OBJEK BARU TERDAFTAR

Informasi

Objek ini baru saja terdaftar pada sistem dan masih dalam proses verifikasi dan kajian untuk menentukan apakah termasuk cagar budaya atau tidak.

  • Rumah Adat Lobo

  • Rumah Adat Lobo

Rumah Adat Lobo

  • Tanggal Daftar : 06 September 2018
  • Kategori : Bangunan
  • Kabupaten/Kota : Kabupaten Sigi
  • Provinsi : Sulawesi Tengah
  • Nama Pemilik : Masyarakat Adat
  • Nama Pengelola : Masyarakat Adat
  • Status Objek : Lolos Verifikasi, dalam Tahap Kajian dan Penilaian Tim Ahli

Rumah adat ini terdapat dipinggir jalan utama desa
Toro.Secara konstruksi bangunan ini terbuat dari kayu dengan ukuran luas 8 x 12 meter dengan denah empat persegi. Dan memiliki tangga pada bagian depan dan belakang bangunan.Sistem pemasangan kayu yang digunakan yaitu sistemknock downyang antara kayu satu dengan kayu lainnya hanya diikat dengan menggunakan tali rotan hingga bisa dibongkar pasang, dan tiap penghubungnya digunakan system cathokan (purus) dan kait serta beberapa tiang menggunakan system pasak, secara umum bangunan ini tidak menggunakan paku sebagai penyambungnya. Secara struktur, bangunan ini seperti dengan bangunan tradisional kayu pada umumnya, yaitu memiliki tiga komponen anatomi bangunan. Yaitu Upper Structure (Struktur Atas), Super Structure (Struktur Tengah), Sub Structure (Struktur Bawah). Struktur atas terdiri atas Atap bangunan terbuat dari atap sirap kayu
dan bagian puncaknya dari daun aren dan ijuk.Atap sirap tersebut disanggah dengan kontruksi rangka atap yang terbuat dari kayu langka (Pandan Hutan) yang diraut tipis dan dipasang melintang.Kemudian ditopang oleh kuda-kuda
atap terbuat dari kayu bulat berdiameter 10-15 cm. Struktur tengah merupakan bagian dinding dan lantai
bangunan.Dinding bangunan merupakan model terbuka,dinding tersusun dari kayu papan yang hanya menutup separuh bagian tengah dan dinding tersebut digunakan sebagai sandaran tempat duduk dan selebihnya dibiarkan terbuka. Pada bagian dalam bangunan dibiarkan kosong hanya lantai bangunan dari papan kayu entorode yang diletak tanpa dipaku maupun diikat.Lantai tersebut dikelilingitempat duduk (keempat sisi bangunan bagian dalam) dengan tinggi sekitar 80 cm dari lantai yang tersusun dari kayu.Bagian yang diduduki (lantai tempat duduk) terbuat dari kulit pohon uranga (sejenis pohon palm). Secara umum bagian tengah ini terdiri dari dua terap, terap bawah adalah lantai dan terap atas adalah tempat duduk. Selain itu terdapat kontruksi tengah berupa tiang bangunan terbuat dari kayu bulat berjumlah 13 buah, 3 buah tiang berfungsi sebagai tiang pancang, dan sisanya sebagai penyangga atap dan lantai. Struktur Bawah, berupa kaki-kaki bangunan yang terdiri dari dua kontruksi yaitu pondasi batu (umpak) dan pondasi kayu. Umpak batu merupakan batu monolit berbentuk pipih yang tertanam didalam tanah dengan bentuk meruncing keatas.Jumlah umpak yang tertanam adalah sebanyak 9 pasang.Dengan posisi simetris membentuk pola persegi panjang sebagai penahan struktur kayu diatasnya.Struktur kayu bagian atas memiliki
susunan saling mnindih mengikuti pola umpak dibawahnya.Susunan saling menindih kayu tersebut berjumlah 5 susun dengan susunan saling menyilang
sesuai dengan urutan ukuran diameter dari besar hingga kecil.Kemudian diakhiri kayu bulat melintang sebagai bagian penyangga lantai dari bangunan tradisional tersebut.