Kawasan Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

  • Regol Kamandungan Lor

  • Pakubuwono X saat Memperingati Grebeg Mulud di Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat tanggal 30 Ju

  • Rumah Pangeran Hangabehi, yang kemudian menjadi Pakubuwono XI, Foto sekitar Tahun 1906-1930

  • Tentara Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sekitar Tahun 1908-1930

  • Pendopo Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat sekitar Tahun 1910-1930

  • Regol Kemandungan Lor sekitar Tahun 1930

  • Pakubuwono VI

  • Pakubuwono X bersama Istrinya, Ratu Mas dan anaknya, Sekar Kedaton, Foto sekitar Tahun 1930

  • Regol Kamandungan Lor Tahun 1968

  • Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat Tahun 1968

  • Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat

  • Bangsal Brojonolo Kiwo

  • Bangsal Maerokoto

  • Panggung Sanggabhuwana

  • Kori Gapit Kulon

  • Kori Brojonolo Tampak Selatan

NO REGNAS RNCB.20160907.05.001239
SK Penetapan

SK Walikota No646/1-R/1/2013

SK Menteri No208/M/2017

SK Walikota No432/38.6/1/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kota Surakarta
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat
Nama Pengelola Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Pemerintah Kota Surakarta

Kawasan Cagar Budaya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat membentuk tata ruang yang membujur dari utara ke selatan yang terbagi tiga area, yaitu: (1) area di luar tembok beteng Baluwarti bagian utara dan selatan; (2) area di dalam tembok beteng Baluwarti; dan (3) area di dalam Cepuri.
Pertama, area di luar tembok beteng Baluwarti bagian utara dan selatan yang dapat diuraikan sebagai berikut.
a. Area di luar tembok beteng Baluwarti bagian utara.
1) Gapura Gladag
Gapura Gladag adalah pintu masuk Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat dari arah utara. Di depan Gapura Gladag terdapat dua arca raksasa kembar di kiri dan kanan jalan yang disebut Reca Pandita Yaksa.
2) Gapura Pamurakan
Gapura Pamurakan terletak di sebelah selatan Gapura Gladag dengan tiga pasang gapura yang dilengkapi dengan pohon beringin di kanan kiri sebagai peneduh. Gapura ini memiliki bentuk yang sama dengan Gapura Gladag, yaitu berbentuk candi bentar. Pamurakan merupakan bagian ruang antara gapura kedua dan gapura ketiga. Tempat ini berfungsi sebagai tempat pembagian (murak) daging binatang hasil buruan.
3) Gapura Bathangan
Gapura Bathangan terletak di sebelah timur Alun-alun Lor yang merupakan jalan keluar menuju perkampungan Kedung Lumbu.
4) Gapura Klewer
Gapura Klewer terletak di depan Pasar Klewer yang saat ini berfungsi sebagai pintu masuk dan keluar dari arah barat daya Alun-alun Lor. Gapura Klewer pada awalnya lazim dikenal dengan nama Kori Slompretan karena di area gapura ini lazim digunakan oleh para abdi dalem peniup terompet meniup terompetnya pada saat raja hendak masuk dan/atau keluar dari keraton untuk menghadiri upacara-upacara. Gapura ini berbentuk padhuraksa tanpa pintu. Pada bagian tengah berbentuk lengkung dengan hiasan simbol Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat (Sri Radya Laksana).
5) Tembok Beteng Alun-alun Lor
Berupa tembok yang mengelilingi Alun-alun Lor, baik di sisi barat maupun sisi timur alun-alun. Tembok beteng ini bermula dari Gapura Gladag, kemudian membelok di belakang bangunan Pekapalan dan berakhir di Kori Supit Urang di sisi barat dan timur Pagelaran Sasana Sumewa.
6) Bangsal Pekapalan
