Kompleks Sendang Duwur

  • Kompleks Sendang Duwur

  • Gapura Makam Sendang Duwur

  • Makam Sendang Duwur

  • Gapura Paduraksa Makam Sendang Duwur

  • Cungkup makam Sendang Duwur

NO REGNAS RNCB.20151221.04.000103
SK Penetapan

SK Menteri No247/M/2015

SK Menteri NoPM.56/PW.007/MKP/2010

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Lamongan
Provinsi Jawa Timur
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto

Sendang Duwur menempati lahan dengan luas 11.936 m². Sendang Duwur merupakan sebuah kompleks yang terdiri atas 3 halaman bertingkat, dengan bangunan masjid terdapat pada tingkat tertinggi. Makam-makam kuno terdapat pada halaman-halaman bertingkat tersebut. Setiap halaman dibatasi dengan pintu gerbang yang bertipe candi bentar dan kori agung. Halaman I dan II ditandai dengan pintu gerbang candi bentar, sedangkan halaman III menuju ke dalam kompleks masjid dibatasi dengan gapura bersayap berbentuk kori agung. Para ahli menyebut gapura bersayap dengan Gapura A dan Gapura B yang berbentuk kori agung. Di puncak halaman teratas terdapat bangunan masjid kuno yang sekarang telah dipugar dengan atap tumpang. Pada halaman masjid itu juga terdapat beberapa bangunan mandapa tanpa dinding dengan atap limasan. Beberapa kekhasan dari kepurbakalaan Sendang Duwur, yaitu pertama dari segi keletakan, Kompleks Sendang Duwur terdapat di wilayah yang bertingkat dengan masjid yang bertingkat pula. Kedua, memiliki bentuk-bentuk kori agung yang berupa gapura bersayap yang tidak dijumpai di situs kepurbakalaan Islam lainnya. Bentuk ini melambangkan perjalanan arwah menuju Sang Khalik. Ketiga, ornamen pada gapura bersayap tersebut masih melanjutkan tradisi seni hias Hindu-Buddha dengan diganbarkannya kepala kala di ambang pintu yang menyambung dengan bingkai mrga di kanan-kirinya. Keempat, bentuk atap gapura bersayap menyerupai mahkota dan dipahatkan juga dalam bentuk relief rendah kepala garuda, sementara itu sayap gapura yang merentang di kanan-kiri celah pintu seakan-akan bentuk sayap burung garuda itu sendiri.

Masjid Sendang Duwur berdenah persegiempat dengan arah hadap ke timur. Bangunan ini terbuat dari susunan bata dan kayu, beratap tumpang tiga susun, dan terdapat sebuah mustaka di puncak atap. Masjid ini memiliki ruangan utama berukuran 256 m² yang dibatasi oleh empat dinding, ditopang oleh 17 tiang (satu tiang di tengah dan empat tiang masing-masing di sisi utara, timur, selatan, dan barat). Pada ruangan utama masjid terdapat maksurah, mihrab dan sebuah mimbar yang terbuat dari kayu. Serambi masjid terdapat pada keempat sisi ruang utama, yaitu: serambi timur, utara, barat, dan selatan. Pada keempat serambi terdapat 28 tiang berbentuk bulat. Di dalam serambi timur terdapat satu buah bedug yang disanggah oleh rangka kayu. Komplek makam Sendang Duwur terdiri dari empat halaman dengan pola tersusun ke belakang tidak satu poros. Makam tokoh utama terletak di halaman III. Di komplek makam terdapat enam gapura terbuat dari susunan balok teras. Halaman I ini dibagi lagi menjadi 2 halaman yang lebih kecil dengan dibatasi oleh sebuah lorong yang berpagar pada sisi kanan dan kirinya. di halaman ini terdapat 3 buah bangunan pintu gerbang. Halaman II kompleks Makam Sendang Duwur ini disekat-sekat lagi menjadi beberapa halaman yang lebih kecil, dibatasi oleh pagar dengan pintu gerbang sebagai jalan masuk. Di halaman II ini ada 2 pintu gerbang. Halaman III ini tepatnya berada di sekitar sisi barat Masjid Sendang Duwur. Di halaman ini terdapat tokoh utama yaitu makam Sunan Sendang (Raden Nur Rahmad) yang diperkirakan sebagai pendiri pertama Masjid Sendang Duwur. Makamnya berdiri di atas teras dan di beri pelindung bangunan beratap (cungkup). Halaman IV ini sebagian besar berada di sebelah selatan Masjid Sendang Duwur. Untuk masuk ke halaman ini dapat melewati sebuah jalan sempit antara tumpuan batu yang memisahkan halaman IV dengan halaman II dan halaman III yang ada di sebelah barat Masjid Sendang Duwur.

