Taman Sukasada

  • Situs Taman Ujung

  • Lokasi Taman Sukasada, Sekitar Tahun 1910-1942

  • Lokasi Taman Sukasada, sekitar Tahun 1915-1935

  • Bangunan Utama yang Terdapat pada Lokasi Taman Soekasada

  • Bale Kanopi di Balai Pemereman

  • Motif Hias Singa Bersayap Pada Dinding Balai Kapal

  • Balai Kanopi di Balai Gili

  • Jembatan di Balai Gili

  • Umpak di Balai Gili

  • Jendela di Atas Pintu Pada Balai Pemereman

  • Balai Bundar

  • Balai Warak

NO REGNAS RNCB.20180503.04.001497
SK Penetapan

SK Bupati No302/HK/2018

Peringkat Cagar Budaya Kabupaten
Kategori Cagar Budaya Situs
Kabupaten/Kota Kabupaten Karang Asem
Provinsi Bali
Nama Pemilik Puri Karangasem
Nama Pengelola Badan Pengelola Sukasada Ujung

Pada tahun 1908 setelah invansi Belanda di Karangasem, beberapa raja memperoleh status sebagai bupati yang berada di bawah pemerintahan kolonial yang baru.
Raja Karangasem Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem adalah raja terakhir yang memerintah wilayah Bali Timur. Ia memerintah dari tahun 1909 sampai dengan tahun 1945.Beliau dikenal sebagai raja yang memiliki nilai budaya yang tinggi.
Pada tahun 1909 dibangunlah Taman Ujung yang diprakarsai oleh Raja Anak Agung Anglurah Ketut Karangasem. Ia melibatkan arsitek Belanda yang bernama van Den Hentz dan arsitek Cina bernama Loto Ang. Selain dari arsitektur asing, pembangunan taman ini juga melibatkan arsitektur tradisional yaitu undagi. Pembangunan ini juga mendapat petunjuk dari Mr Wardodjojo yang merupakan seorang teknisi dari Dinas Pekerjaan Umum. Taman ini merupakan pengembangan Kolam Dirah yang telah dibangun lebih awal yaitu tahun 1901.
Pengembangan istana ini dimulai tahun 1919 dan rampung pada tahun 1925. Namun upacara pembukaannya dilaksanakan pada tahun 1921 yaitu pada masa pemerintahan Raja I Gusti Bagus Jelantik. Beliau membuat perencanaan sekaligus pembangunannya.
Taman ini sempat mengalami kerusakan akibat pengusaan Jepang di daerah tersebut. Pagar besi taman tersebut dijadikan alat untuk melawan Jepang. Selain itu, pada tahun 1963 taman ini mengalami letusan dan gempa dari Gunung Agung sehingga keindahan Taman Ujung Karangasem sempat tidak terlihat.
Pada tahun 1976 terjadi lagi gempa yang mengakibatkan rusaknya taman ini. Gempa ini diakibatkan oleh Gempa Seririt.
Pada tahun 1978 terjadi gempa bumi kembali yang menimpa Taman Sukasada. Gempa Bumi Culik menjadi bencana alam ketiga yang merusak keindahan Taman Ujung Sukasada.
Baru pada tahun 2000 perbaikan dilakukan pemerintah Karangasem pada Taman Sukasada tanpa melakukan perubahan bentuk asli bangunan yang dulunya peristirahatan raja Karangasem tersebut. Perbaikan dan konservasi ini bisa dilakukan karena bantuan Bank Dunia.
Saat ini, taman tersebut terus dirawat sebagai tempat objek wisata dan lainnya karena Taman Sukasada Ujung merupakan Objek Daya Tarik Wisata (ODTV) menurut Peraturan Daerah Kabupaten Karangasem No. 7 Tahun 2003 tentang Rencana Detail Teknis Ruang (RDTR).
Setelah ditempa bencana alam akhinrnya pada tanggal 7 Juli 2004 taman ini diresmikan kembali sebagai sarana pariwisata. Peresmian dilakukan melalui acara melaspas yaitu upacara peresmian secara adat dan agama Hindu oleh beberapa tokoh puri dan masyarakat. Pembukaan secara resmi dilakukan oleh Gubernur Propinsi Bali.
Riwayat Penanganan
Pada tahun 1994 pemerintah melalui Suaka Peninggalan Sejarah dan Purbakala Gianyar melakukan investagasi dengan cara mengindentifikasi dan merekam seluruh tingkat kerusakan bangunannya.
Tahun 1999, Bank Dunia memberikan perhatian melalui Culture Heritage Conservation (di bawah naungan Dinas Kebudayaan Propinsi Bali) untuk melakukan studi konservasi.
Pada 2001 Balai Pelestarian Peninggalan Purbakala Gianyar (BP3) berhasil memugar kembali dua kanopi yang menghubungkan dengan Bale Gili serta membuat copy dari beberapa relief wayang yang menjadi reruntuhan termasuk juga membuat peta situasi dari taman tersebut.
Akhirnya pada tahun 2002 Bank Dunia memberikan bantuan dana untuk pemugaran Taman Ujung yang dimanfaatkan untuk pembangunan pagar keliling, pintu gerbang serta perbaikan kolam.
Pada tahun 2003 dengan bantuan yang sama dilakukan perbaikan di Bale Warak, Bale Gili, Bale Kambang, Bale Lanjuk, Bale Kapal, dan lainnya.
Pengerjaan konservasi dapat diselesaikan pada bulan Mei 2004 dengan menghabiskan keseluruhan dana bantuan sebesar 10 milyar rupiah.