Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia

  • Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia

  • Foto Lambang Negara Indonesia (Cakar di Belakang)

  • Surat Sultan Hamid kepada Masagung

  • Lambang Negara Indonesia Berdasarkan Peraturan Pemerintah Nomor 66 Tahun 1951 tentang Lambang Negara

  • Lambang Negara Indonesia yang Tercantum pada Amandemen Kedua Undang-Undang Dasar 1945 pada tahun 200

  • Lambang Negara Indonesia Hasil Rancangan Sultan Hamid II, Diajukan pada Tanggal 10 Februari 1950

  • Lambang Negara Indonesia Hasil Revisi Bung Karno atas Rancangan Sultan Hamid II yang Diajukan pada T

  • Lambang Negara Indonesia Hasil Sketsa oleh Sultan Hamid II beserta Surat dari Bung Karno

  • Berbagai Sketsa Rancangan Lambang Negara Indonesia oleh Sultan Hamid II

  • Sketsa Rancangan Perisai Garuda pada Lambang Negara Indonesia oleh Sultan Hamid II

  • Sketsa Rancangan Simbol Bagian Panil Perisai Garuda pada Lambang Negara Indonesia oleh Sultan Hamid

  • Garuda Keraton Sintang

  • Sketsa Rancangan Lambang Negara Indonesia oleh Ki Hadjar Dewantara

  • Sketsa Rancangan Simbol Bagian Panil Perisai Garuda pada Lambang Negara Indonesia oleh Ki Hadjar Dew

  • Sketsa Rancangan Simbol Bagian Panil Perisai Garuda pada Lambang Negara Indonesia oleh M. Natsir

  • Bagian Sketsa Rancangan Lambang Negara Indonesia yang Dikritik oleh M. Natsir

  • Sketsa Rancangan Lambang Negara Indonesia oleh M. Yamin

  • Sketsa Rancangan Lambang Negara Indonesia oleh M. Yamin yang Ditolak oleh Pemerintah Republik Indone

  • Sketsa Rancangan Lambang Negara Indonesia oleh M. Yamin yang Ditolak oleh Pemerintah Republik Indone

  • Sketsa Rancangan Bagian Buntut Garuda pada Lambang Negara Indonesia oleh M.A. Pellaupessy

  • Sketsa Rancangan Bagian Buntut Garuda pada Lambang Negara Indonesia oleh R.M. Ng. Poerbatjaraka

NO REGNAS RNCB.20161025.01.001352
SK Penetapan

SK Menteri No204/M/2016

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Benda
Kabupaten/Kota Kota Jakarta Selatan
Provinsi DKI Jakarta
Nama Pemilik Yayasan Sultan Hamid II
Nama Pengelola Yayasan Sultan Hamid II

Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia (LNI) merupakan sketsa rancangan Sultan Hamid II beserta surat disposisi Bung Karno yang tercantum di dalamnya. Ada beberapa sumber gambar rancangan dan foto rancangan asli lambang negara Indonesia, yaitu berupa Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia, Foto LNI, Surat Sultan Hamid Agung ke Masagung. Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia berupa kertas gambar sketsa yang dibuat dengan menggunakan pensil dengan objek (LNI) berupa burung garuda yang kepalanya menoleh lurus ke arah kanan, dengan perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher garuda, serta terdapat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tertulis di atas pita yang dicengkeram oleh garuda. Burung garuda tersebut memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang mewujudkan lambang tenaga pembangunan. Jumlah masing-masingnya yaitu memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17, ekor berbulu 8, pangkal ekor berbulu 19, dan leher berbulu 45. Kedua cakar garuda yeng terdapat pada pita mencengkeram dari depan pita. Gambar rancangan ini di bingkai dengan panjang bingkai: 47 cm, lebar bingkai: 39 cm, panjang kertas: 35 cm, dan lebar kertas: 27 cm.
Pada Foto LNI, lambang negara ini berupa kertas foto dengan objek (LNI) berupa burung garuda yang kepalanya menoleh lurus ke arah kanan, dengan perisai berupa jantung yang digantung dengan rantai pada leher garuda, serta terdapat semboyan “Bhinneka Tunggal Ika” tertulis di atas pita yang dicengkeram oleh garuda. Burung garuda tersebut memiliki paruh, sayap, ekor, dan cakar yang mewujudkan lambang tenaga pembangunan. Jumlah masing-masingnya yaitu memiliki sayap yang masing-masing berbulu 17, ekor berbulu 8, pangkal ekor berbulu 19, dan leher berbulu 45. Kedua cakar garuda yeng terdapat pada pita mencengkeram dari belakang pita. Foto Lambang Negara Indonesia (LNI) ini dibingkai dengan Panjang bingkai : 47 cm, ebar bingkai : 39 cm, panjang kertas : 35 cm, dan lebar kertas : 27 cm.

