Masjid Agung Surakarta Kauman

  • Masjid Agung Surakarta

  • Pintu Masuk Susuhunan Masjid Surakarta pada Tahun 1900

  • Masjid Agung Surakarta pada tahun 1901

  • Masjid Agung Surakarta pada tahun 1901

  • Bagian dalam Masjid Agung Surakarta

  • Gerbang Masuk Masjid Agung Surakarta pada tahun 1930

  • Langit-langit Atap Tajuk Paling Atas

  • Pintu Tengah dan Pintu Samping Ruang Utama

  • Tiang Semu pada Masjid Agung Surakarta

  • Mihrab Masjid Agung Surakarta

  • Jendela Masjid Agung Surakarta

  • Mimbar Masjid Agung Surakarta

  • Menara Masjid Agung Surakarta

NO REGNAS RNCB.19991129.02.000298
SK Penetapan

SK Menteri No265/M/2016

SK Walikota No646/1-R/1/2013

SK Menteri No299/M/1999

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kota Surakarta
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Keraton Surakarta
Nama Pengelola Keraton Surakarta

Masjid Agung Surakarta Kauman merupakan suatu komplek dengan luas keseluruhan 19.180 m2 yang dibatasi pagar keliling dengan daerah sekitarnya dan. Tinggi bangunan masjid mencapai 20,765 m membuat masjid ini tampak menjulang di tepian alun-alun. Sesuai dengan konsep tata kota Islam di Jawa, Masjid Agung Surakarta Kauman terletak di sebelah barat Alun-alun Utara. Bangunan utama masjid terdiri atas ruang utama yang berfungsi sebagai ruang shalat dengan mihrab, sayap kembar atau pawestren di utara dan selatan ruang utama, ruang atau balai pabongan dan yogaswara, serambi, emper, tratag rambat, dan “kuncung” bangunan. Luas bangunan Masjid Agung Surakarta adalah 3.081,7 m2. Atapnya menjulang ke udara berjumlah tiga lapis dengan mustaka di puncaknya dengan gaya yang lazim disebut tajuk masjidan lambang teplok. Bangunan utama terdiri atas sejumlah ruang yang mendukung fungsi masjid sebagai tempat ibadah.

Bangunan Sayap Masjid Agung Surakarta dari waktu ke waktu mengalami pengembangan demi memenuhi kebutuhan tempat beribadah. Dalam pengembangan itu, bangunan utama masjid agung dilengkapi sayap kembar di utara dan selatan ruang utama. Sayap bangunan di bagian utara digunakan sebagai balai khitan yang lazim disebut balai pabongan, dan ruang pengelola masjid yang disebut balai atau bilik yogaswara, sedangkan sayap bangunan di selatan yang disebut pawestren dikhususkan untuk jemaah perempuan. Bangunan elemen pendukung masjid terdiri atas gapura utama, dua gapura samping, pagar, menara, Bangsal Pradangga sebagai bangunan pendukung upacara, sumur dan tempat wudu, kelir sebagi batas sekaligus penutup kolam, tugu jam istiwa, sekolah Mambaul Ulum, Istal (awalnya sebagai kandang kuda ), tembok pemisah antara halaman depan dan halaman belakang, Gedang Selirang sebagai tempat tinggal para marbot atau abdi dalem keraton yang ditugasi mengurus dan memelihara masjid. Pada halaman belakang kompleks Masjid Agung Surakarta tepatnya di sebelah selatan dan sebelah utara mihrab terdapat beberapa makam.

Dalam mewujudkan bangunan yang megah Masjid Agung Surakarta, generasi demi generasi penguasa Keraton Kesunanan Surakarta Hadininggrat membangun bagian demi bagian masjid. Penambahan bangunan lain di kompleks Masjid Agung Surakarta berupa bangunan-bangunan pendukung kebutuhan masjid, bangunan pendukung prosesi upacara upacara adat, serta kelengkapan kebutuhan legitimasi raja dibangun pada masa berikutnya. Pada kompleks Masjid Agung Surakarta ada beberapa bangunan yang mengalami perubahan benruk dan fungsi, seperti pergantian Mustaka Masjid Agung Surakarta, seluruh bagian kayu pada mimbar Masjid Agung Surakarta pada saat ini diplitur warna coklat tua, lantai ruang utama masjid kini dilapisi marmer putih berukuran 60 x 60 cm, bangunan istal saat ini sudah mengalami perubahan baik itu dalam segi bentuk dan fungsinya.

Keberadaan Masjid Agung Surakarta tidak terlepas dari peristiwa pemindahan Keraton Kartasura ke Surakarta pada 17 Februari 1745. Pindahnya keraton ini terjadi di masa pemerintahan Pakubuwana II. Pemindahan ini terjadi karena imbas dari peristiwa Geger Pecinan yang membuat Keraton Kartasura hancur. Pembangunan keraton baru di Surakarta juga diikuti dengan pembangunan masjid yang dirintis oleh Pakubuwana II. Sebagian bahan bangunan yang digunakan untuk membangun Masjid Agung Surakarta merupakan bekas Masjid Agung Kartasura yang ikut dibawa oleh Pakubuwana II. Pembangunan masjid dilanjutkan di masa pemerintahan Pakubuwana III. Pembangunan dimulai pada tahun 1757 M. Hal itu diketahui dari prasasti yang terdapat di dinding luar ruang utama masjid dan selesai diperkirakan pada tahun 1768. Penambahan bagian masjid kemudian dilakukan pada masa pemerintahan Pakubuwono IV dengan menambahkan mustoko berbentuk paku bumi di puncak atap masjid. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII (1830-1875 ) diadakan kembali renovasi berupa pendirian Pawestren (1850), perluasan serambi (emper) dengan memakai kolom-kolom bergaya doric, serta dibangun dengan lantai yang lebih rendah. Pada tahun yang sama dilaksanakan penggantian mustaka, karena yang lama disambar petir. Pada masa Sri Susuhunan Pakubuwono VII juga dibangun pagar tembok keliling masjid, yaitu tahun 1858. Pada masa pemerintahan Pakubuwono X (1893-1939 M), sebuah menara dibangun di halaman masjid (1901). Selain itu, gapura utama yang sudah ada dirombak dan diganti dengan gapura baru bergaya arsitektur Persia pada tahun 1901.