Observatorium Bosscha

  • Observatorium Bosscha

  • Observatorium Bosscha

  • Observatorium Bosscha dan Teleskop

  • Observatorium Bosscha dilihat dari Udara

  • Proses Pembangunan Observatorium Bosscha

  • Observatorium Bosscha

  • Teleskop Refraktor Ganda Zeiss

  • Teleskop Refraktor Ganda Zeiss

  • Teleskop Refraktor Ganda Zeiss

NO REGNAS RNCB.20040810.02.000988
SK Penetapan

SK Menteri NoKM.51/OT.007/MKP/2004

SK Menteri No184/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Bangunan
Kabupaten/Kota Kabupaten Bandung Barat
Provinsi Jawa Barat
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Departemen Astronomi, ITB

Observatorium Bosscha terletak 10 km dari Kota Bandung dan 2 km dari Kota Lembang pada ketinggian 1.300 m di atas permukaan laut. Lokasinya di punggung bukit, membentang dari barat ke timur dengan bangunan-bangunan stasiun pengamatan yang berderet yang memberikan keuntungaan untuk pandangan langit luas ke utara dan selatan, khususnya sapuan pandangan ke langit selatan yang paling penting karena hampir semua kegiatan di observatorium digunakan untuk pengamatan langit selatan.
Lokasi observatorium Bosscha ditentukan secara khusus berdasarkan penelitian oleh pemerintah Hindia-Belanda selama kurang lebih dua tahun. Observatorium ini dirancang oleh arsitek Charles Prosper Wolff Schoemaker dengan gaya arsitektur Art Deco.
Gedung Kubah
Gedung ini berbentuk silinder baratap kubah, menghadap ke timur, terdiri atas dua bagian bangunan, yakni bagian entrance dan ruang tempat teropong. Pada atap kubah gedung ini terdapat celah yang bisa membuka dan menutup selebar 3 m, serta dapat diputar ke segala arah untuk tujuan pengamatan. Atap kubah ini memiliki berat 56 ton, diameter 14,5 m, dengan bagian luar kubah tersebut dari atap baja setebal 2 mm dan di dalamnya beratap asbes. Lantai pada gedung kubah memiliki berat 12 ton yang dapat diatur ketinggiannya dengan menggunakan motor listrik yang terletak di bawah lantai tersebut. Pada bagian bawah lantai terdapat 3 tiang yang masing-masing memiliki satu bandul untuk meringankan beban lantai ketika digerakkan dengan motor listrik.
Observatorium Bosscha dilengkapi teleskop dengan berbagai jenis dan ukuran. Selain teleskop, terdapat juga peralatan untuk melakukan pengukuran hasil observasi, baik itu pengukuran posisi maupun pengukuran kecemerlangan/magnitudo bintang. Masing-masing teleskop tersebut memiliki sasaran objek pengamatan yang berbeda-beda, yang terdiri atas:
1. Teleskop Refraktor Ganda Zeiss
Teleskop ini merupakan teleskop yang terbesar di Observatorium Bosscha, berukuran panjang 11 m, terletak di gedung utama kubah putih yang dapat berputar 360°. Teleskop ini termasuk jenis refraktor, yaitu teleskop yang menggunakan lensa cembung untuk mengumpulkan cahaya. Disebut refraktor ganda karena di dalam tabung teleskop terdapat 2 teleskop masing-masing untuk pengamatan visual dan pemotretan/fotografi. Kedua teleskop tersebut masing-masing berdiameter 60 cm, dipergunakan untuk mengamati bintang ganda visual, penentuan paralaks, gerak bintang/anggota gugus, planet, dan komet.
2. Teleskop Refraktor Zeiss dari R.A. Kerkhoven
Teleskop ini berdiameter 13 cm, fokus 230 cm, dengan kamera Zeis Astro-Triplet diameter 60 mm dan panjang 27 cm, serta dua kamera fokus pendek yakni Zeiss Tessar (fokus 14,5 cm) dan Zeiss Triotar (fokus 15 cm). Dua kamera tersebut dipasang pada teleskop ini untuk memperoleh gambar yang lebih fokus di bagian selatan Galaksi Bima Sakti. Teleskop sumbangan dari sepupu Bosscha ini digunakan untuk pengamatan bintang variabel.
3. Teleskop Schmidt Bima Sakti
Teleskop ini memiliki cermin berdiameter 71,12 cm dengan panjang fokus/titik api 2,5 m, dilengkapi lensa koreksi dengan garis tengah 50,8 cm untuk memperbaiki bayangan yang jatuh ke bidang fokus. Teleskop Schmidt merupakan teropong yang sangat peka terhadap cahaya dan polusi cahaya dengan memiliki resolving power1 sebesar 0,23” dan limiting magnitude2 sebesar 17,0. Kegunannya antara lain untuk mempelajari/survei struktur galaksi Bima Sakti, menyelidiki spektrum bintang, menentukan terang nova/supernova, dan mengamati komet maupun asteroid.
4. Teleskop Refraktor Bamberg
