Tugu Kebangkitan Nasional (Tugu Lilin)

  • Prasasti Tugu Lilin di Sisi Barat Tugu

  • Prasasti Penetapan Cagar Budaya Tugu Lilin di Sisi Barat Lapik Tugu

  • Struktur Cagar Budaya Tugu Kebangkitan Nasional (Tugu Lilin)

  • Struktur Cagar Budaya Tugu Kebangkitan Nasional (Tugu Lilin)

  • Struktur Cagar Budaya Tugu Kebangkitan Nasional (Tugu Lilin)

NO REGNAS RNCB.20181004.03.001509
SK Penetapan

SK Walikota No646/1-R/1/2013

SK Menteri No369/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Struktur
Kabupaten/Kota Kota Surakarta
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Yayasan Murni
Nama Pengelola Pemerintah Kota Surakarta

Tugu Kebangkitan Nasional (Tugu Lilin) berada di daerah perkotaan, yang letaknya strategis, yaitu di sudut antara Jalan Kebangkitan Nasional dan Jalan dr. Wahidin. Tugu Kebangkitan Nasional lazim dikenal sebagai Tugu Lilin. Secara visual, perwujudan tugu tersebut merupakan replika lilin yang menyala sebagai simbol dari semangat yang menerangi.
Wujud visual api, lilin, dan bagian lapik pada Tugu ini merupakan perwujudan bentuk lingga-yoni yang berkembang pada masa Hindu-Buddha.
Tugu Kebangkitan Nasional (Tugu Lilin) dibangun dalam rangka memperingati 25 tahun berdirinya Boedi Oetomo. Niat pendirian tugu ini dicetuskan oleh perwakilan masyarakat Surakarta (Solo) saat mengikuti Kongres Indonesia Raya I pada tahun 1931 di Surabaya. Pelaksanaan pembangunan dipercayakan kepada KRT Woerjaningrat, menantu Paku Buwono PB X yang juga merupakan Wakil Ketua Boedi Oetomo.
Menurut KRMT Drs. Suwitadi Kusumadilaga, SH, MM, Msi, sebagai salah satu pendiri Yayasan Murni, KRT Woerjaningrat dibantu sekelompok panitia yang terdiri atas tujuh orang yang dipimpin oleh Mr. Singgih. Panitia ini lalu mengadakan sayembara untuk mencari rancangan yang sekiranya bisa dijadikan tanda pergerakan kebangsaan Indonesia. Total, ada tiga orang yang mengikuti sayembara ini. Rancangan yang dibuat oleh Ir. Soetedjo dipilih oleh panitia. Karyanya dianggap memenuhi harapan mengungkapkan cita-cita kebangsaan dengan bahasa yang mudah dimengerti oleh masyarakat umum. Rancangan yang dibuat oleh Ir. Soetedjo adalah tugu berbentuk lilin yang akan dibangun di sebuah tanah lapang.
Tugu ini dibangun di Surakarta karena mendapatkan izin dan dukungan dari Pakubuwono X selaku penguasa Kasunanan Surakarta setelah sebelumnya gagal dibangun di beberapa kota seperti Batavia, Surabaya, dan Semarang. Peletakan batu pertama dilakukan pada awal Desember 1933 dan pembangunannya diserahkan kepada R.M. Sosrosaputro. Namun, pemerintah Hindia Belanda menolak pembangunan tugu tersebut. Residen Surakarta sempat menghambat pembangunan tugu ini. Bahkan, Gubernur Jenderal Hindia Belanda saat itu Bonifacius Cornelis de Jonge mengundang Pakubuwono X untuk membicarakan masalah ini.
Pembangunan masih terus dilanjutkan dan selesai pada Oktober 1934. Tugu ini kemudian diberi nama “Toegoe peringatan pergerakan kebangsaan 1908-1933”. Nama tersebut ditolak oleh pemerintah dan mengancam akan membongkar tugu tersebut. Pakubuwono X kemudian ikut turun tangan agar mendapatkan izin dari pemerintah. Di akhir Januari 1935, PB X datang ke Batavia untuk bertemu Gubernur Jenderal. Namun, usahanya ini menemui kegagalan. Pada bulan April 1935 residen Treur kembali mengancam akan membongkar tugu ini jika usulan teksnya yang berbunyi “Toegoe peringatan kemadjoean ra’jat 1908-1933” tidak diterima. Pada akhirnya, usulan dari Treur ini terpaksa diterima dan dituliskan pada prasasti di tugu.
Peletakan gumpalan tanah dari berbagai penjuru tanah di Nusantara juga dilakukan di pelataran tugu. Namun, masih ada perbedaan mengenai waktu penanaman tanah ini. Para anggota PPPKI yang tersebar di seluruh Nusantara itu datang ke Solo dengan membawa gumpalan tanah dari daerah mereka masing-masing. Pada tahun 1948 Tugu Lilin dijadikan simbol peringatan Kebangunan Nasional (yang kemudian disebut Kebangkitan Nasional) yang pertama. Pada tahun 1953 Tugu Lilin dijadikan bagian dari logo Kota Surakarta.