Bangsal Pekapalan adalah bangunan-bangunan terbuka beratap Joglo yang berada di bagian barat, utara, dan timur Alun-alun Lor.
7) Bale Agung
Bale Agung adalah bangunan tertutup beratap Joglo yang berada di bagian utara Alun-alun Lor. Bale ini merupakan tempat bekerjanya dewan kerajaan yang bertugas memberikan masukan bagi raja dalam hal pembuatan keputusan atau peraturan kerajaan.
8) Alun-alun Lor
Alun-alun merupakan suatu lapangan terbuka yang luas yang berada di depan Pagelaran Keraton. Di tengah alun-alun terdapat dua pohon beringin kurung atau seringkali disebut juga waringin sengkeran. Beringin di sebelah timur bernama Jayandaru (kemenangan) dan di sebelah barat bernama Dewandaru (keluhuran).
9) Masjid Agung
Masjid Agung Surakarta pada awalnya bernama Masjid Ageng Keraton Surakarta Hadiningrat awalnya dibangun oleh Pakubuwono III pada sekitar tahun 1749. Terletak di sebelah barat Alun-alun Lor Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat. Masjid ini memiliki posisi penting dalam hal penyebaran agama Islam di Surakarta. Masjid berada pada lahan seluas hampir satu hektar. Bangunan utama masjid berukuran 34,2 meter x 33,5 meter. Masjid ini telah melalui beberapa penambahan dan renovasi hingga masa Pakubuwono X.
10) Sekolah Mamba’ul Ulum
Sekolah ini dibangun oleh PB X, terletak di dalam area masjid, tepatnya di sebelah selatan Masjid Agung.
11) Paseban
Paseban adalah tempat untuk seba atau menghadap raja yang berada pada bangunan Pagelaran dan/atau Sitihinggil. Pagelaran dan Sitihinggil ini merupakan dualisme yang saling melengkapi, walaupun secara fisik, satu di antaranya berkedudukan lebih tinggi daripada yang lain.
a) Pagelaran
Pagelaran yang lazim disebut Sasana Sumewa merupakan bangunan yang berdenah empat persegi panjang dan dikelilingi oleh halaman yang dibatasi pagar berbentuk huruf U. Ukuran halaman 135 m x 87,5 m atau seluas 11.812,5 m². Kedudukan bangunan ini lebih rendah dari pada halaman Sitihinggil dan dipisahkan oleh pagar teralis. Hubungan kedua halaman ini dapat dicapai melalui pintu dan tangga. Bentuk bangunan Pagelaran adalah terbuka dengan lantai, tiang, dan atap. Selain itu, pada halaman Pagelaran juga terdapat bangunan-bangunan lain seperti Bangsal Martalulut, Bangsal Singonegoro, Bangsal Pacikeran, dan bangsal Pacekotan. Selain itu, di dalam bangunan ini terdapat pula Bangsal Pangrawit yang berada tepat di tengah. Bangsal tersebut digunakan sebagai tempat raja atau Susuhunan duduk pada saat diselenggarakan upacara kerajaan.
b) Sitihinggil
Sitihinggil merupakan tempat singgasana raja/susuhunan pada saat penobatan raja. Pada Sitihinggil terdapat Bangsal Witono, Bangsal Manguntur Tangkil, Bangsal Sewayana, Bale Bang, Bangsal Angun-angun, Bangsal Gandhek Kiwa, dan Bangsal Gandhek Tengen.
b. Area di luar Tembok Beteng Baluwarti bagian selatan
Di dalam area ini terdapat:
1) Sitihinggil;
2) Alun-alun Kidul;
3) Kori Brojonolo Kidul; dan
4) Gapura Gading.
5) Bangunan yang menyimpan Kereta Jenazah dan Kereta Pesiar Sunan;
c. Area di dalam Tembok Beteng Baluwarti
1) Pemukiman Abdi Dalem
Kompleks pemukiman dihuni oleh para Pangeran dan para prajurit terdiri dari Dalem Wiryodiningratan, Dalem Purwodiningratan, Dalem Sasono Mulyo, Dalem Suryohamijayan, Dalem Mangkubumen, Dalem Mloyokusuman, Dalem Ngabean, serta kampung prajurit yang meliputi Tamtaman (prajurit Tamtomo), Carangan (prajurit Carangan), dan Wirengan (prajurit Wirengan). Baluwarti merupakan sebuah beteng yang terletak di belakang Sasana Sumewa (Pagelaran) dengan pintu masuk Kori Brojonolo Lor (utara), Kori Brojonolo Kidul (selatan), Kori Gapit Wetan (timur), dan Kori Gapit Kulon (barat).
