Makam Kyai Mojo

  • Makam Kyai Mojo di Kelurahan Wulauan, Kecamatan Tondano Utara

  • Gerbang Makam Kyai Mojo

  • Makam Pengikut Kyai Mojo di Minahasa

  • Makam yang terletak di Puncak Bukit

  • Tangga Menuju Makam Kyai Mojo

NO REGNAS RNCB.20070326.03.000953
SK Penetapan

SK Menteri No267/M/2016

SK Menteri NoPM.22/PW.007/MKP/2007

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Minahasa
Provinsi Sulawesi Utara
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Pemerintah Provinsi Sulawesi Utara dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Sulawesi Utara

Makam Kyai Mojo terletak di atas Bukit Tondata dan menempati luas lahan 44.560 m². Pada pintu gerbang masuk menuju makam ini terdapat tulisan: “Makam Pahlawan Kyai Mojo dkk. Kyai Mojo terlahir dengan Nama Kyai Muslim Muhammad Halifah Lahir tahun: 1764. Wafat 20 Desember 1849”. Di lokasi makam ini terdapat dua buah cungkup berbentuk bangunan Jawa dengan atap bersusun dari sirap. Cungkup yang besar terdapat makam Kyai Mojo beserta pengikutnya. Sedangkan cungkup lainnya merupakan cungkup makam Syeh Maulana (asal Cirebon). Di timur laut makam Kyai Mojo terdapat makam Mbah Kamil (Kyai Demak). Makam Kyai Mojo beserta keluarga asli dari Jawa memiliki keunikan tersendiri. Bentuk makamnya memiliki lubang memanjang pada bagian tubuh makam. Hal ini berbeda dengan makam lain dari makam kerabat yang merupakan keturunan Minahasa yang tidak memiliki lubang memanjang. Hal ini dibuat agar dapat diketahui perbedaan keluarga dari Jawa dan yang lahir dan besar di Minahasa. Makam Kyai Mojo adalah satu-satunya makam di kompleks ini yang kijingnya memiliki undakan sembilan tingkat. Makam ini diberi hiasan pelipit genta dan kaligrafi. Di dalam cungkup Makam Kyai Mojo juga terdapat makam beberapa orang keluarga dan pengikutnya. Nisannya ditutup dengan kain penutup berwarna putih.

Kyai Muslim Muhamad Halifah atau yang dikenal dengan Kyai Mojo (1764-1849) merupakan salah seorang panglima perang Pangeran Diponegoro dalam Perang Jawa (1825-1830). Meskipun hubungan mereka berdua dekat, pada tahun 1828 terjadi konfllik di antara mereka. Pada waktu itu, Pangeran Diponegoro memerintahkan Kyai Mojo untuk kembali ke Pajang. Dalam perjalanannya ke Pajang, Kyai Mojo kemudian terbujuk oleh rayuan muridnya Kyai Dadapan agar mau bertemu perwakilan Belanda, Letnan Kolonel Wironegoro. Padahal sebelumnya Pangeran Diponegoro bersama para panglimanya termasuk Kyai Mojo telah menolak ajakan Jenderal de Kock untuk mengakhiri perang.Kyai Mojo kemudian bertemu dengan Letnan Kolonel Wironegoro pada Oktober 1828 dengan mengajukan beberapa permintaan. Letnan Kolonel Wironegoro pun menyetujuinya asalkan Kyai Mojo bersedia menghentikan perang. Kyai Mojo melaporkan pertemuan itu kepada Pangeran Diponegoro melalui surat. Setelah membaca surat dari Kyai Mojo, Pangeran Diponegoro marah. Pangeran Diponegoro memanggil Kyai Mojo kembali ke markas Pangeran di daerah Pengasih.

Akhir tahun 1828, Kyai Mojo beserta pasukannya berhasil ditangkap Belanda. Tertangkapnya Kyai Mojo merupakan pukulan telak bagi perjuangan Pangeran Diponegoro. Kyai Mojo bersama dengan pasukannya pertama kali ditahan di Semarang, selanjutnya dipindahkan ke Ambon lalu ke Minahasa. Kyai Mojo meninggal dalam pengasingan di Minahasa pada tanggal 20 Desember 1849 dan dimakamkan di Tondano.Pada tahun 1978/1979 hingga 1981/1982 Makam Kyai Mojo telah dipugar oleh Bidang Sejarah, Museum, dan Purbakala (Muskala) Kantor Wilayah Pendidikan dan Kebudayaan Provinsi Sulawesi Utara. Situs Cagar Budaya Makam Kyai Mojo dalam kondisi terawat.