Kawasan Cagar Budaya Permukiman, Pemandian, dan Pemakaman Tradisional Megalitik Bawomataluo

  • Susunan Tangga Akses Masuk Satuan Ruang Geografis Bawomataluo

  • Deretan Rumah Adat Bawomataluo

  • Husö Newari, Batu Pusat Bawomataluo

  • Batu Penanda di Puncak Tangga

  • Omo Sebua, Rumah Raja Bawomataluo

  • Deretan Meja Batu di depan Omo Sebua

  • Batu Tegak di Depan Omo Sebua Berhiaskan Kalabubu, Kalung Tradisional Bawomataluo

  • Motif Hias pada Meja Batu di Depan Omo Sebua

  • Motif Hias pada Batu dari Saonigeho

  • Bale, Balai Desa Bawomataluo

  • Omo Hada, Rumah Adat Bawomataluo

  • Struktur Bagian Bawah Omo Hada.

  • Omo Hada dan Koneksi Antar Rumah.

  • Jangkar-jangkar Omo Hada Tanpa Umpak.

  • Struktur Penyangga Atap Omo Hada.

  • Struktur Penyangga Atap Omo Hada.

  • Hombo Batu, Lompat Batu.

  • Makam Raja Saonigeho.

  • Makam Raja Saonigeho.

  • Faulu Raja Laowo.

  • Faulu Raja Saonigeho.

  • Faulu Kamoro.

  • Faulu Kamoro.

  • Faulu Tuho Badano.

  • Faulu Tuho Badano.

  • Pemandian Raja.

  • Namõ Si Felendrua.

  • Namõ Si Felendrua.

  • Lawolo.

  • Oli Mbanua, Benteng Desa Bawomataluo.

  • Meriam Kuno.

  • Masyarakat Mengangkut Daro-daro Batu dalam Upacara Pemakaman Tradisional Bawomataluo, Tahun 1915

  • Upacara Adat Bawomataluo, Tahun 1915.

  • Tradisi Lompat Batu pada Hombo Batu di Bawomataluo, Tahun 1915.

NO REGNAS RNCB.20171103.05.001483
SK Penetapan

SK Menteri No186/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Nias Selatan
Provinsi Sumatera Utara
Nama Pemilik masyarakat Desa adat Bawömataluo, Pemerintah Desa Bawömataluo, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh
Nama Pengelola masyarakat Desa adat Bawömataluo, Pemerintah Desa Bawömataluo, dan Balai Pelestarian Cagar Budaya Aceh

Sejarah berdirinya desa Bawõmataluo tidak bisa dipisahkan dari sejarah berdirinya desa Orahili Fau sebagai cikal bakal desa Bawõmataluo. Menurut catatan sejarah yang ditulis oleh Rappard, TH.C. Controleur B.B., Het eiland Nias en zijne bewoners, 1908, S’Gravenhage, hal. 615-617, pada tahun 1855 desa Orahili Fau di abad XVII telah melakukan perlawanan dan penyerangan hebat terhadap tentara Kolonial Belanda yang hendak menguasai wilayahnya. Tercatat ada tiga kali peperangan, dan di setiap peperangan desa Orahili Fau selalu berhasil memukul mundur tentara Belanda dan merampas persenjataan dan harta benda mereka. Baru pada serangan tentara Belanda yang ke-4 dengan didukung 600 orang serdadu, 27 orang perwira dan 4 unit meriam di bawah komando Mayor H.J. Fritzen pada awal Juni tahun 1863 berhasil menaklukan desa Orahili Fau. Wilayah desa itu dibumihanguskan.
Atas kekalahan tersebut di bawah pimpinan Owatua dan anak-anak (Lahelu’u, Bofõna, Fõna Oli’õ, Tuha Geho) beserta cucu-cucunya penduduk desa Orahili Fau lari menyelamatkan diri ke daerah Mazinõ. Tidak lama mereka tinggal di daerah Mazinõ. Pada tahun 1886 mereka pindah ke daerah bernama Barujõ Sifaedo antara desa Hili Nawalõ Fau dan Hili Nawalõ Mazinõ. Mereka tinggal selama lima tahun. Karena kesulitan mendapatkan sumber air bersih, jauh dari laut dan dikelilingi oleh jurang terjal, maka pada tahun 1871 mereka kembali pindah, kali ini ke bukit Fanayama (sekarang tepat berada di belakang Puskesmas Bawõmataluo) selama tiga tahun. Pada tahun 1873, atas saran dari Ere (Imam Besar adat) diajurkan permukiman di bukit pindah ke bukit Hili Soroma Luo yang sekarang dikenal dengan desa Bawõmataluo. Mulai pada saat itu keempat bersaudara anak Owatua (Lahelu’u, Bofona, Fona Oli’õ dan Tuha Geho) mulai membangun dan menata Hili Soroma Luo (Desa Bawõmataluo). Sampai saat ini keturunan dari keempat bersaudara anak Owatua itulah yang menjadi pewaris tahta Si’ulu (bangsawan) di desa Bawõmataluo
Masuknya pengaruh asing dalam budaya Nias diperlihatkan antara lain oleh karya ukir dinding yang meniru budaya material bangsa Eropa seperti bentuk-bentuk kapal, perhiasan, senjata, atau peti-peti harta yang ditempatkan dalam rumah atau sekitar rumah sebagai hiasan. Pengaruh ini diperkirakan masuk sekitar abad XVII-XIX. Pengaruh budaya agama Hindu, Budha, atau Islam umumnya tidak dikenal di lingkungan desa Bawömataluo.
Sampai sekitar tahun 1950-an tradisi megalitik di Pulau Nias masih dapat dikatakan bertahan. Hal itu dibuktikan dengan tetap didirikannya bangunan megalitik (owasa) untuk digunakan dalam aktivitas ritus besar yang dilakukan kelompok masyarakat, meski dengan ukuran bangunan yang relatif kecil.