2) Sekolah SMP Kasatriyan
Sekolah SMP Kasatriyan merupakan sebuah bangunan di dalam Baluwarti yang berfungsi sebagai sarana pendidikan. Pada awalnya merupakan SD Kasatriyan yang berfungsi sebagai tempat pendidikan putra-putra raja. Pada tanggal 3 Januari 1954 terjadi perubahan status peringkat menjadi SMP Kasatriyan hingga sekarang. SD Kasatriyan kemudian dipindah di sebuah bangunan yang terletak di barat Gapura Gadungmlati. Bangunan SMP Kasatriyan berasitektur Kolonial dengan atap pelana bertingkat.
3) Lumbung Silayur
Merupakan sebuah rumah panjang permanen yang berfungsi sebagai lumbung padi (tempat menyimpan padi) yang merupakan sarana penunjang persediaan beras khusus untuk kebutuhan raja di Keraton Surakarta.
4) Makam Ki Gede Sala
Ki Gede Sala adalah penguasa Desa Sala sebelum berdirinya Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat, lebih tepatnya pada masa Keraton Kartasura. Setelah peristiwa Geger Pacina tahun 1741 ada upaya untuk memindahkan Keraton Kartasura ke arah timur. Dari tiga tempat alternatif (Kadipolo, Sonosewu dan Desa Sala) dipilihlah Desa Sala sebagai pusat Keraton Surakarta. Makam Ki Gede Sala terletak di sudut Timur laut baluwarti, atau di sebelah timur Dalem Mloyokusuman. Luas areal makam ini adalah 10 x 10 m. Di area ini terdapat pula tiga makam lainnya. Makam-makam tersebut adalah: makam Ki Gede Sala, Makam Kyai Carang, dan Makam Nyai Sumedang.
d. Area Dalam Beteng Cepuri
Di dalam area ini terdapat beberapa bangunan yaitu:
1) Kori Kemandungan Lor
2) Garasi
3) Bale Smarakata
4) Bale Mercukunda
5) Kori Sri Manganti
6) Panggung Songgo Buwono
7) Pelataran
8) Bangsal Maligi
9) Pendapa Sasana Sewaka
10) Pendapa Paningrat
11) Sasana Parasdya
12) Dalem Ageng Prabasuyasa
13) Sasana Handrawina
14) Kantoran Dalem
15) Kori Wiwara Kenya
16) Sasana Pustaka
17) Pendapa Magangan (Kompleks Parentah Keraton)
18) Koken
19) Bangsal Pradangga Lor, Kidul, dan Bujono
20) Dalem Kadipaten (Museum)
21) Sidikara
22) Panti Pidana
23) Kori Sri Manganti Kidul
24) Kori Gading Mlati
25) Kori Kemandungan Kidul
26) Gondorasan
27) Dalem Sasana Prabu
28) Langen Katong
29) Sanggar Sengan
30) Sanggar Planggatan
31) Jonggring Salaka
32) Argo Peni
33) Argo Puro
34) Bunker
35) Madusuko
36) Tursino Renggo
37) Panti Arta / Kendayan
38) Keraton Kilen
39) Panti Rukmi
40) Klinik
41) Tursino Puri
42) Pasar
43) Pracimo Wilis
44) Kori Keraton Kilen
45) Banon Sinawi
46) Sumur Jalatunda
47) Masjid Pujasana
48) Kolam Bandengan
49) Pulo Bandengan
50) Batu Meteor (Kyai Pamor)
51) Gedong Puspan
52) Pesalatan Dalem
53) Telih (Tandon Air)
54) Gedong Listrik (Panti Pradipto)
Kerajaan atau Keraton Mataram Islam telah berpindah sebanyak empat kali. Pada awal pendiriannya oleh Panembahan Senopati, Keraton Mataram terletak di Kotagede Yogyakarta. Pada masa pemerintahan Sultan Agung, keraton dipindah ke Kerto. Setelah kegagalan penyerangan Sultan Agung ke Batavia tahun 1628-1629, pusat pemerintahan dipindah ke Plered. Pada masa Amangkurat II, pusat pemerintahan dipindahkan ke daerah Wanakerta yang kemudian disebut dengan Kartasura. Perpindahan keraton ini dipicu oleh beberapa pemberontakan yang membuat keraton hancur. Keraton di Plered hancur karena serangan pasukan yang dipimpin oleh Trunajaya. Akibat dari peristiwa itu pusat keraton Mataram di Plered kemudian dipindahkan ke Kartasura oleh Amangkurat II. Setelah Amangkurat II wafat, ia digantikan oleh puteranya, yaitu Susuhunan Mas atau Amangkurat III (memerintah tahun 1703-1708). Pada masa pemerintahannya terjadi konflik suksesi antara Amangkurat III dan pamannya yaitu Pangeran Puger. Konflik dimenangkan oleh Pangeran Puger yang merupakan adik Amangkurat II. Setelah naik tahta Mataram ia bergelar Pakubuwono I (PB I, memerintah tahun 1703-1719). Pengganti PB I adalah puteranya yang bergelar Amangkurat IV atau Susuhunan Prabu (memerintah tahun 1719-1727). Pengganti Amangkurat IV adalah puteranya yang bergelar Pakubuwono II (PB II).