Teleskop ini termasuk teleskop jenis refraktor yang memiliki lensa objektif berdiameter 37 cm, fokus/titik api 7 m, dilengkapi dengan fotoelektrik fotometer. Teleskop ini digunakan untuk pengukuran fotometri gerhana bintang, misalnya pengamatan kurva cahaya bintang ganda Capricorni dan dapat pula intuk pengamatan permukaan bulan dan pengamatan bintik matahari.
5. Teleskop Cassegrain GOTO
Teleskop yang digunakan untuk keperluan fotometri dan spekstroskopi ini dilengkapi dengan sistem komputer yang diproduksi oleh perusahaan optik GOTO Jepang di bawah pengawasan Prof. Kitamaru, yang pada dasarnya adalah teleskop reflektor yang sudah mengalami modifikasi. Diamater cermin primer pada teleskop ini adalah 45 cm, sedangkan cermin sekunder 20 cm dengan fokus/titik api gabungan (cermin primer dan sekunder) 540 cm. Teleskop GOTO menggunakan resolving power sebesar 0,23” dan limiting magnitude sebesar 15,0.
6. Teleskop Refraktor Secretan
Teleskop ini merupakan sumbangan dari keluarga pengusaha Cina, Sim Hong Lie dari Padang, buatan perusahaan Secretan di Paris tahun 1884, dan mulai beroperasi pada tahun 1924. Teleskop ini termasuk ke dalam jenis teleskop refraktor dengan diameter lensa 16 cm, dengan dua fokus kamera pendek untuk mengamati bintang-bintang variabel. Meskipun tidak dapat digunakan untuk pengamatan visual, teleskop ini dapat digunakan untuk pengamatan fotografi melalui dua kamera yang dipasang.
7. Teleskop Refraktor Unitron
Teleskop yang berukuran paling kecil di Observatorium Bosscha ini memiliki diameter lensa objektif 10,2 cm, fokus/titik api 150 cm, yang digunakan untuk pengamatan hilal (anak bulan), pengamatan/pemotretan gerhana bulan dan gerhana matahari, dan benda-benda langit secara sederhana.
Peralatan lain yang digunakan untuk kebutuhan pengukuran dari hasil pengamatan yang menghasilkan piringan fotografi antara lain stereocomparator Zeiss, mesin pengukur (measuring machine) A. Gaertner dan photometer Hartmann Stereocomparator adalah alat untuk membandingkan spektra cahaya bintang yang dihasilkan oleh piringan-piringan fotografi yang berbeda. Perbandingan warna yang diperoleh dari stereocomparator Zeiss dapat digunakan untuk mengukur paralaks bintang hingga menemukan bintang variabel baru. Photometer Hartmann adalah alat yang digunakan untuk menentukan objek yang terlihat gelap pada piringan fotografi hingga dapat menghasilkan gambar yang lebih terang pada piringan tersebut. Mesin pengukur A. Gaertner merupakan alat untuk menyaring gambar yang dihasilkan dari piringan spektografi dan dapat dilihat melalui lensa yang terpasang pada mesin tersebut. Mesin ini dapat digunakan untuk pengukuran paralaks bintang yang dihasilkan dari piringan-piringan spektografi paralaks bintang.
1. Ruang Entrance
Bagian bangunan ini merupakan bagian depan dari bangunan kubah, berukuran 210 x 360 m, berlantai tegel berwarna abu-abu polos berukuran 15 x 15 cm, dan memiliki dinding dengan tinggi 3 m, tebal 30 cm, serta terdapat border berwarna merah setinggi 100 m. Pada bagian dinding sebelah utara, selatan, dan barat terdapat list berwarna hitam selebar 10 cm, sedangkan dinding bagian selatan berwarna putih polos dengan jendela berukuran 60 x 75 cm berbahan kayu dan kaca, serta terdapat lemari penyimpanan sepanjang dinding dengan ukuran lebar 60 cm dan tinggi 75 cm. Pintu masuk bagian entrance terdapat pada dinding sebelah timur dan utara. Pintu pada dinding timur berukuran lebar 120 cm dan tinggi 200 cm, berbahan kayu jati dengan 2 daun pintu dan kaca patri. Pintu pada dinsing utara menghubungkan entrance dengan ruang istirahat pengamat yang bertugas.
2. Ruang Teropong
Ruangan ini berdinding melengkung mengikuti bentuk bangunan silinder, terdapat satu pintu kayu, 6 kolom, dan empat jendela berukuran 75 x 45 cm berbahan kayu dan kaca. Ruangan berdiameter 14,5 m dan berlantai tiga jenis, yaitu:
1. lantai I berada sejajar dengan ruang entrance, ditutupi tegel berwarna merah berukuran 15 x 15 cm;
2. lantai II terbuat dari semen yang ditopang dengan konstruksi beton pada bagian bawahnya, sehingga lantai ini bisa dinaik-turunkan dan dapat diputar dan berada du ketinggian 90 cm. Lantai ini merupakan tempat aktivitas peneropongan dilakukan; dan
