Percandian Dieng

  • Kompleks Candi Arjuna

  • Candi Arjuna

  • Candi Arjuna

  • Candi Semar pada Tahun 2015

  • Candi Srikandi pada Tahun 2015

  • Candi Puntadewa pada Tahun 2015

  • Candi Sembadra pada Tahun 2015

  • Situs Cagar Budaya Kompleks Candi Setyaki

  • Situs Cagar Budaya Kompleks Candi Gatutkaca

  • Gangsiran Aswatama.

  • Candi Bima

  • Situs Watu Kelir dan Sitinggil

  • Candi Dwarawati

  • Situs Makam Citra dan Makam Buddha

  • Situs Pangonan

NO REGNAS RNCB.20170227.05.001408
SK Penetapan

SK Menteri No173/M/1998

SK Menteri No007/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Wonosobo
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Tanah Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakalan Jawa Tengah
Nama Pengelola

Kumpulan candi Hindu beraliran Syiwa ini diperkirakan dibangun antara akhir abad ke-8 sampai awal abad ke-9. Diduga merupakan candi tertua di Jawa. Sampai saat ini belum ditemukan informasi tertulis tentang sejarah Candi Dieng, namun para ahli memperkirakan bahwa kumpulan candi ini dibangun atas perintah raja-raja dari Wangsa Sanjaya.
Di kawasan Dieng ini ditemukan sebuah prasasti berangka tahun 808 M, yang merupakan prasasti tertua bertuliskan huruf Jawa kuno, yang masih masih ada hingga saat ini. Sebuah Arca Syiwa yang ditemukan di kawasan ini sekarang tersimpan di Museum Nasional di Jakarta.
Pembangunan Candi Dieng diperkirakan berlangsung dalam dua tahap. Tahap pertama yang berlangsung antara akhir abad ke-7 sampai dengan perempat pertama abad ke-8, meliputi pembangunan Candi Arjuna, Candi Semar, Candi Srikandi dan Candi Gatutkaca. Tahap kedua merupakan kelanjutan dari tahap pertama, yang berlangsung sampai sekitar tahun 780 M.
Candi Dieng pertama kali ditemukan kembali pada tahun 1814. Ketika itu seorang tentara Inggris yang sedang berwisata ke daerah Dieng melihat sekumpulan candi yang terendam dalam genangan air telaga.
Pada tahun 1956, Van Kinsbergen memimpin upaya pengeringan telaga tempat kumpulan candi tersebut berada. Upaya pembersihan dilanjutkan oleh pemerintah Hindia Belanda pada tahun 1864, dilanjutkan dengan pencatatan dan pengambilan gambar oleh Van Kinsbergen.