Makam Tuanku Imam Bonjol

  • Tampak depan bangunan untuk makam Tuanku Imam Bonjol

  • Makam Tuanku Imam Bonjol

NO REGNAS RNCB.20070326.03.000951
SK Penetapan

SK Menteri No266/M/2016

SK Menteri NoPM.22/PW.007/MKP/2007

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Struktur
Kabupaten/Kota Kabupaten Minahasa
Provinsi Sulawesi Utara
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Keturunan pengawal setia Imam Bonjol bernama Apolos Minggu

Makam Imam Bonjol berada di lahan seluas 75 meter x 20 meter dan luas bangunan yang melindungi makam 262 m2. Suasana di makam ini sejuk sebab terlindung pepohonan rimbun. Makam Tuanku Imam Bonjol berada dalam bangunan berbentuk rumah adat Minangkabau, berukuran 15 meter x 7 meter. Bangunan ini satu-satunya bangunan di Minahasa dengan model rumah adat Minangkabau. Ditambah tulisan-tulisan huruf Arab yang menghiasi bangunan ini. Bangunan utama makam berwarna putih dengan arsitektur khas Minang lengkap dengan atap bagonjong. Makam ini dikelilingi rantai pembatas, makam sang pemimpin kaum Paderi terbuat dari keramik putih memberi kesan kesucian jiwa sang pahlawan. Batu nisan yang terdapat di bagian kepala makam tertulis “Peto Syarif Ibnu Pandito Bayanuddin bergelar Tuanku Imam Bonjol Pahlawan Nasional. Lahir tahun 1774 di Tanjung Bungo/Bonjol Sumatera Barat, wafat tanggal 6 November 1854 di Lota Minahasa, dalam pengasingan pemerintah kolonial Belanda karena berperang menentang penjajahan untuk kemerdekaan tanah air, bangsa dan negara”.

Pada bagian belakang bangunan makam mengalir Sungai Malalayang. Dengan menuruni sedikitnya 74 anak tangga dan jalan yang berkelok-kelok di tepian sungai, terdapat sebuah batu dengan permukaan landai yang merupakan tempat salat sang ulama. Tak dapat dipungkiri, Perang Paderi meninggalkan kenangan heroik sekaligus traumatis dalam memori bangsa. Selama sekitar 20 tahun pertama perang itu (1803-1821) praktis yang menjadi korban adalah sesama orang Minangkabau dan Batak Mandailing. Kehadiran Tuanku Imam Bonjol ke daerah Minahasa tidak terlepas dari Perang Padri yang terjadi di Sumatera Barat (1821-1837). Perang Padri sendiri terjadi karena adanya perbedaan pandangan antara kaum Padri dengan kaum Adat. Perang terjadi dalam tiga masa. Pertama tahun 1821-1825 ditandai dengan meluasnya perlawanan Padri di seluruh Minangkabau. Kedua, 1825-1830 adalah masa dimana pertempuran mulai mereda karena Belanda mengadakan perjanjian-perjanjian dengan kaum Padri. Kaum Adat yang mulai terdesak saat itu meminta bantuan kepada Belanda melawan Kaum Padri. Masa ketiga, 1830-1838 adalah masa dimana perlawanan kaum Padri kepada Belanda kembali meningkat. Belanda kemudian melakukan penyerbuan besar-besaran.

Salah satu tempat yang diserbu Belanda adalah Benteng Bonjol. Dalam benteng tersebut, terdapat salah satu pemimpin kaum Padri, yaitu Tuanku Imam Bonjol. Menghadapi pasukan yang jumlahnya lebih banyak dan dengan persenjataan yang lebih lengkap, pasukan Tuanku Imam Bonjol akhirnya menyerah pada 25 Oktober 1837. Setelah ditangkap, Tuanku Imam Bonjol kemudian diasingkan ke Cianjur. Tak lama di Cianjur, Tuanku Imam Bonjol kemudian dipindahkan ke Ambon pada tahun 1839. Dua tahun di Ambon, Tuanku Imam Bonjol kemudian dipindahkan ke Minahasa hingga meninggal. Tuanku Imam Bonjol diangkat sebagai Pahlawan Nasional Indonesia berdasarkan SK Presiden RI Nomor 087/TK/Tahun 1973, tanggal 6 November 1973. Kondisi Makam masih terawat dan terjaga. Makamnya kini dijaga oleh keturunan pengawal setia Imam Bonjol bernama Apolos Minggu. Kini di kompleks sekitar makam Tuanku Imam Bonjol, terdapat sedikitnya 20 kepala keluarga. Merekalah yang setiap hari mengurus keberadaan makam Imam Bonjol.