Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Pola Pemukiman di Satuan Ruang Geografis Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari

  • Pola Pemukiman di Satuan Ruang Geografis Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari

  • Patung Bundo Kanduang di bagian depan Satuan Ruang Geografis Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah d

  • Jalan Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional Nomor 19 di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional Nomor 39 di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional Nomor 34 di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional Nomor 85 di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional Nomor 63 di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung

  • Rumah Tradisional Nomor 10 di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung.

  • Salah Satu Rumah yang ditinggal Pemiliknya Merantau

  • Inskripsi Angka Tahun Pembuatan di Salah Satu Rumah Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah

  • Suasana di sekitar Rumah Tradisional Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sij

  • Masyarakat di Perkampungan Adat Jorong Padang Ranah dan Tanah Bato Nagari Sijunjung dengan Tradisi

NO REGNAS RNCB.20171103.05.001482
SK Penetapan

SK Menteri No186/M/2017

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Kawasan
Kabupaten/Kota Kabupaten Sijunjung
Provinsi Sumatera Barat
Nama Pemilik Kerapatan Adat Nagari (KAN)
Nama Pengelola Kerapatan Adat Nagari (KAN)

Menurut sumber-sumber tradisi pembentukan awal konsep nagari mulai dikenal pada abad ke XIV. Sistem nagari terbentuk karena terpenuhinya syarat menurut adat, yaitu bataratak (menetap), badusun (sudah berkumpul), bakoto (kumpulan beberapa dusun) dan banagari.
Pembentukannya diawali dengan perumusan beberapa tokoh yang berkumpul di Batang Kandih sekitar abad ke XIV. Menurut legenda, dalam perjalanan rapat mereka melihat salah satu anak gadis tercebur ke lumpur dan tidak ada yang dapat mengangkat, sehingga harus menggunakan kemampuan spiritual dengan menggunakan tongkat ”di-junjuang”. Dari peristiwa tersebut muncul ide penamaan nagari ”Si Puti Junjuang”, namun karena pelafalan masyarakat akhirnya diberi nama Sijunjung. Perkampungan ini diperkirakan mulai ada sejak masa Kerajaan Pagaruyung (abad XVI) yang memperlihatkan bentuk pola pemukiman Minangkabau.
Semua rumah gadang yang diduga pemukiman awal berada di pinggir jalan. Di perkampungan ini terdapat beberapa suku yang dibagi menjadi dua yaitu suku induk dan anak suku yang berjumlah 9. Rumah gadang berfungsi sebagai simbol untuk menjaga dan mempertahankan sistem budaya matrilineal sekaligus penanda perkauman dalam kekerabatan. Rumah gadang juga merupakan simbol ekologis yang terlihat dari tata pekarangan serta jenis tanaman yang ditanam.
Keistimewaan:
1. konsepsi harmonisasi dan toleransi keselarasan Koto Piliang dan Bodi Chaniago;
2. menerapkan syarat-syarat fisik sebuah nagari (banagari – sistem pemerintahan tradisonal berbasis himpunan desa); dan
3. Pola penataan permukiman linear yang mengikuti aliran sungai dan jalan.