali oleh maharaja yang mulia dan mempunyai lengan kencang dan kuat (yakni Raja Purnnawarman) untuk mengalirkannya ke laut, setelah (sungai ini) sampai di istana kerajaan yang termahsyur.

Di dalam tahun ke-22 dari takhta Yang Mulia Raja Purnnawarman yang berkilau-kilauan karena kepandaian dan kebijaksanaannya serta menjadi panji-panji segala raja-raja, (sekarang) beliau menitahkan pula menggali sungai yang permai dan berair jernih, Gomati namanya, setelah itu mengalir di tengah-tengah tanah kediaman Yang Mulia Nenekda (Sang Purnnawarman). Pekerjaan ini dimulai pada hari yang baik, tanggal 8 paroh-gelap bulan Phalguna dan selesai pada hari tanggal 13 paro-terang bulan Caitra, jadi hanya 21 hari saja, sedang galian itu panjangnya 6122 dhanus (busur) [= lk. 11 km] Selamatan dilakukan oleh para brahmana disertai 100 ekor sapi yang dihadiahkan.” Prasasti Tugu dalam kondisi relatif baik dan terawat. Kini prasasti tersebut menjadi bagian dari koleksi Museum Nasional