Petilasan Ki Kantharaga

  • Petilasan Ki Kantharaga tengah

  • Petilasan Ki Kantharaga Depan

NO REGNAS RNCB.20190319.03.001584
SK Penetapan

SK Bupati No432/226 tahun 2018

Peringkat Cagar Budaya Kabupaten
Kategori Cagar Budaya Struktur
Kabupaten/Kota Kabupaten Purbalingga
Provinsi Jawa Tengah
Nama Pemilik Pemkab Purbalingga
Nama Pengelola Pemkab Purbalingga

Struktur ini memiliki berbagai nama lokal, diantaranya, Arca Batu Onje Bukut dan Petilasan Ki Kantharaga.

Menurut Wikipedia, Arca adalah patung yang dibuat dengan tujuan utama sebagai media keagamaan, yaitu sarana dalam memuja tuhan atau dewa-dewinya. Arca berbeda dengan patung pada umumnya, yang merupakan hasil seni yang dimaksudkan sebagai sebuah keindahan. Oleh karena itu, membuat sebuah arca tidaklah sesederhana membuat sebuah patung. Kini di dalam dunia keagamaan Indonesia dikenal tiga macam arca, yakni arca peninggalan agama Hindu, arca peninggalan agama Budha, dan arca agama Kristen (terutama Katolik).


Menurut Wikipedia, Petilasan adalah istilah yang diambil dari bahasa Jawa (kata dasar "tilas" atau bekas) yang menunjuk pada suatu tempat yang pernah disinggahi atau didiami oleh seseorang (yang penting). Tempat yang layak disebut petilasan biasanya adalah tempat tinggal, tempat beristirahat (dalam pengembaraan) yang relatif lama, tempat pertapaan, tempat terjadinya peristiwa penting, atau—terkait dengan legenda—tempat moksa.

Menurut Adolf Nugroho, dalam alam pikiran yang logis saat ini, petilasan dapat dipahami sebagai tempat bersejarah yang patut untuk dijaga dan dilestarikan. Dengan begitu, ada makna tersirat dari sebuah petilasan untuk dapat menjadi “tetenger” atau penanda (tanda) bahwa generasi sekarang tidak saja menikmati suasana fisik namun menangkap makna historis dari tempat dimana peristiwa tersebut terjadi.

Folklore
Struktur ini memiliki cerita rakyat atau Folklore dari masyarakat desa setempat (Desa Onje, Kecamatan Mrebet). Folklore ini bertahan secara turun temurun dan dipegang teguh oleh masyarakat. Meski dalam manuskrip yang ada, yakni Babad Onje tidak turut menerangkan cerita yang sama dengan folklore ini, justru ‘bisa’ saling melengkapi cerita di dalamnya. Sebab antara folklore dengan babad di sini tidak terjadi pertentangan.

Folklore masih banyak bercerita seputar tokoh Ki Tepus Rumput yang juga ada dalam naskah manuskrip Babad Onje. Disebutkan dalam cerita rakyat bahwa saat beristirahat di tempat bernama Jatiwangi, Syekh Maulana Maghribi alias Ki Tepus Rumput (nama sebutan sebelum mendapat gelar Adipati Onje I), tokoh sentral sejarah Kadipaten Onje, mendengar suara kokok ayam jantan dari arah tenggara. Dengan mendengar kokok ayam tersebut Ki Tepus Rumput menduga, ada manusia lain yang mendiami tempat itu. Ki Tepus Rumput mencari tempat asal suara kokok ayam, ternyata ada sebuah padepokan yang dihuni Ki Onje Bukut. Di sekeliling padhepokan itu ditumbuhi banyak pohon burus. Ki Tepus Rumput juga ditemui sosok manusia bernama Ki Kantharaga.

Ki Kantaraga yang mengabarkan adanya sayembara dari Kerajaan Pajang, bagi laki-laki barangsiapa yang menemukan Cincin Socaludiro milik Sultan Pajang yang hilang itu, maka akan dihadiahi selir dari raja. Ketika Ki Tepus Rumput hendak memperjelas tentang informasi tersebut ternyata Ki Kantharaga tiba-tiba menghilang lalu berubah wujud menjadi Arca Batu tersebut.

Ki Tepus Rumput mengikuti sayembara tersebut dan berhasil memenangkannya. Ia dihadiahi selir dari Sultan Hadiwijaya yang bernama Kencanawungu yang tengah mengandung selama 4 bulan. Syekh Maulana Mahribi juga dijanjikan diberi wilayah oleh Sultan Hadiwijaya di sebelah barat Sungai Klawing. Menempati lagi Desa Onje ini dan menjadikannya sebagai pusat kadipaten.

Dalam cerita versi lain, sosok tokoh Ki Kantharaga hendak dicari lagi oleh Ki Tepus Rumput yang akan berterimakasih karena jasanya yang telah mengabarkan informasi dari sayembara di atas yang telah membuat dirinya sukses dan naik derajat. Namun Ki Tepus Rumput tak lagi menemukan Ki Kantharaga, oleh karena itu untuk mengenang pertemuannya dengan Ki Kantharaga maka lokasi pertemuan tersebut dibuat sebuah tetenger/petilasan untuk mengingat.

Berdasarkan kajian dari Tim Ahli Cagar Budaya (TACB) Kabupaten Purbalingga struktur ini lebih tepat disebut sebagai petilasan, daripada arca. Kajian arkeologis batu dalam struktur ini merupakan murni bentukan alam. Sebab tidak ada tanda-tanda bekas pemangkasan ataupun pahatan. Namun demikian batu ini kemudian (diduga) ditata/disusun oleh manusia.

Mengenai pertanggalan penyusunan batu tersebut, jika mengikuti folklore dan Babad Onje yang ada maka merujuk pada garis waktu masa pemerintahan Sultan Pajang Hadiwijaya (Jaka Tingkir) yakni sekitar pertengahan abad 16 Masehi. Dengan kata lain berada dalam babak Sejarah Kesultanan Islam. Namun secara ilmiah belum diketahui jelas kapan dilakukan. Sisi lain, para arkeolog juga menilai babak Sejarah Kesultanan Islam ini ditandai tidak dipopulerkan lagi adanya pembuatan arca atau patung-patung karena di pandang sebagai unsur berhala yang ditolak dalam ajaran Islam. Sementara jika dikaitkan dengan babak klasik, batu-batu ini pun juga tidak memberikan corak dewa atau simbol tertentu agama Hindu maupun Budha. Namun karena telah adanya intervensi kebudayaan manusia untuk menyusunnya dan (menyebabkan) bernilai sacral, maka struktur ini dapat ditetapkan sebagai Cagar Budaya.