3. lantai III berada pada ketinggian di atas 4 m, ditutupi tegel berwarna abu-abu dengan ukuran 15 x 15 cm. Lantai ini dipergunakan sebagai tempat perawatan alat peneropongan.
3. Ruang Baca
Ruangan yang dapat menampung sekitar 20 orang ini terletak berdampingan dengan perpustakaan, yang digunakan selain untuk membaca juga berfungsi sebagai ruang pertemuan kecil untuk raoat internal ataupun kolokium bagi penelitian-penelitian yang dilakukan di kompleks Observatorium Bosscha. Ruangan berukuran 14 x 7 m, lantai ditutup tegel berwarna abu-abu dan merah berukuran 15 x 15 cm dengan pola grid atau sejajar. Ruangan ini memiliki dinding setinggi 3,5 m dengan ketebalan 30 cm dengan finishing menggunakan cat berwarna putih gading. Pada dinding sebelah timur terdapat pintu kayu dengan satu daun pintu berukuran lebar 120 cm dan tinggi 300 cm yang pada bagian atas pintunya terdapat bukaan kaca yang berfungsi juga sebagai ventilasi udara. Pada dinding sebelah selatan terdapat jendela-jendela kayu dan kaca dengan ukuran lebar 75 cm dan tinggi 100 cm yang memenuhi sisi selatan dinding ini. Pada bagian atas jendela terdapat bukaan ventilasi kayu dan kaca berukuran 75 x 50 cm. Pada dinding sebelah utara terdapat pula jendela berukuran lebar 100 cm dan tinggi 120 cm yang menghubungkan antara ruang baca dan perpustakaan. Ruang baca menggunakan plafon berwarna putih dengan list berwarna kuning.
4. Ruang Perpustakaan
Ruangan ini merupakan ruangan yang menyimpan seluruh koleksi buku yang berkaitan dengan astronomi dan alam semesta yang terdapat di Observatorium Bosscha. Selain buku-buku juga terdapat jurnal, tugas akhir, buku-buku pengetahuan umum dan buletin yang berkaitan dengan Observatorium Bosscha. Ruang perpustakaan berukuran 7 x 14 m dengan tinggi dinding 3,5 m dan tebal 30 cm, serta dicat berwarna putih. Lantai pada ruangan ini ditutupi tegel berwarna abu-abu dan meran dengan ukuran 15 x 15 cm. Pada dinding sebelah timur terdapat pintu kayu berukuran lebar 90 cm dan tinggi 300 cm, terdapat jendela berbahan kayu dan kaca pada dinding sebelah barat dengan ukuran 120 x 150 cm. Pada dinding selatan terdapat dua jendela berbahan kayu dan kaca berukuran 100 x 120 cm. Jendela ini berhubungan langsung dengan ruang baca. Ruangan menggunakan plafon semen plester dengan finishing cat berwarna putih yang disesuaikan dengan dinding pada ruangan tersebut.
5. Ruang Ceramah
Ruangan ini berukuran 400 x 975 cm dengan lantai ditutupi tegel berwarna abu-abu dan merah berukuran 15 x 15 cm. Lantai pada ruangan ini dibuat berundak-undak untuk memfasilitasi pengunjung dalam menyaksikan tayangan multimedia. Selain itu terdapat split level setinggi 15 cm pada bagian ruangan. Dinding pada ruangan ini memiliki ketinggian 4 m dengan cat berwarna krem, terdapat 3 jendela kaca berukuran 60 x 60 cm pada dinding sebelah barat, dan satu pintu kayu pada dinding selatan berukuran lebar 90 cm dan tinggi 300 cm. Ruangan menggunakan plafon papan berwarna putih dengan aksesn garis dari kayu berwarna kuning. Ruangan yang memiliki kapasitas 100 orang ini digunakan untuk menerima pengunjung dengan fasilitas multimedia yang bisa menayangkan film atau dokumentasi ilmiah lain.
6. Wisma Kerkhoven
Bangunan ini merupakan fasilitas baru yang diresmikan penggunaannya oleh Menteri Riset dan Teknologi Kusmayanto Kadiman didampingi Rektor Institut Teknologi Bandung pada tanggal 15 Desember 2007. Dahulu gedung ini merupakan kediaman resmi Direktur Observatorium Bosscha. Peletakan batu pertama Wisma Kerkhoven dilakukan pada tanggal 14 Mei 1926 oleg Prof. Dr. Anton Pannekoek, seorang astronom besar Belanda yang saat itu menjadi tamu peneliti di Observatorium Bosscha. Nama “Kerkhoven” diberikan untuk mengenang salah seorang pendiri observatorium, R.A. Kerkhoven yang berjasa sangat besar. Gedung ini mengalami pemugaran pada pertengahan tahun 2007 di bawah pengawasan arsitek Dr. Woerjantari Soedarsono, Dr. Wijaya Martokusumo, dan Ir. Widiyani, MT dari Sekolah Arsitektur, Perencanaan dan Pengembangan Kebijakan Institut Teknologi Bandung. Wisma ini terdiri atas bagian teras, Ruang A, Ruang B, Ruang C, Ruang D, Ruang E, Ruang F, dan Ruang G.