Tugu Muda

  • Tugu Muda Semarang.

  • Tugu Muda dan Bangunan Cagar Budaya Lawang Sewu.

  • Presiden Soekarno Meresikan Tugu Muda pada 20 Mei 1953.

  • Proses Pembangunan Tugu Muda.

NO REGNAS RNCB.20181004.03.001510
SK Penetapan

SK Walikota No646/50/1992

SK Menteri No369/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Struktur
Kabupaten/Kota Kota Semarang
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Pemkot Semarang

Struktur Cagar Budaya Tugu Muda terletak di dekat Bangunan Cagar Budaya Lawang Sewu dan Museum Mandala Bhakti. Tugu ini terletak di tengah pertemuan antara Jalan Imam Bonjol, Jalan Pemuda, Jalan Pandanaran, dan Jalan Mgr. Sugiyapranata. Tugu Muda jika dilihat sekilas bentuknya mirip dengan sebuah lilin. Bagian kepala tugu berbentuk seperti api yang sedang menyala.
Tugu Muda berpenampang segi lima yang melambangkan lima sila. Memiliki tiga bagian dengan bentuk yang berbeda, landasan yang berbentuk penyangga lengkung di bagian bawah yang berisi gambar relief, bagian tengah atau tubuh berbentuk menyerupai bambu runcing, dan bagian atas yang berbentuk nyala api yang melambangkan semangat perjuangan yang tek pernah padam.
Bentuk api ini menggambarkan semangat juang untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia yang tidak akan pernah padam. Bagian tengah tugu berbentuk seperti bambu runcing yang mempunyai arti senjata yang dipakai oleh para pejuang dalam usaha untuk mempertahankan kemerdekaan Indonesia. Bambu runcing ini berbentuk tegak ke atas dan berjumlah lima buah. Bambu runcing yang berjumlah lima buah ini menggambarkan Pertempuran Lima Hari yang terjadi di Semarang pada tanggal 15 hingga 19 Oktober 1945.
Di bawah bagian bambu runcing terdapat lima buah batu yang mempunyai pahatan lambang sila-sila dalam Pancasila, yaitu bintang, rantai, pohon beringin, kepala banteng, dan padi dan kapas. Di bagian bawah pahatan bambu Pancasila ini terdapat lima penyangga yang mempunyai berbagai macam hiasan pahatan yang berupa:
1. Relief Hongerodeem (Busung Lapar)
Patung ini dipahat oleh seniman Edhi Sunarso. Pahatan menggambarkan hidup rakyat Indonesia di masa pendudukan Belanda dan Jepang yang tertindas dan menderita. Di masa penjajahan tersebut, banyak rakyat Indonesia yang kelaparan. Hal tersebut membuat Hongerodeem atau Busung Lapar banyak menyerang rakyat Indonesia.
2. Relief Pertempuran
Patung ini dipahat oleh Joeski yang berasal dari Aceh. Pahatan patung ini mempunyai arti semangat pertempuran dan keberanian Angkatan Muda Semarang saat Pertempuran Lima Hari.
3. Relief Penyerangan
Patung ini dipahat oleh Bakri yang juga berasal dari Aceh. Pahatan patung ini menggambarkan perlawanan rakyat Indonesia terhadap pihak-pihak penindas yang mencoba menggagalkan usaha rakyat Indonesia untuk bebas dari penjajahan.
4. Relief Korban
Patung ini dipahat oleh Nasir Bondan dari Banten. Pahatan patung ini menggambarkan rakyat yang menjadi korban dalam Pertempuran Lima Hari.
5. Relief Kemenangan
Patung ini dipahat oleh Djony Trisno dari Salatiga. Pahatan patung ini menggambarkan tentang hasil jerih payah usaha dan pengorbanan yang terjadi di Semarang.
6. Relief lain yang dibuat oleh Roestamadji.
Keberadaan Tugu Muda tidak terlepas dari peristiwa Pertempuran Lima Hari di Semarang yang terjadi setelah Indonesia merdeka. Pertempuran Lima Hari dimulai saat pasukan Jepang (Kidobutai) melucuti senjata delapan polisi yang menjaga persediaan air minum (reservoir) di daerah Candi, Semarang. Kemudian tersiar kabar jika pasukan Jepang telah meracuni reservoir tersebut. Dr. Kariadi yang saat itu menjabat Kepala Laboratorium Rumah Sakit Purusara Semarang untuk memeriksa reservoir tersebut. Namun, ketika dalam perjalanan menuju reservoir, dr. Kariadi diserang dan gugur. Gugurnya dr. Kariadi menyebabkan kemarahan para pemuda. Keadaan kota menjadi tegang. Pasukan Tentara Keamanan Rakyat berjaga-jaga di Kota Semarang.