Pada masa Pemerintahan PB II tahun 1727-1749, Kerajaan Mataram dilanda kerusuhan akibat pemberontakan etnis Cina dari Batavia terhadap Belanda yang kemudian berpengaruh terhadap Kerajaan Mataram Kartasura (1740-1743). Dalam situasi genting tersebut pada awalnya PB II berpihak kepada kaum pemberontak Cina. Akan tetapi kegagalan penaklukan Semarang pada awal tahun 1742 menyebabkan PB II berubah sikap dan bersekutu kembali dengan kompeni. Akibatnya, Masyarakat Cina dan Mataram merasa kecewa. Mereka kemudian dipimpin oleh Mas Garendi atau Sunan Kuning melawan raja dan berhasil menguasai istana pada tanggal 30 Juni 1742. Dalam situasi genting ini raja berhasil melarikan diri bersama putera mahkota didampingi oleh Kapten Kumpeni bernama Johan Andries van Hogendorff menuju Ponorogo. Penguasaan Mas Garendi atas istana Mataram di Kartasura tidak lama karena pihak lain yaitu Cakraningrat IV berhasil merebut istana Kartasura. Akan tetapi, setelah Cakraningrat berhasil dibujuk Kumpeni, keadaan menjadi aman. Pada November 1742 PB II dapat pulang ke Kartasura dan menduduki tahta kembali. Namun demikian, akibat peristiwa-peristiwa itu istana Mataram di Kartasura menjadi rusak berat.
Situasi PB II mempunyai ide untuk membangun dan memindahkan istana baru di Desa Sala. Istana baru ini kemudian ditambah berbagai bangunan sebagai pelengkap. Bangunan-bangunan tersebut seperti Masjid Agung, Sitihinggil, dan Pintu Srimanganti. Pakubuwana II mendiami keraton baru ini hanya dalam waktu selama tiga tahun. Pada tahun 1749 PB II wafat. Ia digantikan oleh puteranya yang kemudian bergelar Pakubuwono III (PB III). Pada masa pemerintahannya kerajaan Mataram menghadapi perlawanan hebat dari Raden Mas Said dan Pangeran Mangkubumi. Perlawanan Mangkubumi berhenti setelah berhasil adanya kesepakatan dalam bentuk Perjanjian Giyanti pada 13 Februari 1755. Perjanjian Giyanti menghasilkan keputusan penting berupa pembagian kerajaan Mataram menjadi dua, yaitu Kasunanan Surakarta Hadiningrat dan Kasultanan Yogyakarta Hadiningrat. Sejak Perjanjian Giyanti itu pula kedudukan kerajaan Mataram berakhir.
Khusus Kasunanan Surakarta pembangunan keraton dilanjutkan oleh raja-raja penerus PB II yaitu dari PB III hingga Pakubuwono X (PB X). Pada masa PB X, Keraton Kasunanan Surakarta mengalami kemegahan secara secara fisik. Hal itu ditunjukkan dengan dibangunnya beberapa gapura di lingkungan keraton, keraton kilen, Pagelaran, dan Sitihinggil.
Dalam sejarah Indonesia, Keraton Kasunanan Surakarta berperan dalam perlawanan terhadap penjajahan Belanda. Meskipun dalam tekanan hegemoni Pemerintah Hindia Belanda, dari Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat terdapat dua raja yang berperan besar dalam perjuangan bangsa melawan kolonialisme. Mereka ialah: (1) Sri Susuhunan Pakubuwono VI (PB VI) memerintah antara tahun 1823-1830, dan (2) Susuhunan Pakubuwono X (PB X) memerintah antara tahun 1893-1939.
