Masjid Raya Al-Ma’shun

  • Tampak depan Masjid Al-Ma’shun

  • Masjid Raya Al-Ma’shun

  • Sultan Mamun al Rasyid Perkasa Alamsyah IX

  • Masjid Raya Al Ma’shun

  • Tampak Samping Masjid Raya Al Ma’shun

  • Salah Satu Jendela di Masjid Raya Al Ma’shun

  • Interior Ruangan di Masjid Al Ma’shun

  • Ruangan di Masjid Al Ma’shun

NO REGNAS RNCB.20100108.02.000345
SK Penetapan

SK Menteri No267/M/2016

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kota Medan
Provinsi Sumatera Utara
Nama Pemilik Keturunan Sultan Deli
Nama Pengelola Keturunan Sultan Deli

Dengan menempati luas lahan 13.200 m², Masjid Raya Al-Mas'hun memiliki satu bangunan utama, tiga bangunan pelengkap, serta luas bangunan utama 874 m². Bangunan pelengkap tersebut terdiri dari dua unit untuk tempat berwudhu dan satu bangunan menara di sisi barat laut. Bangunan masjid memiliki pondasi masif dan pejal dengan ketinggian 2,3 m dari permukaan tanah. Denah masjid berbentuk persegi delapan (octagonal) dan memiliki lima kubah. Lantai masjid ditutupi granit Italia dengan kombinasi warna kuning, hijau, coklat, dan biru. Masjid menghadap ke arah timur dan dikelilingi oleh pagar besi setinggi 1 m. Areal masjid merupakan kompleks yang terdiri atas bangunan pintu gerbang di sisi timur laut, di sisi utara dijumpai pondasi berbentuk lingkaran yang difungsikan sebagai taman, di sisi barat laut masjid terdapat menara masjid, dan tempat wudhu di sisi timur. Di sebelah barat daya terdapat kompleks makam keluarga sultan. Bangunan Masjid Raya ini dikelilingi saluran air selebar 0,5 m dan dalam 0,5 m.

Ciri khas masjid ini adalah ukiran pada mimbar yang disepuh emas. Ruang-ruang dalam bangunan induk, terdiri atas serambi dan ruang utama masjid. Untuk memasuki masjid harus melalui gapura. Gapura ini memiliki dua ruangan yang terdapat pada sayap kiri dan kanan. Salah satu ruangannya sekarang difungsikan sebagai kantor pengurus masjid. Keistimewaan Masjid Al-Ma’shun ini berupa rancang bangun 5 kubah dan interior yang megah bergaya Moorish merupakan satu-satunya masjid di Indonesia pada masanya yang masih utuh hingga saat ini. Masjid ini dibangun pada suatu lokasi yang istimewa dengan penataan tapak yang harmonis antara bangunan utama masjid, makam, gerbang, menara, tembok keliling, bangunan tempat wudhu, dengan jalan-jalan utama pada masanya yang menjadi penanda Kota Medan.

Masjid Raya Al-Ma'shun dibangun pada masa pemerintahan Sultan Ma'mun Al-Rasyid Perkasa Alamsyah (1873-1942). Pembangunan masjid selesai dalam tiga tahun dan peresmian pemakaiannya bertepatan dengan hari dilaksanakan shalat jumat, pada tanggal 10 September 1909, yang dihadiri oleh pembesar-pembesar kerajaan termasuk Sri Paduka Ali Mas'hun, Tuanku Sultan Amis, Abdul Jalal Rakhmadsyah dari Langkat dan Sultan Sulaiman Alamsyah dari kasultanan Deli. Masjid Raya Al-Ma'shun Medan merupakan masjid kesultanan, hal ini ditunjukkan dengan adanya maksurah, yaitu tempat sembahyang khusus untuk Sultan. Nama Al-Ma'shun berarti yang mendapatkan pemeliharaan dari Allah SWT. Terletak tidak jauh dari lstana Maimun dan merupakan masjid yang indah dan megah. Masjid ini dirancang oleh arsitek dari Belanda yaitu T. H. van Erp yang memadukan gaya arsitektur Timur tengah, India, dan Eropa. Riwayat Penanganan Masjid ini berupa pemasangan keramik lantai halaman oleh Kenaziran Masjid tahun 2005, perbaikan kamar mandi oleh Kenaziran Masjid tahun 2006, perbaikan 13 daun jendela kaca patri oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh tahun 2014-2015, pengecatan pagar oleh Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh Aceh tahun 2016. Situs Cagar Budaya Masjid Raya Al-Ma’shun di Medan dalam kondisi relatif baik dan terawat. Masjid ini masih digunakan sebagai tempat beribadah umat muslim.