Pada tanggal 15 Oktober pagi hari, pasukan Kidobutai mengadakan serangan cepat dengan alasan untuk melindungi orang-orang Jepang dari orang-orang Indonesia. Serangan Kidobutai semakin besar setelah mengetahui Jenderal Nakamura (komandan pasukan Jepang untuk Jawa – Madura) ditawan di Magelang. Kidobutai membunuh setiap pemuda yang ditemui, Asrama Pemuda, Gedung Gubernuran, Penjara Bulu, dan Rumah Sakit Purusada berhasil diduduki. Gubernur Jawa Tengah saat itu, Mr. Wongsonegoro berserta dengan kepala Rumah Sakit Purusara dr. Soekardjo ditawan di markas Kidobutai di Jatingaleh.
Pada tanggal 16 Oktober, Kidobutai memperkuat serangan dengan menambah jumlah pasukan. Hasilnya, Pelabuhan Semarang berhasil dikuasai setelah pasukan Kidobutai berhasil memukul mundur pasukan TKR Laut pimpinan Achmad Dipo.
Usaha untuk melakukan gencatan senjata dilakukan saat pertempuran sedang berlangsung. Mr. Wongsonegoro dan dr. Soekardjo melakukan perundingan dengan pihak Kidobutai. Perundingan dilakukan dan kedua pihak menyetujui adanya gencatan senjata. Namun, yang terjadi di medan perang tidak sesuai dengan hasil perundingan. 18 Oktober para utusan dari Jakarta yaitu Mr. Kasman Singodimejo, Dr. Kodiat, dan Seoliodikoesoemo tiba di Semarang. Utusan dari pasukan Jepang yaitu Jenderal Nomura dan stafnya (Komandan tertinggi pasukan Jepang) juga tiba di Semarang. Perundingan segera dilakukan oleh kedua belah pihak. Tetapi, utusan dari Indonesia menolak untuk menyerahkan senjata kepada Jepang.
Perundingan lain dengan pihak Jepang segera dilakukan setelah Mr. Kasman Singodimedjo melakukan pertemuan dengan utusan Indonesia dari Yogyakarta. Perundingan ini masih membahas mengenai penyerahan senjata seperti yang telah dijanjikan oleh Mayor Jenderal Nakamura. Namun, perundingan ini sia-sia karena pada 19 Oktober pasukan sekutu sudah tiba di Semarang untuk membawa tentara Jepang. Ketiga belah pihak, yaitu Indonesia, Jepang, dan Inggris sebagai perwakilah sekutu mengadakan perundingan singkat yang menghasillkan perintah untuk penghentian tembak menembak. Perintah ini segera disebarluaskan ke seluruh Semarang melalui konvoi.
Demi mengenang pengorbanan rakyat dalam Pertempuran Lima Hari, sebuah tugu dibangun di tengah alun-alun Semarang. Gubenur Jawa Tengah saat itu, Mr. Wongsonegoro meletakkan batu pertama pembangunan tugu yang diberi nama Tugu Muda pada 28 Oktober 1945. Namun, tugu tersebut tidak lama berdiri. Tugu ini dibongkar oleh tentara Belanda yang tergabung dalam NICA (Nederlandsch Indië Civil Administratie) dan RAPWI (Rehabilitation of Allied Prisoners of War and Internees).
Ide dan prakarsa untuk mendirikan Tugu Muda pertama kali muncul dari Koordinasi Pemuda Indonesia pada tanggal 20 November 1949, kemudian karena kekurangan biaya baru terlaksana pada tanggal 31 Oktober 1951 atas prakarsa Walikota Semarang Hadi Soebeno Sasrowardoyo dengan membentuk panitia Tugu Muda. Pada tanggal 10 November 1951 diadakan peletakan batu pertama yang menandai pembangunan Tugu Muda. Pada
Pembangunan ulang Tugu Muda muncul pada tahun 1950. Atas inisiatif dari anggota eks. Angkatan Muda seperti Martadi, Suroso, A. Djaja, Suwarno, Tjipto, Salim, dan Lenan Kolonel Sudiarto, dibentuk suatu panitia yang bertugas mempersiapkan pembangunan Tugu Muda yang baru. Namun, dalam perjalanannya panitia ini berubah dan kemudian diketuai oleh Walikota Semarang ketiga RM. Hadisoebeno Sosrowerdoyo. Tugu yang baru ini dibangun di simpang lima yang berada di depan kantor Divisi Diponegoro. Simpang ini di masa kolonial merupakan bekas lahan Taman Wilhelmina. Tugu mulai dibangun pada Mei 1952. Peletakkan batu pertamanya dilakukan oleh Gubernur Jawa Tengah ketiga, R. Boedijono.
Tugu Muda baru ini pada awalnya akan dibangun dengan biaya sebesar Rp 30.000,00. Adanya kenaikan harga bahan dan lain-lain membuat biaya pembangunan naik menjadi Rp. 300.000,00. Biaya pembangunan Tugu Muda baru ini diperoleh dari sumbangan masyarakat di Semarang. Tugu Muda yang baru diresmikan tepat saat Hari Kebangunan Nasional (sejak tahun 1958 disebut Hari Kebangkitan Nasional) pada 20 Mei 1953. Tugu Muda diresmikan oleh Presiden Soekarno tepat pukul 09.25.