Pada Surat Sultan Hamid kepada Masagung ini terdapat 11 baris di atas permukaan kertas yang sepertinya sejenis dengan yang digunakan untuk membuat sketsa LNI. Surat ditulis menggunakan pena dan terdapat tulisan (sepertinya dicetak oleh mesin ketik) pada bagian tengah dan bawah kertas. Surat Sultan Hamid kepada Masagung ini dibingkai dengan panjang bingkai: 47 cm, lebar bingkai: 39 cm, panjang kertas: 34 cm, dan lebar kertas: 24 cm. Proses penciptaan lambang negara sendiri baru dapat dilakukan pada tahun 1949. Penciptaan lambang negara baru terpikirkan setelah adanya Bagian III Konstitusi Republik Indonesia Serikat 1949, pasal 3 ayat 3 yang mengatur tentang Lambang Negara. Setelah itu sekelompok panitia yang dipimpin oleh Muhammad Yamin dengan anggotanya antara lain adalah Ki Hajar Dewantara, M.A Pellaupessy, Moh. Natsir dan R.M Ng Purbatjaraka dibentuk untuk menampung saran yang masuk terkait lambang negara sebelum diserahkan kepada presiden. Presiden Soekarno juga memberikan perintah jika lambang negara gambarnya harus disesuaikan dengan dasar negara Pancasila.

Diadakan semacam sayembara untuk mencari usulan tentang lambang negara ini. Hasil akhir, ditentukan dua usulan yang berasal dari M. Yamin dan Sultan Hamid II. Usulan yang digambarkan oleh M. Yamin berupa kepala kerbau yang disertai dengan sinar matahari. Sedangkan Sultan Hamid II menggambarkan Garuda yang sedang mencengkeram sebuah perisai. Usulan dari Sultan Hamid II yang kemudian dipilih untuk menjadi lambang negara. Rancangan awal dari Sultan Hamid II pada awalnya adalah kepala dari burung yang digambar berbentuk manusia. Setelah mendapatkan masukan dari berbagai pihak, Sultan Hamid II merubah bentuk kepala burung tersebut. Kemudian lambang negara ini dikenalkan kepada khalayak umum dan dipasang di ruang sidang parlemen RIS. Namun, lambang tersebut masih mendapatkan kritik dari berbagai pihak agar dapat diperbaiki. Sultan Hamid II sendiri masih memperbaiki rancangannya tersebut. Namun kemudian karena diduga terlibat gerakan APRA/Westerling, Sultan Hamid tidak dilibatkan kembali dalam perbaikan lambang negara. Perbaikan dilakukan sendiri oleh presiden Soekarno.

Presiden Soekarno meminta kepada Sultan Hamid II untuk merevisi bentuk kepala burung elang hitam karena kepala burung tidak mempunyai jambul dan terlihat “botak”. Setelah Sultan Hamid II menaruh jambul di kepala Garuda nya, Presiden Soekarno menginstruksikan kepada pelukis, Dullah untuk melukis burung garuda tersebut. Sultan Hamid II telah memotret gambar dalam potret hitam putih untuk dikoreksi oleh Presiden Soekarno. Namun, Presiden Soekarno tetap keberatan dengan bentuk cakar-cakarnya yang memegang seloka Bhineka Tunggal Ika dari belakang seloka tersebut. Dalam merevisi bentuk Garuda Pancasila, terutama posisi cakar yang memegang seloka dari sisi depan, Sultan Hamid II kemudian berkonsultasi dengan Ruhl Jr, yang merupakan ahli simbol. Sketsa baru kemudian diberikan kepada Presiden Soekarno yang secara langsung mengeluarkan disposisi pada simbol ini sebagai simbol nasional pada tanggal 20 Maret 1950.

Dullah kemudian menggambar ulang Garuda Pancasila, merubah posisi cengkraman cakar. Simbol nasional yang disetujui kemudian disebarkan kepada seluruh bagian negara. Setelah presiden Soekarno menerima lukisan terakhir yang dilukiskan dua kali oleh Dullah, ia memerintahkan Sultan Hamid II sebagai Koordinator Komite Simbol Nasional Republik Indonesia Serikat sebagai pencipta Garuda Pancasila untuk membuat revisi lebih jauh pada skala pengukuran, bentuk, corak warna dan tulisan yang tepat. Sketsa final dimasukkan dalam Peraturan Pemerintah No.66 tahun 1951 pada tanggal 17 Oktober 1951. Gambar Rancangan Asli Lambang Negara Indonesia kondisinya dalam keadaan terawat tetapi terdapat beberapa bagian kertas yang berlubang terutama pada bagian cakar garuda, bagian lukisan dan beberapa bagian lainnya di bagian kertas. Pada Foto LNI kondisinya foto sudah mengelupas dan ada bekas lipatan di bagian bawah, lambang sudah dibingkai dengan frame kayu pada saat Presiden mau melakukan perjalanan ke Pontianak yaitu pada tahun 2004, dan kondisi foto dalam keadaan baik dan sudah dilaminasi. Pada Surat Sultan Hamid II kepada Masagung kondisinya tulisan tangan masih terlihat jelas dan masih bisa dibaca dan kondisi surat dalam keadaan baik dan sudah dilaminasi.