Benteng Oranje

  • Kastel

  • Benteng Oranje Tampak dari Timur

  • Parit dan Halaman Sisi Timur Benteng Oranje

  • Rampart (jalan keliling) di Atas Dinding Benteng Oranje

  • Meriam di Bastion Timurlaut Benteng Oranje

  • Bangunan di dalam Benteng Oranje

NO REGNAS RNCB.20190219.04.001566
SK Penetapan

SK Menteri No322/M/2018

Peringkat Cagar Budaya Nasional
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kota Ternate
Provinsi Maluku Utara
Nama Pemilik Negara
Nama Pengelola Pemerintah Kota Ternate

Maluku Utara merupakan satu di antara wilayah di Indonesia yang mempunyai sejarah panjang yang erat kaitannya dengan kedatangan bangsa Barat. Wilayah ini dikenal sebagai daerah penghasil rempah-rempah seperti cengkeh yang menjadi komoditi berharga saat itu. Salah satu wilayah di Maluku Utara yang terkenal sebagai penghasil rempah-rempah khususnya cengkeh adalah Pulau Ternate dan Tidore. Hal ini membuat menarik minat bangsa Barat untuk datang ke wilayah ini. Portugis dan Spanyol adalah dua bangsa awal yang datang ke Maluku. Pada awalnya, bangsa Barat hanya menjadi pembeli yang datang langsung untuk mencari rempah-rempah. Namun, kemudian dengan didorong oleh gerakan 3G (Gold, Glory, dan Gospel) bangsa Barat secara perlahan mulai menguasai wilayah Ternate dan Tidore. Spanyol, Portugis, dan VOC sempat memperebutkan wilayah ini dengan bekerjasama dengan dua kerajaan besar di Ternate dan Tidore. Banyak benteng-benteng yang dibangun oleh Portugis, Spanyol, dan VOC untuk melancarkan tujuan mereka.
Pada tahun 1599 dua kapal Belanda di bawah pimpinan Wijbrand van Warwijck tiba di Ternate. Pada tahun 1605 VOC berhasil mengusir bangsa Portugis dari Ternate, tetapi setahun kemudian Ternate direbut oleh bangsa Spanyol. Pada tahun 1607 seorang Laksamana VOC bernama Cornelis Matelieff de Jonge membantu Sultan Ternate untuk mengusir bangsa Spanyol dari Ternate. Atas keberhasilannya tersebut, ia mendapat izin dari Sultan untuk mendirikan sebuah benteng di tempat bekas Benteng Melayu milik Sultan yang sudah rusak. Selain itu, Sultan juga memberi izin kepada VOC untuk melakukan monopoli perdagangan rempah-rempah. Benteng yang awalnya bernama Benteng Melayu ini kemudian pada tahun 1609 namanya diubah menjadi Benteng Oranje oleh Franćois Wittert, yang dalam ingatan kolektif disebut sebagai Benteng Melayu.
Pada tanggal 17 Februari 1613, ketika Pieter Both diangkat menjadi Gubernur Jenderal VOC pertama, dengan Surat Keputusan pada 17 Februari 1613, Dewan Komisaris Heren Zeventien di Belanda menetapkan kawasan Maluku sebagai pusat kedudukan resmi VOC dan kota Ternate, serta Kota Ambon (Amboina) menjadi pilihan tempat tinggal resmi para Gubernur Jenderal. Benteng Oranje dipakai sebagai tempat Pieter Both berunding dengan Sultan Mudaffar dari Ternate.
Pada tahun 1822 Benteng Oranje pernah dijadikan lokasi pengasingan Pahlawan Nasional Sultan Mahmud Badarudin II (Sultan Palembang). Beliau diasingkan di benteng ini hingga meninggal dunia pada tahun 1852 dan dimakamkan di kompleks pekuburan Islam di sebelah barat Kelurahan Kalumpang, Kota Ternate.