Menurut beberapa sumber tradisi kepurbakalaan Sendang Duwur dihubungkan dengan tokoh Raden Nur Rahmad (Sunan Sendang) adalah putera Abdul Qohar Bin Malik Bin Syeikh Abu Yazid Al Baghdi (keturunan Raja raja Persia di Irak) dengan Dewi Sukarsih, puteri Tumenggung Joyo di Sedayu Lawas. Ia bertempat tinggal di Desa Sedayu Lawas. Setelah ayahnya wafat ia pindah ke dusun Tunon untuk menyebarkan agama Islam di sekitar daerah tersebut dan bergelar Sunan Sendang. Atas perintah Sunan Drajat Ia membangun masjid dengan membeli pendapa Mbok Randa Mantingan (Ratu Kalinyamat). Setelah masjid tersebut berdiri, di sekitar masjid tidak terdapat mata air. atas kehendak Tuhan, di selatan masjid muncul sebuah sumur giling. Setelah wafat, jenazahnya dimakamkan di sebelah barat Masjid Sendangduwur. Di papan yang tergantung di balok serambi masjid terdapat tulisan huruf Jawa, memuat candra sengkala berbunyi gunaning sarira tirta hayu, berarti 1483 ? atau 1561 M. Di bawah papan tersebut bergantung papan yang lebih besar bertuliskan huruf dan kalimat Arab yang menyatakan bahwa masjid ini dibina pada tahun 1483 Jawa dan tahun 1851. Angka tahun yang dipahatkan pada penghias cungkup makam, oleh stutterheim dibaca dari kanan ke kiri 7051 (1507 Saka = 1585 M), menunjukkan tahun wafatnya Sunan Sendang. Informasi kepurbakalaan di Sendang Duwur pertama kali disampaikan oleh Pieter Vincent van Stein Callenfels dalam catatannya pada 28 Maret 1916. Pada tahun 1919 Dr. Frederik David Kan Bosch yang pada saat itu menjabat sebagai Kepala Dinas Purbakala (Oudheidkundige Dienst) mengadakan peninjauan kepurbakalaan di Kompleks Sendang Duwur yang hasilnya diterbitkan dalam sebuah laporan yang diterbitkan pada tahun yang sama.

Pada tahun 1920 Masjid Sendang Duwur mengalami pemugaran pada sebagian besar bangunannya. Pemugaran ini dilakukan oleh penduduk setempat tanpa pemberitahuan kepada pihak Dinas Purbakala saat itu. Bukti adanyapemugaran bangunan Masjid Sendang Duwur dilakukan pada tahun 1920 terlihat pada angka tahun yang tercantum di atas pintu-pintu masjid. Pada tahun 1921 Bosch kembali mengunjungi Kompleks Sendang Duwur yang pada saat itu bangunan masjidnya telah dilakukan perombakan oleh penduduk setempat tanpa pemberitahuan sebelumnya kepada kantor Dinas Purbakala saat itu. Masjid yang telah mengalami perubahan saat itu masih menggunakan sebagian batu-batu dan pondamen asli. Pada tahun 1938 Dinas Purbakala kembali melakukan pemugaran Kompleks Sendang Duwur. Pemugaran kali ini dilakukan terhadap seluruh gapura, tembok keliling pelataran, undak-undak atau tangga masuk pelataran masjid. Pemugaran saat itu selesai pada tahun 1940. Pada tanggal 19 Juni 1950 terjadi gempa bumi yang mengakibatkan beberapa kerusakan Kompleks Sendang Duwur. Informasi kerusakan ini diperoleh setelah dua orang pegawai Dinas Purbakala dari Prambanan bernama Kadim dan Mirun yang diperintahkan untuk meninjau Kompleks Sendang Duwur. Kerusakan paling parah ditemukan pada gapura-gapura Makam Sendang Duwur. Saat itu bagian sayap dari gapura sebagian besar runtuh. Kerusakan akibat gempa juga ditemukan pada Masjid Sendang Duwur. Pada tanggal 13 Juli 1959 Dr. Uka Tjandrasasmita yang pada saat itu menjadi pegawai Dinas Purbakala melakukan kunjungan ke Kompleks Sendang Duwur. Kunjungan ini menjadi titik awal proses pemugaran Sendang Duwur setelah mengalami gempa.

Beberapa tindakan pelestarian telah dilakukan oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Mojokerto Wilayah Kerja Provinsi Jawa Timur antara lain: pertama, kegiatan registrasi dan inventaris terhadap benda cagar budaya dan situs makam Sendang Duwur dan wilayah Kabupaten Gresik lainnya telah dilakukan oleh BPCB Mojokerto tahun 2003. Kedua, beberapa kegiatan pemugaran yang telah dilaksanakan terhadap makam Sendang Duwur, yakni: pemugaran gapura III dilaksanakan tahun 1988/1989 dilaksanakan oleh Proyek Pelestarian / Pemanfaatan Peninggalan Purbakala Jawa Timur, pemugaran cungkup makam Panembahan Kawis Guwa di kompleks makam Sunan Prapen oleh Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Jawa Timur tahun 1995, perawatan makam Sendang Duwur dilaksanakan oleh Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Jawa Timur dengan menempatkan oleh juru pelihara berstatus Pegawai Negeri Sipil (PNS).