Sri Susuhunan Pakubuwono VI (PB VI), dikenal karena sikapnya yang anti Belanda serta perannya dalam membantu perjuangan Pangeran Diponegoro dalam melawan Belanda. Secara diam-diam kerapkali bantuan pihak Surakarta datang kepada pasukan Diponegoro, dan PB VI juga beberapa kali menemui Pangeran Diponegoro di tempat-tempat sunyi sambil menyepikan diri (meditasi), oleh karena itu PB VI dijuluki juga Sunan Bangun Tapa. Sekali waktu Pangeran Diponegoro berkunjung ke keraton Surakarta, pihak Belanda akan menangkapnya, namun sang pangeran berhasil meninggalkan keraton sebelum tentara Belanda datang.
PB VI ditangkap dan dibuang oleh pemerintah penjajahan Belanda ke Ambon. Pakubuwono VI berani menolak menandatangani perjanjian dengan Pemerintah Hindia Belanda untuk menyerahkan daerah mancanegara. Menjelang perang Diponegoro berakhir, ia dijatuhi hukuman pengasingan ke Ambon berdasarkan Resolusi 3 Juli 1830, hingga wafat pada tahun 1849. PB VI wafat karena ditembak Belanda. Sekarang makam sang Sunan telah dipindahkan ke kompleks makam raja-raja Surakarta-Yogyakarta di Imogiri (Soewito-Santoso 1990: 92 dan 152).
Sikap PB VI dinilai oleh kebanyakan orang sebagai tindakan terpuji, karena ia tidak mau menerima kebesaran-tetap sebagai raja-dengan mengorbankan kepentingan kerajaan dan rakyatnya. Pakubuwono VI ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1961.
Susuhunan Pakubuwono X (PB X) ialah cucu dari PB VI, ia tentu paham betul prinsip kakeknya yang anti pemerintah kolonial Belanda. Tokoh ini yang bertindak sebagai pendorong di balik layar kemunculan organisasi-organisasi pergerakan Nasional. Organisasi Sarekat Islam (SI) berdiri di Surakarta dengan dukungan penuh PB X. Beliau mengizinkan SI mengadakan kongres pada tahun 1913 sekaligus ia hadir dalam kongres tersebut. Dalam bidang pendidikan, PB X mendirikan antara lain Sekolah Mambaul Ulum pada tahun 1905 untuk calon abdi dalem dalam urusan agama.
Boedi Oetomo diizinkan oleh PB X untuk melakukan aktivitasnya dan perjalanan-perjalanan PB X ke beberapa daerah di wilayah Jawa Tengah, Jawa Timur, Jawa Barat dan juga melakukan kunjungan ke Batavia dianggap telah membangkitkan nasionalisme Jawa tahun 1918. Pakubuwono X dianggap sebagai “Kaisar Jawa” dan “Raja SI” (Kuntowijojo 2004: 35). Beliau dianggap berhasil mempersatukan trah Mataram dengan perkawinannya yang kedua dengan puteri Sultan Hamengkubuwono VII dari Yogyakarta dalam tahun 1912. Istri PB X ke-2 tersebut kemudian bergelar Ratu Hemas. Jasa yang begitu menonjol dari PB X dalam era kekuasaannya adalah menyokong sepenuhnya organisasi SI di Surakarta, sehingga berkembang pesat dan menjadi titik awal upaya perjuangan kemerdekaan Indonesia (Kuntowijoyo 2004: 108—111). Pakubuwono X ditetapkan sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 2011.
Kedua penguasa itulah yang turut memberikan nilai lebih pada peran Keraton Surakarta sebagai kedudukan para penguasa penentang penjajahan Belanda.
Riwayat Penanganan
1. Pada tahun 1974/1975 Keraton Kasunanan Surakarta Hadiningrat ini telah dipugar oleh Proyek Sasana Budaya, yakni hanya bangunan Panggung Sanggabhuwana.
2. Pada tahun 1987 Bangunan Handrawina, Probosuyoso, Paningrat diperbaiki karena bangunan terbakar tahun 1985.
3. Pada tahun 1998 Revitalisasi Pagelaran Keraton Kasunanan Surakarta HAdiningrat bersumber dari dana APBN 1997/1998 melalui Proyek Pengembangan Pariwisata Jawa Tengah Departemen Pariwisata dan Telekomunikasi dengan konsultas Perencana CV. Wastu Widyawan Jaya, Konsultan Pengawas Fakultas Teknik UGM, dan Kontraktor PT. Sri Makuto Nugroho.
4. Pada tahun 2016 dipugar pada bangun Kori Kemandungan Lor, Sasana Wilopo, Garasi, oleh PU Provinsi Jawa Tengah.